Updated, Ledakan di Filipina Selatan Tewaskan 21 Orang

Ilustrasi Bendera Filipina - Foto: Dokumentasi CDN

MANILA – Ledakan granat ganda pada saat misa Minggu (27/1/2019) di Filipina selatan menewaskan 21 orang dan melukai 71. Laporan sebelumnya menyebut, ledakan tersebut menewaskan delapan orang. (Baca : https://www.cendananews.com/2019/01/dua-granat-meledak-di-jolo-delapan-tewas.html).

Peristiwa itu terjadi beberapa hari setelah referendum otonomi di wilayah mayoritas Muslim dimenangkan suara Ya atau mendukung. Ledakan pertama muncul di dalam katedral di Jolo, di Provinsi Sulu. Kemudian, disusul ledakan kedua di tempat parkir mobil. Ledakan tersebut menewaskan personel militer dan warga sipil. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

Ledakan terjadi, setelah muncul pengumuman pada Jumat (25/1/2019), yang menyebutkan bahwa daerah itu, wilayah mayoritas Muslim di negara yang mayoritas penduduknya memeluk Katolik. Referendum mengesahkan rencana pemerintahan mandiri pada 2020. Langkah tersebut, meningkatkan harapan perdamaian di negara itu, yang beberapa wilayahnya dilanda konflik. Dan konflik tersebut telah menjadikan negara tersebut sebagai salah satu negara termiskin di Asia.

Referendum pada Senin lalu menghasilkan 85 persen suara dukungan, bagi pembentukan wilayah otonomi bernama Bangsamoro. Meskipun Sulu, menjadi salah satu dari sedikit daerah yang menolak otonomi, daerah itu tetap akan menjadi bagian entitas baru tersebut.

Menteri Pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, menyebut, serangan itu sebagai tindakan pengecut. Warga setempat diminta untuk waspada, dan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mencegah terorisme menang. “Kami akan menggunakan kekuatan penuh hukum untuk mengadili para pelaku di balik insiden ini,” kata Lorenzana dalam sebuah pernyataan.

Juru Bicara Komando Militer Mindanao Barat, Kolonel Gerry Besana, mengatakan, pemeriksaan material bom akan mengungkap dalang serangan. Kepala Kepolisian Nasional, Oscar Albayalde, mengatakan, gerilyawan kelompok Abu Sayyaf kemungkinan terlibat dalam insiden itu. “Mereka ingin menggangu keamanan dan ketertiban, mereka ingin unjuk kekuatan dan menabur kekacauan,” kata Albayalde disiarkan radio setempat.

Jolo adalah benteng Abu Sayyaf, yang dikenal lewat serangkaian pengeboman dan kebrutalan, serta berbaiat kepada ISIS. Gerilyawan kelompok itu juga sering terlibat dalam pembajakan dan penculikan. Referendum pekan lalu digelar pada masa-masa kritis Filipina, yang berharap dapat mengakhiri konflik separatis, yang telah terjadi puluhan tahun di Mindanao.

Konflik tersebut, menurut para ahli telah meningkatkan ekstremisme. Konflik itu dikhawatirkan dapat menarik gerilyawan asing ke Mindanao, untuk memanfaatkan perbatasan yang rapuh, hutan dan pegunungan, serta melimpahnya persenjataan. (Ant)

Lihat juga...