Tsunami Selat Sunda, Warga Pulau Sebesi Tak Dapat Peringatan

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Kamis (3/1/2019), menjadi hari ke-11 warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku, tinggal di posko pengungsian. Sebagian pengungsi ditempatkan di lapangan tenis indoor Kalianda, serta sejumlah desa yang berada jauh dari tepi pantai.

Samlawi,warga desa Tejang Pulau Sebesi yang ikut mengungsi di lapangan tenis indoor Kalianda – Foto Henk Widi

Warga Dusun Tejang, Pulau Sebesi, Samlawi (60), satu dari 2.300 pengungsi di lapangan tenis indoor Kalianda mengaku, tidak mendapat informasi resmi dari pihak berwenang saat terjadi tsunami. Tanda tanda atau peringatan bahkan tidak diperoleh warga yang tinggal di dekat Gunung Anak Krakatau. Ia mendapat informasi mengenai tsunami pada Sabtu (22/12/2018), saat tsunami melanda, dari sang anak yang bekerja sebagai nelayan. Sang anak yang berada di tepi pantai, mengaku melihat sejumlah perahu nelayan miring akibat air surut.

Kondisi surutnya air laut, tidak seperti kondisi normal, karena hingga mencapai puluhan meter. Melihat fenomena tersebut, Samlawi dan sang anak langsung menyelamatkan barang barang berharga dan mengungsi ke dataran tinggi. Imbas tidak adanya informasi akurat dari pihak berwenang, membuat rumah di wilayah Desa Tejang, Pulau Sebesi rusak parah. Kerusakan terjadi di Dusun Regahan Lada Segenom, Dusun Tejang.

Warga pulau Sebesi, semula bertahan mengungsi di pulau yang diselimuti tebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Suara dentuman dan kilat sekaligus kehabisan bahan makanan, membuat warga akhirnya diungsikan ke lapangan tenis indoor Kalianda. Total warga Pulau Sebesi hingga kini berjumlah 2.811 jiwa. Dari jumlah tersebut, mereka mengungsi secara bertahap. Sebanyak 2.300 jiwa terdata mengungsi di lapangan tenis indoor Kalianda, sementara 297 jiwa, bertahan di Pulau Sebesi. ” Belum ada informasi, kapan bisa kembali ke rumah,” tandasnya.

Dengan kondisi tersebut, pihak berwenang diminta memberikan informasi, sinyal atau tanda peringatan, apabila akan terjadi becana kepada masyarakat. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Zulkifli Hasan, saat mengunjungi posko pengungsian di lapangan tenis indoor Kalianda, Lampung Selatan.

Zulkifli menyebut, saat bencana tsunami melanda Lampung Selatan, Sabtu (22/12/2018) silam, pihak berwenang memberi informasi naiknya air laut, terjadi karena fenomena pasang bulan purnama. Sementara, kondisi yang terjadi di wilayah pesisir pantai, ternyata gelombang tsunami, yang meluluhlantakan beberapa desa di wilayah Lampung Selatan. Bahkan jatuh korban jiwa yang mencapai ratusan orang.

“Saya berharap, ke depan, agar masyarakat diberikan pengetahuan tentang bagaimana menyelamatkan diri, apabila terjadi darurat bencana, dan diberikan tanda-tanda arah evakuasi untuk menyelamatkan diri,” tandas Zulkifli.

Setelah berdialog dengan warga yang terkena bencana, Zulkifli berharap, warga bisa membangun rumah menjauhi bibir pantai. Sementara pengungsi dari Pulau Sebesi, yang rumahnya rusak ringan, masih ingin kembali tempat tinggalnya semula. Warga yang masih tinggal di posko-posko pengungsian, hingga kini masih menunggu informasi dari pihak berwenang, dalam hal ini pemerintah, terkait kondisi keamanan di pulau terdekat dengan Gunung Anak Krakatau tersebut.

Lihat juga...