Tiket Pesawat Penyumbang Inflasi Terbesar di Sumbar

Editor: Mahadeva

189
Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Barat Sukardi/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat, hingga penghujung 2018, inflasi di daerah tersebut mencapai 0,16 persen. Mahalnya tiket pesawat di penghujung tahun, menjadi pendorong inflasi di Sumbar.

Kepala BPS Sumatera Barat, Sukardi, mengatakan, apabila dihitung dari awal tahun hingga Desember, inflasi di Sumbar sebesar 2,55 persen. Kota Padang dan Bukitinggi, nilai inflasinya sebesar 2,99 persen. Dua kota itu menjadi patokan BPS untuk melihat kondisi inflasi di Sumbar. Melihat menjelang akhir 2018, di Kota Padang terjadi peningkatan tarif angkutan udara, bawang merah dan daging ayam ras. Namun, angkutan udara adalah penyumbang inflasi terbesar.

“Angkutan udara penyumbang inflasi, dengan kenaikan harga sebesar 26,19 persen, kemudian bawang merah sebesar 8,65 persen, dan daging ayam ras sebesar 8,89 persen, tetapi inflansi masih dalam kisaran nol persen hingga akhir tahun,” katanya, Rabu (2/1/2019).

Persoalan tiket pesawat yang cukup tinggi di Sumbar, dikarenakan momen libur akhir tahun dimanfaatkan oleh warga untuk berwisata, baik datang ke daerah tersebut, maupun keluar dari Sumbar, melalui Bandar Udara Internasional (BIM). Sejumlah daerah di Sumatera Barat, menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia. “Memang, waktu momen-momen liburan itu, benar-benar dimanfaatkan oleh maskapai. seperti saat harga tiket mudik lebaran, wah, itu akan lebih mahal. Karena di Sumatera Barat terkenal dengan pulang basamo, maka akan terjadi lonjakan pulang ke kampung halaman,” ujarnya.

Selain tiket pesawat, yang turut menyumbang inflasi, adalah cabai merah sebesar -12,82 persen, kelapa sebesar -9,85 persen dan petai sebesar -18,03 persen di Kota Padang. Sementara itu, cabai merah juga mengalami penurunan harga sebesar -7,94 persen dan jengkol sebesar -18,44 persen di Kota Bukittinggi. “Dari data tersebut inflansi cukup terkendali, kalau naiknya cukup tinggi dan turunnya juga tinggi akan berpengaruh terhadap konsumen dan produsen. Yang diharapkan adalah inflansi rendah dengan kondisi yang stabil,” sebutnya.

Persoalan mahalnya tiket pesawat di Sumatera Barat, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, telah meminta kepada Dinas Perhubungan untuk menyurati Direktur Utama Garuda Indonesia, terkait harga tiket yang dinilai terlalu tinggi. “Sebelumnya, gubernur juga telah menyurati pihak Garuda Indonesia, terutama saat mudik lebaran, tapi belum ada respon. Tentu melihat kondisi inflasi di Sumatera Barat ini, kita akan surati Menteri BUMN dan Dirut Garuda Indonesia kembali, agar menurunkan harga tiket,” ujarnya.

Saat ini, harga tiket pesawat di Sumbar, mencapai Rp2,1 juta. Harga tersebut terjadi, setiap akhir tahun dan menjelang lebaran. Di ada hari-hari biasa, tiket pesawat untuk tujuan Padang-Jakarta, berada di bawah Rp2 juta, dengan syarat, pembelian dilakukan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.

Baca Juga
Lihat juga...