Tujuh Titik Panas Terdeteksi BMKG di Riau

194
Citra satelit BMKG - Dokumentasi CDN

PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, mendeteksi keberadaan tujuh titik panas di Riau, Jumat (4/1/2019). Titik tersebut terindikasi sebagai kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Analis BMKG Stasiun Pekanbaru, Bibin, mengatakan, tujuh titik panas yang terpantau melalui pencitraan Satelit Terra dan Aqua, memiliki tingkat kepercayaan diatas 50 persen. Semua titik terpantau di wilayah pesisir Riau. “Titik panas menyebar di Rokan Hilir empat titik, Dumai dua titik dan satu titik di Rokan Hulu,” ungkapnya, Jumat (4/1/2019).

Sementara itu, dari tujuh titik panas tersebut, lima diantaranya dipastikan sebagai titik api. Titik panas tersebut, diindikasikan kuat sebagai karhutla, dengan tingkat kepercayaan diatas 70 persen. Kelima titik api tersebut, menyebar di Rokan Hilir tiga titik dan dua titik lainnya di Kota Dumai. Di Rokan Hilir, ketiga titik api dengan tingkat kepercayaan mencapai 93 persen, menyebar di Desa Mumugo, Kecamatan Tanah Putih. “Sementara di Dumai titik api terdeteksi di Kecamatan Dumai Barat dengan tingkat confidence 83 persen,” tuturnya.

BMKG Stasiun Pekanbaru, mulai mendeteksi kemunculan titik-titik api, sebagai indikasi adanya karhutla di wilayah pesisir Riau. Kemunculan titik api tersebut, merupakan akibat dari peralihan musim di wilayah tersebut memasuki Januari 2019 ini. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, terdapat 15 hektare lahan gambut di wilayah Rokan Hilir, yang dalam sepekan terakhir terbakar. Hingga kini, upaya pemadaman masih terus berlangsung di wilayah tersebut.

Melengkapi Bibin, Staf Analisa BMKG Pekanbaru, Mia Fadillah, mengatakan, selain Rokan Hilir dan Dumai, kemunculan titik api juga terpantau BMKG di wilayah pesisir seperti Bengkalis dan Meranti. Daerah tersebut selama ini dikenal sebagai dearah rawan karhutla. “Potensi karhulta di wilayah pesisir Riau cukup tinggi. Curah hujan di wilayah pesisir saat ini sangat kecil dan cuaca juga cukup panas,” kata Mia.

Secara umum, ia mengatakan Provinsi Riau menghadapi peralihan cuaca atau pancaroba, dari musim penghujan ke musim kemarau. Wilayah pesisir seperti menghadapi musim kemarau lebih cepat dibanding wilayah lainnya. Diprediksi, musim kemarau akan terus bergeser ke wilayah lainnya di Provinsi Riau dan sepenuhnya memasuki musim kering pada akhir Januari mendatang. “Musim kemarau nanti akan berlanjut hingga Februari,” pungkasnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...