Tiga Lelaki di Alas Melas

CERPEN NURILLAH ACHMAD

ADA sebuah kisah yang ingin kusampaikan padamu. Tentang leluhur kampung yang melarang seluruh keturunannya keluar dengan alasan apa pun.

Barang siapa melewati dua pohon beringin di dekat mata air, kendati hanya sekadar mencari kayu bakar, ia bukan lagi penduduk Kampung Alas Melas.

Kalau kau mengernyit dahi, mengapa nenek moyang memerintah demikian, itu sebab masa lalu yang pilu. Tersebab masa lampau yang amat suram. Tepatnya, saat sisa-sisa kerajaan diserang kolonial. Ribuan orang dibantai. Sisanya melarikan diri ke pegunungan.

Sekelompok orang di Alas Melas adalah mereka yang memilih melanjutkan hidup di bawah kaki pegunungan yang diberi nama Alas Melas.

Maka, tak heran kalau orang-orang di sini tak mudah menerima kehadiran orang asing. Tersebab perlakuan penjajah yang teramat bengis.

Pun demikian dengan orang luar yang ingin memasuki kampung ini. Bakal diserang dan tak segan-segan dipanah. Bagi mereka, tanah leluhur harus bebas tak terjajah. Tak peduli dia berkulit putih atau bukan, Alas Melas harus dipertahankan.

Apalagi kedatangan orang asing ingin memberi bantuan obat-obatan. Penduduk Alas Melas tak sudi menggunakan. Mereka jauh lebih mempercayai tabib yang memakai obat dari alam disertai doa berisi puja dan puji. Bukankah, penjajah mulanya datang penuh rasa empati?

Kini, kampung ini sunyi senyap. Rumah-rumah berbilik kayu roboh tak beraturan. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Ada di tepi sawah, di jalan, di rumah-rumah bahkan di dekat pohon beringin. Semuanya dipenuhi mayat-mayat yang terserang wabah penyakit.

Awalnya hanya sakit kepala beserta demam. Disusul kaki lemas tak bisa berjalan. Pelan-pelan lumpuh total lalu meninggal.

Begitu cepatnya penyakit ini menular. Anak kecil sampai lansia banyak meregang nyawa. Hanya tiga orang yang tersisa. Salah satunya Jumaji yang kini tubuhnya demam. Sebelumnya dia kehilangan sang istri. Lambat laun kehilangan kelima anaknya. Semuanya sama. Terkena penyakit mematikan ini.

Sanusi tak kalah miris. Cucunya yang baru lahir ikut mati. Sebagai penerus leluhur yang disegani, dia berulang kali merapal mantra. Berbicara dengan penghuni alam sana. Meminta petunjuk tentang penyakit yang diderita. Nyatanya, alam juga tak kunjung menjawab permintaan Sanusi.

Terakhir Randu Agung. Dibanding kedua tetangganya, tubuh lelaki muda ini belum merasa demam. Sebagai lelaki yang mahir memanjat, setiap hari ia memanjat pohon kelapa.

Memetik kelapa muda, diminumnya air degan itu. Katanya, sebagai pencegah. Takut penyakit yang ia lihat di depan mata bakal mendera tubuhnya sendiri.

“Seandainya keluar dari kampung adalah jalan satu-satunya menyelamatkan nyawa, aku akan pergi.”

“Apa yang kau lakukan, Randu?! Tak satu pun boleh keluar dari sini. Apa pun yang terjadi.”

“Semua sudah mati, Wak. Aku kehilangan bapak dan ibu. Apa salahnya aku keluar dan memohon bantuan?”

“Sejengkal saja kakimu melewati pohon beringin, saat itu juga kau bukan penduduk Alas Melas.”

“Haruskah larangan itu berlaku saat kematian semakin nyata datangnya? Wak Sanusi mungkin ikut mati. Tapi, aku tak mau pasrah begini.”

“Randu!” bentak Sanusi. “Tak ingatkah nasihat ibumu yang melarangmu keluar dari sini?”

Randu Agung menatap Sanusi. Bibirnya bergetar mengingat nasihat ibunya sebelum mati. Sebagai seorang ibu, Asiani paham betul anak semata wayangnya ini ingin keluar kampung.

Semenjak Randu Agung bertemu Rustam. Lelaki yang dicap pengkhianat karena melewati pohon beringin. Randu ingin sekali melihat suasana kampung yang diceritakan Rustam.

Sebuah kampung yang katanya tak memiliki tabib seperti mereka. Justru tabib di desa yang diceritakan Rustam amat beda. Tak menggunakan doa-doa, malah racikan obatnya seperti disuntikkan ke pantat si sakit. Orang-orang menyebutnya dokter.

Istilah kelu di bibir Randu. Belum lagi gedung-gedung yang menjulang tinggi. Semua menarik minat Randu Agung untuk segera pergi dari Alas Melas.

“Aku memang tak bisa melarangmu pergi. Tetapi, ingat, Randu. Ada ibumu yang selalu melihatmu dari sana.”

