TMII Gelar Evaluasi Gabungan Diklat Seni 

Editor: Mahadeva

313

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai  pusat budaya dan edukasi pendidikan, memiliki peran dalam pengembangan potensi Sumber Daya Manusia (SDM), terkhusus di bidang seni.

Manajer Budaya TMII, Ertis Yulia Manikam Foto Sri Sugiarti

Manajer Program Budaya TMII, Ertis Yulia Manikam, menjelaskan, pengembangan potensi melalui diklat seni dilakukan di semua anjungan TMII. Bidang yang dikembangkan baik seni tari, vokal maupun teater.  Pengembangan potensi dilakukan dengan pelatihan seni budaya daerah oleh setiap sanggar. Upaya tersebut diikuti dengan evaluasi gabungan, dilanjutkan diklat seni TMII yang diadakan setiap enam bulan sekali.

“Evaluasi ini bagian dari kita mengukur hasil pembelajaran dan pelatihan selama satu semester dari diklat sanggar tari, vokal, musik dan teater yang ada di TMII,” kata Ertis kepada Cendana News, di sela-sela evaluasi gabungan diklat seni TMII, di Desa Seni TMII, Jakarta, Minggu (27/1/2019).

Evaluasi juga diikuti sekolah yang bersinergi melalui Forum Komunikasi Guru yang dibentuk oleh diklat seni. Seperti kegiatan ekstra kuliler menari dan musik, yang mengacu pada standar TMII.  Pada evaluasi tersebut, sekolah menampilkan anak didiknya.  Evaluasi menjadi bentuk tanggungjawab dan laporan kepada orangtua siswa. “Apakah metodenya sudah tepat, caranya tepat, materi sesuai usia dan lainnya. Tentu harus memenuhi syarat yang ditentukan TMII, ada wiraga, wirama dan Wirasaba,” ungkapnya.

Wiraga adalah, teknik gerak dan irama. Adalah bagaiaman para siswa menguasai gerak dan irama. Adapun Wirasa adalah bagaimana penghayatan rasa, hapalan dan penampilan. Ini bentuk penguasaan tari.   Demikian pula teater, ada penguasaan unsur musik, materi, teknik dan kemampuan aksi panggung. “Mungkin ada improvisasi untuk menyikapi seandainya ada hal-hal yang terjadi di panggung, misalnya spontanitas mereka,” ujarnya.

Secara umum, evaluasi gabungan adalah bagian dari kaderisasi pembinaan potensi seni. Ke depan mereka menjadi pribadi yang handal di bidang seni budaya secara kualitas dan kuantitas.  Hasil evaluasi, menjadi tahapan dari pembelajaran yang sesuai dengan standar TMII. Ada jenjang tingkat dasar, pemula, menengah, lanjut dan profesi.

Penari sanggar seni tampil pada evaluasi diklat seni TMII, di panggung Desa Seni TMII, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Foto : Sri Sugiarti.

Tingkat dasar diambil materi yang mudah, sedangkan vokal harus kenal nada dan irama. Tari juga dengan tehnik tingkat kesulitannya. Adapun teater dengan faktor yang lebih sulit, yakni, bagaimana mereka harus mengeskplorasi, untuk tampil mumpuni. Sehingga sampai saatnya disebut tingkat lanjut atau profesi. Dari sisi pembinaan potensi seni, evaluasi bisa berakhir lulus atau tidak. Ada tingkat kelulusan, yang menjadikan mereka sudah dianggap layak menguasai materi sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

Apabila lulus, maka si anak akan mendapatkan sertifikat dari TMII. Jika mereka terus berprestasi di bidang seni budaya, niscaya akan menjadi duta seni mewakili Indonesia.  “Dengan mendapatkan sertifikat dari TMII, bisa jadi bekal untuk masuk sekolah unggulan melalui jalur prestasi. Jadi banyak hal positif untuk bisa diambil manfaat dari pelatihan seni budaya,” jelasnya.

Anissa Safira, salah satu preserta, mengaku sudah dua kali mengikuti evaluasi seni di TMII. Ia merasa senang karena bakat seninya bisa tersalurkan dengan mengikuti pelatihan menari di sanggar diklat anjungan yang ada di TMII.

Lihat juga...