Tekuni Kerajinan Gamelan, Legiono Sukses Hidupi 15 Karyawan

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Seiring perkembangan zaman, usaha kerajinan pembuatan gamelan saat ini bisa dianggap sebagai usaha yang tidak lagi menjanjikan. Kehidupan modern yang semakin menyisihkan kesenian tradisional semacam karawitan, dianggap menjadi penghambat usaha semacam ini.

Namun, seorang lelaki asal Bantul, membuktikan tetap mampu meraih kesuksesan dengan menekuni usaha kerajinan tradisional pembuatan gamelan.

Lelaki bernama Legiono tersebut bahkan mampu menghidupi keluarga dan 15 orang karyawan dari usaha pembuatan alat musik tradisional Jawa itu.

Bertempat di bengkelnya, di Dusun Baturetno RT 3 RW 1 Banguntapan Bantul, Legiono menjalankan usaha pembuatan perangkat gamelan miliknya. Dibantu 15 karyawan,  setiap hari ia tak henti memproduksi alat musik gamelan pesanan pelanggan seperti Gong, Suwuk, Kempul, Kenong, Bonang, Demong, Saron, Gendang, dan lain-lain.

“Walaupun tidak mesti laku, alhamdulillah pesanan selalu ada. Dalam setahun, ada puluhan set gamelan yang terjual. Biasanya pesanan dari dinas-dinas instansi pemerintah. Mulai dari Aceh, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, bahkan Malaysia dan Singapura,” ujarnya, Selasa (22/1/2019).

Pengusaha pembuatan gamelan, Legiono, asal Banguntapan Bantul – Foto: Jatmika H Kusmargana

Meneruskan usaha milik ayahnya yang dirintis sejak tahun 1954, Legiono mengaku, awalnya tidak menyangka akan menggantungkan hidup dari gamelan.

Sebab sejak kecil hingga remaja ia tidak pernah tertarik dengan perangkat gamelan. Namun tak bisa dipungkiri, instingnya terhadap gamelan secara tidak sadar tumbuh dan mengantarkan dirinya sebagai pengusaha gamelan.

“Meski ayah saya seorang pembuat gamelan, tapi sejak kecil saya tidak pernah menyentuh alat gamelan. Saat remaja saya justru lebih tertarik dengan balapan motor. Setelah dewasa pun saya juga memilih membuka usaha material.

Hingga akhirnya saat bapak saya sakit saya diminta menyetel alat gamelan. Anehnya meski tidak pernah belajar sedikit pun, saya ternyata bisa. Sejak saat itu saya kerap diminta ayah  untuk membantu menyetel gamelan,” tuturnya.

Meski memiliki seorang kakak yang juga berkecimpung di dunia pembuatan gamelan, Legionolah yang akhirnya diminta untuk meneruskan usaha pembuatan kerajinan gemelan milik ayahnya.

Sejak 2013 ia pun mengembangkan usaha ayahnya itu. Ia mengaku, mau meneruskan usaha pembuatan gamelan karena semata-mata ingin melestarikan kesenian tradisional Jawa itu.

“Di sini memang lebih mengutamakan kualitas gamelan yang diproduksi. Yakni fokus membuat gamelan dengan plat besi lipat dan kuningan tempa. Hasilnya jelas beda dengan gamelan yang dibuat dengan cara di las. Selain bunyi lebih bagus, gamelan juga lebih awet,” katanya.

Menjual alat gamelan dengan harga bervariasi mulai dari Rp65 juta hingga Rp300 juta per set, Legiono memasarkan produk hanya dari mulut ke mulut. Hal itu tak lepas karena kepercayaan dari para pelanggan yang telah mengetahui kualitas produk gamelan yang diproduksi.

“Memang saya tidak pasarkan secara online. Hanya gethok tular atau dari mulut ke mulut saja. Karena semua yang paham tentang karawitan, sudah tahu bagaimana kualitas gamelan yang dibuat di sini. Kalau mau gamelan yang kualitas bagus pasti akan pesan ke sini,” katanya.

Untuk mempertahankan kualitas gamelan produksinya, Legiono pun tak mau asal membuat perangkat gamelan dengan harga murah. Sekadar untuk memenangkan tender dari instansi-instansi pemerintah. Ia memilih menunggu pesanan dari tender penunjukan langsung agar gamelan yang diproduksi sesuai dengan standar kualitas bagus.

“Kendalanya ya kalau ada tender, kita mesti kalah di harga. Yang lain bisa kasih harga murah, karena kualitasnya juga kurang. Kalau saya tidak mau kasih harga murah, karena nanti akan menurunkan standar kualitas produk gamelan saya,” katanya.

Kendala lain yang dihadapi perajin pembuatan gamelan seperti Legiono adalah proses pengerjaan yang membutuhkan waktu cukup lama. Pembuatan satu set alat gamelan dari bahan kuningan paling tidak membutuhkan waktu hingga tiga bulan.

Hal itu dikarenakan seluruh proses dikerjakan secara manual dengan cara ditempa.

“Sebenarnya dibuat lebih cepat pun bisa. Tapi nanti akan mempengaruhi kualitas hasil. Maka kalau ada pesanan tender dalam jumlah banyak, biasanya akan saya tolak jika memang tidak mampu. Selain akan mempengaruhi kualitas, jika tidak sesuai waktu yang ditentukan, kita bisa kena denda,” katanya.

Lihat juga...