Suka dan Duka Para Pedagang di Sekitar JTTS

Editor: Satmoko Budi Santoso

187

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) sempat kelimpungan selama Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dioperasikan.

Hasan,  salah satu pemilik usaha warung makan di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut, kendaraan yang melintas di Jalinsum sepi selama angkutan Natal dan Tahun Baru sejak 22 Desember 2018 hingga 2 Januari 2019.

Imbasnya selain Jalinsum sepi, usaha warung makan miliknya juga sepi pembeli karena semua kendaraan jenis bus, truk, kendaraan pribadi melewati jalan tol.

Dioperasikannya jalan tol trans Sumatera ruas Bakauheni-Terbanggibesar (Bakter) sepanjang 140,9 kilometer selama angkutan Nataru cukup berpengaruh. Pada kondisi normal dalam sehari Hasan mengaku mendapatkan omzet dari pengendara yang melintas hingga Rp3 juta per hari.

Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakauheni Terbanggibesar dioperasikan pada sejumlah paket dan kembali ditutup pasca angkutan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 – Foto Henk Widi

Selama JTTS dioperasikan ia menyebut, hanya mendapatkan omzet sekitar Rp1,5 juta per hari. Masyarakat disebutnya memilih melintas di jalan tol setelah keluar dari kapal dan langsung menuju ke jalan tol, keluar di gerbang tol Kotabaru untuk ke kota Bandarlampung atau keluar di Bandarjaya saat akan menuju ke Palembang.

“Cukup terasa penurunan omzet dan pembeli hanya masyarakat yang masih menggunakan akses Jalinsum, pelanggan pemilik truk yang masih memiliki relasi dengan rumah makan. Setelah itu masuk ke jalan tol melalui gerbang tol Bakauheni Utara,” terang Hasan, salah satu pemilik warung di Desa Hatta, saat ditemui Cendana News, Jumat (4/1/2019).

Hasan juga menyebut meski sementara ditutup untuk penyempurnaan di paket dua hingga paket empat, saat semua fasilitas selesai, Jalinsum dipastikan akan kembali sepi. Hasan yang memiliki warung makan sederhana mengaku, penutupan tol tersebut hanya bersifat sementara untuk melengkapi fasilitas lampu jalan, rest area, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) serta fasilitas lain. Ia mengaku harus pasrah jika jalan tol ruas Bakter memasuki tahap fungsional menyeluruh.

Penghentian sementara operasi JTTS oleh pengelola jalan tol ruas Bakter juga disyukuri oleh Sumino, salah satu pedagang durian.

Pedagang durian di Jalinsum Desa Banjarmasin diakuinya sempat susah mendapatkan pembeli karena selama arus liburan Nataru semua kendaraan pribadi memilih melintas di jalan tol. Sebagai pedagang durian musiman, Sumino bahkan hanya mengandalkan pengendara roda dua, bus, kendaraan pribadi dan truk yang masih menggunakan Jalinsum menuju pelabuhan Bakauheni.

Bertepatan dengan puncak masa panen durian, Sumino mengaku, sebagian warga mengadu nasib menjadi pedagang durian dadakan. Pada sepanjang Jalinsum mulai dari Kalianda hingga Bakauheni saja ia mengaku ada ratusan pedagang buah durian.

Dibandingkan tahun sebelumnya tingkat penjualan buah durian menurun selama JTTS dioperasikan. Kondisi tersebut diakuinya berlangsung hampir selama dua pekan pada angkutan Nataru hingga jalan tol kembali ditutup untuk paket dua hingga paket empat.

“Saat jalan tol ditutup pada sejumlah paket, pedagang durian bisa bernapas lega karena banyak pengendara tujuan Jakarta membeli oleh oleh durian di tempat kami,” beber Sumino.

Sumino mengaku, menjual durian hasil kebun di wilayah kaki Gunung Rajabasa dengan harga bervariasi. Durian ukuran kecil per gandeng dengan isi dua buah dijual mulai harga Rp35.000, ukuran sedang Rp50.000 per gandeng hingga ukuran besar Rp80.000 per gandeng.

Sejumlah pengendara yang merupakan warga Jakarta, Tangerang mengaku membeli durian dalam jumlah banyak sebagai oleh oleh. Kondisi tersebut diakuinya karena jalan tol ditutup sementara waktu sehingga pengendara melintas menggunakan Jalinsum.

Sistem buka tutup pengoperasian JTTS tersebut berdasarkan catatan Cendana News dilakukan pada angkutan Lebaran Idul Fitri pada bulan Juli 2018. Pada angkutan lebaran pengoperasian JTTS dilakukan pada seksi I Bakauheni sepanjang 9 kilometer dan seksi V Lematang Kotabaru sepanjang 5,2 kilometer.

Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT. Hutama Karya ruas Bakter Lampung menyebut, pengoperasian dilakukan untuk menghindari kemacetan di Jalinsum.

Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT. Hutama Karya ruas Bakauheni Terbanggibesar Lampung – Foto Henk Widi

“Setelah angkutan Natal dan Tahun Baru berakhir, pengerjaan penyelesaian sejumlah fasilitas dilanjutkan sehingga operasional tol sementara ditutup,” terang Hanung Hanindito.

Jalan Tol Trans Sumatera ruas Bakter disebutnya masih dalam tahap penyelesaian di sejumlah titik. Pengerjaan tersebut diakuinya dilakukan oleh PT. Pembangunan Perumahan, PT. Waskita Karya, PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya.

Sejumlah fasilitas yang akan dikerjakan setelah penutupan akses tol untuk kendaraan umum diantaranya pembuatan fasilitas rest area di STA 20 desa Kuripan Kecamatan Penengahan.

Sejumlah fasilitas juga akan dilengkapi hingga seluruh JTTS ruas Bakauheni Terbanggibesar bisa difungsikan sepanjang 140,9 kilometer.

Baca Juga
Lihat juga...