Sinergitas Warga Sunyalangu Bangun Potensi Ekonomi Wisata

Editor: Koko Triarko

418

BANYUMAS – Di tengah sejuknya udara dan semilir angin, terhidang sepiring rica-rica Entog lengkap dengan mendoan (tempe goreng) dan aneka sayuran khas pedesaan, dan segelas kopi khas, Sonya. Nikmatnya sudah terbayang.

Suasana dan hidangan tersebut bisa dinikmati saat kita berkunjung ke Kampung Entog, di Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Mungkin hidangan serupa bisa dijumpai di tempat lain, namun suasana sejuk pedesaan hanya ada di Sunyalangu.

Kades Sunyalangu, Tolhah Mansyur -Foto: Hermiana E Effendi

Tak hanya itu, Kampung Entog yang berdiri di tanah milik desa seluas 25 ubin tersebut, merupakan bukti kerja keras dan sinergitas masyarakat desa, dengan Karang Taruna dan pihak desa, untuk mengangkat  potensi wisata di desanya.

Kades Sunyalangu, Tolhah Mansyur, menjelaskan, Kampung Entog berdiri berlandaskan keinginan warga desa untuk mengembangkan wisata di desa tersebut.

Sinergitas terlihat dari pola pengelolaannya. Warga desa yang berternak Entog menitipkan Entog-entog yang sudah siap potong di Kampung Entog. Sebagai gantinya, mereka membawa pulang bibit Entog yang masih kecil untuk dipelihara di rumah. Saat sudah besar, kembali dibawa ke Kampung Entog dan seterusnya.

Desa Sunyalangu terus berbenah menuju desa wisata. Potensi di desa tersebut sangat mendukung, dikelilingi pegunungan dan merupakan salah satu kawasan penyangga daerah wisata Baturaden.

Di desa tersebut, juga terdapat 600 hektare hutan rakyat. Saat ini sebagian dimanfaatkan warga untuk budi daya tanaman kopi. Untuk memberikan aroma dan rasa khas pada produk kopi Sonya, di sekeliling tanaman kopi ditanam buah Nanas.

Potensi wisata di Sunyalangu juga berlimpah. Ada Curug Dadap, Munggangsari dan Bukit Gadog. Bukit Gadog dikenal sebagai bukit sejuta bintang, karena menawarkan pemandangan yang sangat indah. Bukit ini terletak di Grumbul Cibun, Desa Sunyalangu.

Saat ini, juga tersedia area camping yang dilengkapi dengan sarana umum. Warga menyebut tiga lokasi wisata itu sebagai segitiga emas yang mendongkrak perekonomian warga desa.

Sunyalangu juga tengah merintis paket wisata dari mulai makan di Kampung Entog, kemudian wisata ke Curug Dadap, Munggangsari dan Bukit Gadog.

ʺJadi, wisatawan kita arahkan untuk mengunjungi Curug Dadap dan Bukit Gadog, setelah itu singgah di Kampung Entog. Ini menjadi paket wisata alam yang sangat diminati,ʺ jelas Tolhah Mansyur, Kades setempat, Minggu (6/1/2019).

Ketua Karang Taruna Sunyalangu, Khoerudin, mengatakan, ada peningkatan kunjungan wisata yang cukup signifikan setelah Kampung Entog dibuka, terutama dari kalangan komunitas. Seperti komunitas gowes sepeda gunung, para petani gula kelapa dari Yogyakarta, Cilacap, Purbalingga dan acara-acara reunian.

ʺKemarin waktu habis lebaran, kita sampai kewalahan melayani pesanan untuk reuni, begitu pula saat libur panjang atau pun libur akhir pekan,ʺ kata Khoerudin.

Geliat ekonomi mulai dirasakan warga desa, seiring dengan banyaknya kunjungan wisata. Maka, dilandasi keinginan memajukan desa, karang taruna dan pihak desa saat ini sedang membangun Gubugan Angkruk Logawa.

Kampung Entog Sonyalangu -Foto: Hermiana E Effendi

Tempat makan yang dilengkapi dengan sarana pendidikan pertanian bagi anak-anak, seperti bercocok tanam dan beternak, area camping dan dilengkapi dapur umum.

Gubugan Angkruk Logawa ini lebih luas dari Kampung Entog, berdiri di tanah desa seluas satu hektare. Nanti disuguhkan hidangan tradisional seperti nasi takir, kemudian area pertanian terpadu untuk belajar bagi anak-anak, pertanian organik.

“Pengunjung bisa memetik dan memasak langsung sendiri, karena disediakan dapur umum juga. Intinya, kita ingin mengenalkan pertanian kepada generasi milenia supaya tertarik dan mau terjun di pertanian,ʺ cerita Khoerudin.

Gubugan Angkruk Logawa sudah mulai dibanjiri pesanan. Ambisi warga desa untuk memajukan desa dan ekonomi warganya, ditopang semangat gotong-royong dan saling berbagi, menjadi modal dasar dibangunnya Kampung Entog maupun Gubugan Angkruk Logawa.

Sampai saat ini, modal pendirian gubugan hanya dari investasi warga desa, kaum muda berinvestasi tenaga untuk membangun dan warga yang mampu dengan senang hati iuran untuk membeli material bangunan. Mereka bahu-membahu menuju desa wisata yang bisa menopang perekonomian warga.

Baca Juga
Lihat juga...