Tingkatkan Pendapatan Keluarga, Peran Perempuan Nelayan, Penting

Editor: Satmoko Budi Santoso

174

MAUMERE – Minimnya pendapatan yang didapat nelayan di Kabupaten Sikka membuat peran perempuan nelayan selaku isteri atau ibu rumah tangga sangat penting dalam membantu peningkatan ekonomi keluarga.

“Kondisi keluarga nelayan yang demikian, peran perempuan nelayan dalam seluruh dinamika dan proses ekonomi, juga kehidupan, menjadi tempat yang amat sentral,” sebut Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Carolus Winfridus Keupung, Senin (7/1/2019).

Dikatakan Wim, sapaannya, ada perempuan nelayan yang terlibat langsung dalam penangkapan ikan. Namun ada yang tidak terlibat langsung tetapi mengambil bagian dalam proses pra hingga pasca penangkapan ikan.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM), Carolus Winfridus Keupung. -Foto: Ebed de Rosary

“Perempuan nelayan menjadi tulang punggung penentu roda perekonomian keluarga. Mereka mengatur dengan seksama bagaimana menabung, mengelola keuangan dan menyekolahkan anak,” terangnya.

Yang terpenting, perempuan nelayan harus mengupayakan berbagai cara agar saat paceklik, keluarga mereka tidak mengalami kekurangan makanan.

“Di Desa Nangahale, Becce Nandong dan Habiba adalah perempuan nelayan penangkap gurita. Mereka adalah 2 dari 5 perempuan single parent dari Nangahale yang menggeluti profesi sama,” paparnya.

Para perempuan nelayan tersebut, kata Wim, melakukan penyelaman langsung tanpa alat bantu pernapasan. Hanya menggunakan naluri dan pengetahuan yang disampaikan turun temurun oleh orang tua mereka. Untuk mengidentifikasi tempat menangkap gurita.

“Di Desa Sikka, menurut pengakuan Sirila Rosalia, perempuan nelayan menyiapkan bekal untuk suami pergi melaut, membelikan kebutuhan untuk melaut, membantu mendorong sampan ke laut. Juga  menanyakan kepada tetangga atau keluarga yang hendak membeli ikan saat suami pulang melaut. Tak ketinggalan, mengolah hasil tangkapan untuk dikonsumsi keluarga,” terangnya.

Di Desa Lela yang terkenal dengan ikan tembang, Katarina menuturkan, perempuan nelayan mengolah ikan tembang menjadi ikan asin untuk kemudian dijual di pasar Lela. Sejauh ini, kelompok perempuan nelayan di Lela juga membuat abon ikan dari hasil tangkapan nelayan, namun masih sebatas untuk konsumsi keluarga.

Margaretha Leny Riti, Ketua Ikatan Perempuan Nelayan Sikka (IPNeS) kepada Cendana News menyebutkan, rata-rata keluarga nelayan di Kabupaten Sikka tergolong berpenghasilan rendah. Ini membuat banyak anak putus sekolah. Apalagi rata-rata anak nelayan sejak kecil ikut melaut sehingga malas melanjutkan pendidikan.

“Kami mulai bentuk kelompok dan mengajak perempuan nelayan untuk mengolah hasil tangkapan dari para suami agar bisa memberikan nilai tambah. Kami juga memberikan penyadaran agar keluarga nelayan memiliki asuransi,” ungkapnya.

Banyak nelayan laki-laki, kata Leny, mendapat sumbangan atau bantuan seperti kapal dan alat tangkap serta perlengkapan lain secara gratis dari pemerintah. Namun, banyak bantuan yang dijual dan mereka berharap bisa mendapat bantuan lagi.

“Kami pun mulai memberi penyadaran kepada kaum istri agar mendidik suami menabung dan menyisakan sedikit penghasilan yang diterima demi masa depan anak serta asuransi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...