Suka Duka Relawan, Tinggalkan Keluarga Demi Pengungsi Korban Tsunami

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Anak-anak terlihat sibuk mewarnai kertas bergambar. Ada beragam gambar yang diwarnai, mulai dari pemandangan alam, kendaraan, dan satwa. Suasana tersebut terlihat di posko pengungsian lapangan tenis indoor Kalianda, Lampung Selatan. Di lokasi tersebut, ada pengungsi korban tsunami Selat Sunda dari Pulau Sebesi dan Sebuku.

Iin Nurhidayati – Foto Henk Widi

Iin Nurhidayati, salah satu petugas dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lampung Selatan menyebut, sudah bertugas di lapangan tenis indoor sejak sarana tersebut digunakan untuk menampung pengungsi pada Selasa (25/12/2018) lalu. Iin Nurhidayati bersama petugas, dan para pekerja sosial, diperbantukan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Kemensos mendirikan empat lokasi posko pengungsian.

Ada yang bekerja di Dapur Umum Lapangan (Dumlap) di Desa Way Muli, Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa. Kemudian ada posko di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni serta posko di lapangan tenis indoor Kalianda. Salah satu fasilitas yang disiapkan posko Kemensos adalah, Layanan Dukungan Psikososial (LDP).

LDP adalah, program dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, yang dilakukan bersama dengan Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Kegiatannya, menangani anak-anak di pengungsian. “Suka duka pasti ada, sebagai pendamping layanan dukungan psikososial, saya bisa ikut membahagiakan anak anak yang berada di pengungsian, pengungsi anak-anak yang semula sedih serta trauma, mulai kembali bisa beraktivitas dengan normal, meski berada di lokasi pengungsian,” terang Iin Nurhidayati saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (3/1/2019).

Relawan LDP, terdiri dari anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang berasal dari Palembang, Bengkulu, Sumatera Barat, Banten, Bangka Belitung. Termasuk relawan dari beberapa kabupaten kota di Provinsi Lampung.  Pendampingan LDP, juga dilakukan sejumlah komunitas seperti, Pondok Anak Ceria, Kampung Dongeng, serta Komunitas Uncle T Bob.

Iin Nurhidayati menyebut, selama menjadi relawan, Dia harus meninggalkan anaknya yang berusia 10 bulan. Dia menitipkan sang anak kepada sang nenek.  Meski sedih tidak bisa bertemu anak, saat berada di pengungsian Dia bisa bertemu anak-anak yang beberapa diantaranya, masih seusia dengan anaknya. Berdasarkan data, ada sekira 150 anak di pengungsian lapangan tenis indoor Kalianda. “Sebagian besar anak-anak, merupakan pengungsi usia Sekolah Dasar, sebagian masih balita,” beber Iin Nurhidayati.

Kegiatan LDP, digelar setiap hari, pada pagi dan sore. Anak-anak mengalami gangguan kesehatan sekaligus psikologis saat di pengungsian, sehingga harus mendapat dukungan psikososial. Relawan Tagana Lamsel, Hasran Hadi, menyebut, menjadi relawan merupakan tugas mulia. Satu hal yang tidak mengenakkan adalah, harus terpisah dari keluarga selama waktu yang tidak bisa ditentukan.

Tugas relawan Tagana diantaranya menyediakan logistik bagi pengungsi. Makanan siap santap, disediakan di Desa Way Muli, dengan jatah makan siang dan makan malam. 35 personil Tagana Lamsel bertugas dengan sistem shift untuk menyediakan makan. Setiap kali memasak untuk pengungsi, disiapkan 1.500 hingga 2.000 bungkus nasi.

Pada LDP di Desa Way Muli, melibatkan 45 anak-anak. Kawasan Way Muli merupakan wilayah dengan dampak terparah. Di desa tersebut, ada korban meninggal dunia 34 orang, korban luka ringan 262 orang, warga mengungsi 905 orang dan rumah rusak ada 88 rumah.

Dukungan bagi pengungsi diberikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Lampung Timur. Salah satu relawannya, Yuda Bayu Pranata, menyebut, pascatsunami, mahasiswa dari Lampung Timur, ikut menggalang dana bantuan bagi pengungsi. Selain membantu, sebagian mahasiswa juga ikut menjadi relawan menjadi petugas LDP. Layanan dukungan psikososial, dilakukan dengan mengajak berbincang para pengungsi.

Lihat juga...