Seru, Seram, Mancing Buaya di TMII

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Pertunjukkan mancing buaya menjadi atraksi favorit pengunjung Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptil Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pengunjung terlihat antusias, silih berganti untuk memancing buaya dengan sebuah kail dan potongan kepala ayam, yang digunakan sebagai umpan.

“Seru, seram dan kocak buayanya pas matok kepala ayam. Itu buaya loncat rebutan kepala ayam,” kata Raka, kepada Cendana News, Minggu (13/1/2019).

Saat memancing buaya, Raka didampingi kedua orang tuanya. Mereka mengaku, destinasi wisata ini menjadi wahana favorit, karena ada atraksi mancing buaya.

“Kalau jalan-jalan ke TMII, saya selalu ngajak ayah untuk mancing buaya di Museum Komodo dan Taman Reptil ini. Kita ngantiin mancingnya, nggak takut malah seru,” ujar siswa kelas 3 SD Angkasa X, Jakarta Timur.

Kepala Unit Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptil TMII, Fitriana. Foto: Sri Sugiarti

Begitu juga dengan Rizky Antariksa. Ia memancing buaya dengan didampingi orang tuanya. “Itu buayanya mangap, giginya serem banget, mau makan kepala ayam,” teriak Rizky.

Rika, Sang Mama yang memegang pancingan berbahan bambu itu terlihat tegang. Pancingan pun terus ditarik ulur, hingga akhirnya buaya muara itu berhasil mengigit kepala ayam.

“Iya, pancingan kepala ayamnya disantap buaya. Ngeri, ya giginya tajam, cepat banget makannya,” ujar Rika, warga Cilincing, Jakarta Utara.

Dia mengaku, wisata ke Taman Reptil ini merupakan permintaan anaknya untuk melihat ragam jenis reptil dan juga komodo.

“Rizky minta ke sini. Ini kan wahana konservasi hewan. Pokoknya TMII lengkap deh, ada budaya dan pengenalan flora dan fauna,” ujarnya.

Kepala Unit Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptil TMII, Fitriana, mengatakan, wahana konservasi ini banyak dikunjungi wisatawan. Selain berbagai jenis reptil, baik hidup maupun replika, ada pula education time dan mancing buaya yang menjadi daya tarik  pengunjung.

“Adanya pertunjukan mancing buaya ini  menjadikan Museum Komodo dan Taman Reptil menjadi wahana unggulan. Banyak pengunjung yang berminat mancing buaya,” ujar Fitri kepada Cendana News.

Dalam mancing buaya, jelas dia, pengunjung dapat mencoba memancing seekor buaya dengan sebuah kail dan potongan kepala ayam, yang digunakan sebagai umpan.

Pengunjung tidak perlu cemas dengan keamanannya. Karena ada seorang petugas yang akan memberikan panduan kepada pengunjung yang berminat memancing buaya.

Memancing buaya ini, jelas dia lagi, sangat aman dilakukan karena buaya terletak jauh di bawah. Sedangkan pengunjung yang memancing berada di atas, dan juga terdapat pembatas berupa kaca bening yang kokoh.

“Mancing buaya ini, sangat aman, ya. Karena ada pemandunya, ada pembatas yang kokoh,” tandasnya.

Lebih lanjut disampaikan, kail yang digunakan pengunjung juga aman dan berbahan dari kabel besi, lalu kailnya terbuat dari pelepah pisang, sehingga saat ditarik oleh buaya, tidak melukai mulut buaya. Jika kail itu pun termakan buaya, maka tetap aman.

Atraksi mancing buaya ditampilkan, karena buaya terkenal ganas dan liar. Tapi dengan berpikir menyajikan hiburan memancing buaya ini, tujuannya untuk edukasi bagi pengunjung.

Menurutnya, ada dua jenis buaya yang digunakan untuk mancing buaya. Yaitu, buaya muara dan buaya sumpit atau buaya sinyulong. Buaya muara ini terdapat di seluruh perairan Indonesia. Sedangkan buaya sumpit hanya ada di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Namun, kebanyakan buaya sumpit ini ada di Sungai Musi.

Buaya-buaya yang tampil di destinasi wisata ini merupakan buaya yang sudah terlatih. Namun memang tidak jinak, karena buaya ini merupakan hewan liar yang bisa menyerang siapa saja.

Namun buaya yang ada di Taman Reptil ini  aman bagi pengunjung,. karena sarana dan prasarana serta prosedur yang ada, aman bagi pengunjung. Seperti buaya sudah terlatih. Ini buayanya sudah tahu kapan akan makan, jadwal makannya kapan.

“Kalau ada orang ngasih alat itu, buaya harus ngapain. Jadi buaya itu memang sudah ngerti, sudah dilatih. Tapi bukan berarti buaya sudah jinak, jadi kalau dipegang, ya nggak boleh,” tukasnya.

Dijelaskan lagi, pertumbuhan buaya muara lebih cepat dari buaya sumpit. Nafsu makan buaya muara juga lebih tinggi, sehingga berat badannya lebih berat dari buaya sumpit.

Buaya muara itu beratnya 200 kilogram lebih per ekor, panjangnya lima meter. Usia buaya untuk mancing ini, termasuk golongan usia dewasa.

Lihat juga...