Visi Tajam Soeharto tentang Nuklir Terbukti Relevan

Editor: Satmoko Budi Santoso

961

JAKARTA – Presiden Kedua RI, Soeharto, terbukti memiliki pandangan, visi dan strategi yang sangat jauh ke depan dalam hal pemanfaatan teknologi nuklir. Keyakinan Soeharto pun sangat tinggi pada sumber daya manusia Indonesia untuk mengelola teknologi nuklir ini.

Wacana pengalihan teknologi sumber daya fosil ke teknologi nuklir di Indonesia sebenarnya sudah terlihat sejak kepemimpinan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, dan diikuti oleh Presiden Kedua Indonesia, Soeharto.

“Bung Karno menggagas nuklir dan Pak Harto yang melaksanakan pembangunan hampir seluruh fasilitas nuklir. Kecuali reaktor Bandung yang diresmikan oleh Bung Karno,” kata Peneliti Senior Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan), Djarot S. