Tabur Puja Tumbuhkan Semangat Wirausaha Warga Krambilsawit

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

238

YOGYAKARTA — Keberadaan Unit Simpan Pinjam Tabur Puja terbukti mampu menumbuhkan semangat dan gairah baru bagi warga desa Krambilsawit untuk membuka dan mengembangkan usaha. Hal itu terlihat dari antusiasme warga di desa miskin dan terpencil kecamatan Saptosari Gunungkidul ini.

Salah seorang warga, Tujiran asal dusun Sawahmiri, mengaku menyambut baik adanya keberdaan unit Tabur Puja yang merupakan bagian dari program Desa Mandiri Lestari di desa Krambilsawit. Ia menilai, adanya gelontoran modal usaha dari Yayasan Damandiri yang didirikan oleh Presiden kedua Republik Indonesia, HM Soeharto ini sangat menguntungkan warga, khususnya pelaku usaha seperti dirinya.

“Bagus sekali. Saya kemarin sudah mendaftar untuk menjadi anggota nasabah. Rencana saya ingin secepatnya menjadi anggota agar bisa mendapatkan bantuan pinjaman modal,” ujar Tujiran yang merupakan penjual bakso bakar dan batagor ini.

Tujiran mengaku membutuhkan modal usaha untuk mengembangkan usahanya. Yakni berjualan mie ayam. Ia sendiri mengakui akan sulit mewujudkan angan-angan itu, jika tak ada bantuan modal dari pihak lain.

“Ingin pinjam modal untuk buka warung mie ayam di samping sini. Kalau tempatnya sudah ada, tapi masih butuh gerobak meja kursi dan lainnya. Tanpa bantuan pinjaman modal ya susah. Jadi sangat bersyukur ada pinjaman Tabur Puja ini,” katanya.

Tabur Puja
Pembuat arang Taryono asal dusun Sawahmiri Krambilsawit. Foto: Jatmika H Kusmargana
Sementara itu warga lainnya, Taryono, juga mengungkapkan hal serupa. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat arang ini berharap mendapatkan pinjaman modal untuk mengembangkan usahanya.

Pasalnya usaha arang membutuhkan modal cukup besar untuk membeli kayu sebagai bahan baku utama.

“Istri saya sudah pinjam untuk modal jualan di pasar. Kalau saya belum, sebenarnya ya pengen untuk beli kayu bahan bakar,” katanya.

Taryono sendiri setiap hari memproduksi arang untuk dijual ke berbagai daerah di Gunungkidul. Biasanya ia membakar kayu menjadi arang setiap empat hari sekali.

Sekali bakar, ia bisa mendapatkan sebanyak 10 karung arang siap jual. Satu karung arang sendiri ia jual seharga Rp 80ribu.

“Bahan baku kayu untuk arang itu beli borongan. Biasanya satu rit atau satu kol. Semakin banyak mampu membeli kayu semakin untung, asal punya modal saja,” katanya.

Lihat juga...