Siswa di Kunjir Mulai Sekolah

Editor: Mahadeva

166

LAMPUNG – Dua pekan usai libur sekolah, sekaligus diterjang tsunami pada Sabtu (22/12/2018) silam, siswa Sekolah Dasar (SD) di Pesisir Rajabasa, Lampung Selatan, Senin (7/1/2019), kembali bersekolah.

Ratusan siswa SDN 1 Kunjir dan SDN 2 Kunjir, dua sekolah yang diterjang tsunami, menjadikan Senin (7/1/2019), sebagai hari pertama sekolah. Memasuki semester genap tahun ajaran 2018/2019, kedua sekolah terpaksa merger atau bergabung. Aktivitas sekolah digabung di SDN 1 Kunjir, yang mengalami kerusakan ringan. Sementara bangungan SDN 2 Kunjir rusak berat dan sudah tidak layak digunakan.

Haeruddin, Kepala Sekolah SDN 1 Kunjir Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Haeruddin, Kepala SDN 1 Kunjir menyebut, saat kejadian tsunami sekolah yang dipimpinnya mengalami kerusakan pada satu lokal bangunan yaitu, pagar sekolah. Meski demikian, ia menyebut sejumlah siswa, yang berada di rumah orangtua saat tsunami menerjang, menjadi korban. Satu siswa bernama Putra, yang duduk di kelas 2 SD menjadi korban meninggal karena bencana tersebut. Sementara, siswa lain mengalami kerusakan tempat tinggal, seragam dan alat tulis hilang.

Terjangan tsunami menimpa rumah lima orang guru sekolah tersebut. “Hari pertama sekolah semua guru dan siswa dari dua sekolah sementara dikumpulkan di SDN 1 Kunjir, kami belum melakukan kegiatan belajar mengajar, terlebih beberapa siswa dan guru tidak memiliki seragam dan peralatan sekolah hilang,” terang Haeruddin, saat ditemui Cendana News, Senin (7/1/2019).

Jumlah siswa SDN 1 Kunjir ada 145 orang. Jumlah guru dan kepala sekolah ada 10 orang. Sementara, siswa SDN 2 Kunjir berjumlah 86 orang, dengan jumlah guru 11 orang termasuk kepala sekolah. Sesuai keputusan Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan, kegiatan belajar mengajar sementara dijadikan satu.

Haeruddin menyebut, saat ini sekolah sudah menginventarisasi kerusakan yang dialami. Termasuk sudah mendata wali murid dan siswa terdampak tsunami, yang sebagian kehilangan seragam sekolah dan alat tulis. Pada hari pertama masuk sekolah, sebagian siswa datang tidak mengenakan seragam, beberapa diantaranya datang mengenakan kaos. Kondisi tersebut tidak akan dipersoalkan, hingga para siswa memiliki seragam sekolah dan peralatan tulis dari bantuan donatur.

“Kami juga sedang mengatur ruangan yang nantinya akan digunakan untuk belajar mengajar dua sekolah yang disatukan, sembari menunggu adanya bangunan baru,” beber Haeruddin.

Haeruddin menyebut, sejumlah bantuan telah diperoleh sekolah. Bantuan kebutuhan pokok, diberikan kepada siswa dan orangtua selama masa tanggap darurat tahap pertama hingga tahap kedua. Sejumlah relawan dan personil TNI, dari sejumlah kesatuan di wilayah Komando Resor Militer (Korem) 043 Garuda Hitam, dikerahkan membersihkan area sekolah termasuk perbaikan sejumlah ruang kelas.

Sejumlah fasilitas yang rusak, disebut Haeruddin, masih dibiarkan dan belum diperbaiki. Meja belajar dan ruang kelas yang rusak, sebagian diperbaiki oleh anggota TNI dari Kodim 0410 Bandarlampung. Proses belajar mengajar, secara efektif baru akan dilakukan setelah proses pembagian kelas bisa dilakukan pada Rabu (9/1/2019).

Hari pertama masuk sekolah, sejumlah orangtua yang didominasi para ibu, terlihat mengantar anaknya untuk bersekolah. Ida Rosidah, salah satu ibu dari dua siswa duduk di kelas 1 dan 6 sekolah setempat, mengantar anaknya dan menungguinya anaknya sekolah sampai waktu pulang. Dua anaknya Rosidah masih belum mengenakan seragam, karena seragam yang dimiliki rusak terbawa tsunami. Selama dua pekan ini, Rosidah masih mengungsi di Desa Cugung. Rumah yang membuat Dia dan warga lain belum berani kembali ke rumah.

Masyarakat dan anggota TNI Kodim 0410 Bandarlampung melakukan pembenahan pada ruang kelas yang rusak akibat tsunami – Foto Henk Widi

Beruntung, sekolah tempat anaknya belajar hanya mengalami kerusakan ringan, bila dibandingkan dengan SDN 2 Kunjir, yang mengalami rusak berat dan tidak bisa digunakan lagi. Ia menyebut, proses belajar mengajar di sekolah anaknya diharapkan bisa segera berjalan dengan normal kembali. “Anak saya masih trauma pascatsunami dan tidak nyaman di pengungsian, semoga dengan bertemu kawan-kawannya, bisa terhibur dan bisa kembali belajar kembali,” papar Rosidah.

Salah satu siswa, Satria, yang duduk di bangku kelas 1 SDN 1 Kunjir, mengaku belum memiliki seragam sekolah. Anak yang tinggal di dekat pantai tersebut, juga menjadi salah satu korban terjangan tsunami. Ia masih mengalami luka di bagian kepala, dan harus mendapatkan jahitan. Hari pertama masuk sekolah, Dia mengaku bisa berkumpul bersama dengan kawan-kawan lain, yang rumahnya di Kunjir juga terimbas tsunami.

Baca Juga
Lihat juga...