Randu memilih mengupas kelapa. Dipangkasnya ujung batok, lalu dituangkan airnya ke mulut Jumari. Berkali-kali sampai lelaki itu tak lagi kuat minum. Padahal tubuhnya kian menggigil. Kian gemetar. Ujung kakinya pun kehilangan rasa. Tak sakit saat dicubit, tak merasakan apa-apa.

Bertambah hari, sebetulnya bau mayat yang bergelimpangan kian menyengat. Randu dan Sanusi berkali-kali menggali lubang dan membakar tubuh mayat-mayat. Tetapi, tidak untuk kali ini. Rasa-rasanya, mereka berdua tak kuat menarik dan mengumpulkan banyak jenazah.

Apalagi persediaan ketela makin berkurang. Buah juga tak ada di hutan. Semua seakan berhenti. Seakan sengaja membiarkan Kampung Alas Melas serempak mati.

“Aku mau keluar dari sini, Wak,” ulang Randu Agung kembali.

Sambil menggali pohon ketela entah milik siapa, ia mengutarakan keinginanya keluar kampung.

“Aku tak mau mati sia-sia begini.”

Sanusi tak jawab. Kepalanya kian tertunduk memetik ketela. Sepertinya, ini ketela persediaan terakhir. Kalau tak ada, entah apa yang bakal ia makan. Hanya ada dua kemungkinan. Dia mati terserang penyakit atau mati kelaparan. Itu artinya, kematian benar-benar dekat padanya.

“Semua orang di sini paham betul, kalau nasihat ibu adalah wahyu kedua setelah sabda nabi.”

Hanya itu yang diucapkan Sanusi sebelum meninggalkan Randu yang berdiri mematung. Randu Agung menatap punggung Sanusi. Kalau Jumari mati, hanya tersisa Sanusi dan dirinya. Lambat laun hanya menunggu waktu, siapakah di antara mereka yang meninggal terlebih dulu.

Randu tak mau begitu. Selagi tubuhnya sehat meski dalam hati dia ketar-ketir takut wabah penyakit ini diam-diam menyelinap di antara aliran darah dalam tubuhnya. Ia ingin keluar dari Alas Melas. Ia tak mau bertahan di antara mayat-mayat yang busuk.

Sayangnya, Randu tertahan nasihat Asiani. Meski perempuan itu berada di alam lain, nasihatnya adalah titah yang harus dijaga. Kalau tidak, dia menjadi anak durhaka dan Tuhan tak akan pernah membahagiakan hidup seorang anak yang kurang ajar pada orang tua, khususnya sang ibu.

Seburuk-buruknya sikap Randu Agung, dia juga ingin hidup bahagia. Hidup yang diridai Tuhan, Sang Hyang Wenang.

Tetapi, Randu tetaplah Randu. Meski pikirannya berkecamuk, ia tetap memungut ketela-ketela yang tercerabut. Tak banyak, semua hanya berjumlah satu keranjang besar.

Setelah itu, dia membawanya ke hadapan Sanusi. Sebagai jatah makan sehari-hari. Semenjak orang-orang  mati, mereka yang hidup berkumpul di rumah Sanusi. Untuk saling menguatkan. Padahal sebenarnya menunggu giliran malaikat maut mengajak pulang.

“Sesungguhnya, Wak. Kalau aku dicap durhaka, dicap sebagai pembangkang layaknya Rustam, dalam tubuhku masih ada nama ibu dan Alas Melas. Tak sekali pun aku berkeinginan menjadi pengkhianat. Sayangnya, aku tak mau mati sia-sia.”

“Itu juga diucapkan Rustam. Kau ini lelaki, Randu. Tak pantas jadi pengecut. Alas Melas sudah ada ratusan tahun lalu. Setidaknya mati di sini lebih berharga daripada hidup bahagia di tempat lain.”

“Hidup dengan mayat-mayat, begitu? Dengan melihat tubuh-tubuh manusia membusuk, dikerumuni ulat, lalu kita ikut mati? Inikah yang harus dipertahankan, Wak?”

“Randu!” Sanusi hendak menampar, tetapi Randu Agung sigap menahan.

“Jangan salahkan aku kalau aku pergi dengan membawa separuh ketela ini. Aku juga ingin bertahan hidup. Kalau soal ibu dan Alas Melas, aku rasa Tuhan lebih tahu daripada engkau, wahai petuah yang aku hormati.”

Randu menghempas tangan Sanusi amat keras. Kendati tak bermaksud menyakiti, Sanusi tersungkur dengan kepala membentur tiang bambu penyanggah gubuk. Beruntung dia tak mati. Hanya pingsan barang sebentar.

Sesadarnya, ia mendapati Jumari telah meninggal. Tak lagi ada siapa-siapa yang hidup kecuali dirinya sendiri. Bersama kedua pohon beringin yang menggugurkan seluruh dedaunan.

Daun-daun itu pun terbang menutupi semua mayat. Termasuk tubuh Sanusi yang mulai demam, serta kakinya yang pelan-pelan tak bisa lagi digerakkan. ***

Nurillah Achmad, alumni TMI Putri Al Amien Prenduan. Tinggal di Jember, Jawa Timur.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...