Soeharto, Sosok Pemimpin yang Visioner dalam Teknologi

Editor: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Teknologi ternyata sudah menjadi perhatian Presiden Kedua RI, Soeharto, sejak lama. Pemikiran Soeharto yang visioner tentang teknologi ini diwujudkan dengan pembuatan pesawat pada era kepemimpinanya, serta dimulainya teknologi merambah ke pedesaan.

Menteri Koperasi pada era Soeharto, Subiakto Tjakrawerdaja mengungkap cerita, bahwa sejak tahun 1997, Soeharto sudah mencanangkan program Desa Cerdas Teknologi. Padahal pada era tersebut, kemajuan teknologi belum sepesat sekarang.

ʺSaya ingat sekali dan sangat terkesan, waktu itu saya masih menjadi menteri koperasi, saya bertemu Pak Habibie dan berdiskusi lama. Diskusi kami dimulai dari pembuatan pesawat hingga berujung pada usulan untuk membangun ekonomi rakyat pedesaan.

Pak Habibie setuju dan langsung disampaikan ke Pak Harto, kemudian turun surat dari Pak Harto agar saya selaku menteri koperasi, mengkoordinasikan pola pembangunan desa. Surat perintah dari beliau masih saya simpan sampai sekarang,ʺ cerita Subiakto, Kamis (10/1/2019) di sela-sela kunjungan ke Banyumas.

Menurut Subiakto, pada saat itu, Presiden Soeharto mempunyai pemikiran, bahwa pembuatan pesawat bukan hanya agar bangsa ini menguasai teknologi, tetapi lebih untuk memotivasi rakyat Indonesia supaya menguasai teknologi. Sehingga teknologi tidak hanya dikuasai segelintir orang, namun menyentuh sampai ke pedesaan.

Hal ini dibuktikan dengan dimulainya era teknologi pertanian. Sebagai negara agraris, pertanian mendapat perhatian penuh dari Presiden Soeharto. Para petani harus melek teknologi, sehingga bisa memproduksi hasil pertanian yang maksimal.

ʺTahun 1997, pada saat peringatan Hari Koperasi ke-50, Pak Harto mencanangkan Desa Cerdas Teknologi. Saat itu pula dimulai teknologi merambah ke desa-desa. Rakyat harus menguasai teknologi, begitu selalu pesan beliau,ʺ kenang Subiakto.

Selain visioner, Soeharto juga dikenang sebagai sosok pemimpin yang bertanggung jawab dan ngayomi terhadap bawahan. Tentang pola kepemimpinan Soeharto ini, Subiakto berkisah, setiap kali akan mengambil suatu kebijakan yang menyangkut nasib rakyat, Soeharto selalu meminta masukan kepada para menteri. Beliau sangat terbuka dan mau menerima semua masukan.

Namun, setelah diambil keputusan, maka sikap tegas beliau yang mendominasi. Bahwa, semua menteri harus menerima dan melaksanakan keputusan tersebut. Dan saat di kemudian hari, ada dampak dari kebijakan yang di luar harapan, maka Pak Harto tidak akan menyalahkan para menteri. Beliau dengan berani mengatakan, bahwa hal tersebut merupakan kesalahannya sendiri.

ʺBisa jadi beliau memarahi para menteri, tetapi di depan publik, dengan mantap dan tanpa ragu, beliau menyatakan hal tersebut sebagai kesalahannya. Itulah sikap bertanggung jawab dan ngayomi dari seorang pemimpin, tidak main lempar kesalahan kepada anak buah,ʺ tuturnya.

Saat ini, meskipun Pak Harto sudah tidak ada, namun melalui Yayasan Damandiri, Subiakto bertekad untuk meneruskan cita-cita Pak Harto dalam membantu warga tidak mampu. Dari yayasan yang didirikan tahun 1996 ini, sudah membantu 11 juta rakyat miskin melalui berbagai program yayasan.

Lihat juga...