Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Dikeluhkan Warga Bakauheni

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Volume sampah yang dibuang sembarangan di sepanjang jalan ruas Bakauheni-Ketapang terus meningkat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Bau busuk, lalat beterbangan dan asap saat proses pembakaran berdampak kepada kesehatan warga sekitar.

Soirin, salah satu warga penggarap di lahan milik salah satu perusahaan tersebut mengaku kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan masih rendah. Dominan yang dibuang merupakan limbah rumah tangga hingga dari pasar Bakauheni serta sejumlah sampah kapal.

“Saat musim hujan sampah cepat busuk terutama dari hasil pembuangan pasar berupa sayuran, sisa makanan ditambah lalat beterbangan membuat wilayah ini jadi kumuh,” terang Soirin saat ditemui Cendana News, Jumat (11/1/2019).

Soirin menyebut, meski ia bukan petugas kebersihan,s etiap beberapa hari sekali ia terpaksa membersihkan sampah dengan cara membakar.

Proses pembakaran dilakukan untuk mengurangi volume. Namun dampak lain pembakaran kerap mengakibatkan asap tebal yang mengganggu pengendara, terutama motor.

“Langkah tersebut dilakukan untuk menghindarkan banjir di wilayah persawahan akibat sampah yang terbawa air,” tambahnya.

Ia juga menyesalkan, ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab yang kerap membuang sampah dengan karung pada malam hari ikut membuat tanaman jagung miliknya mati dan ikut membusuk.

Bakauheni
Yono, salah satu warga penggarap lahan sawah kerap harus membersihkan sampah plastik yang dibuang sembarangan. Foto: Henk Widi

Warga lain, Yono yang merupakan penggarap lahan di dekat lokasi pembuangan sampah mengaku terimbas. Saat musim hujan tiba sampah yang menumpuk terbawa arus air terutama di saluran air lalu masuk ke sungai. Selain aroma busuk, sampah plastik serta berbagai jenis sampah sulit terurai kerap masuk ke areal persawahan.

“Kalau jenis sampahnya organik justru bagus untuk pupuk, namun sampah yang dibuang umumnya sampah nonorganik, tidak bisa terurai,”papar Yono.

Berbagai spanduk larangan agar tidak menggunakan lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan sampah bahkan tidak digubris. Sebagian warga yang melintas dengan aroma bau busuk menyengat dari sampah bahkan seolah sudah terbiasa degan kondisi tersebut.

Kinanti, salah satu pemilik warung makan di pelabuhan Bandar Bakau Jaya menyebut imbas sampah membuat lalat beterbangan. Meski lokasi pembuangan sampah jauh dari warung makan namun usai mencari makanan di tempat sampah lalat beterbangan hingga ke lokasinya berjualan.

Kinanti yang juga warga Bakauheni menyayangkan kesadaran masyarakat yang rendah terhadap kebersihan lingkungan. Ia bahkan menyebut imbas sampah tersebut sangat berpotensi mengganggu kesehatan. Selain bagi warga di sekitar lokasi pembuangan sampah bagi warga yang melintas gangguan pernapasan dan penyakit lain berpotensi terjadi.

Lihat juga...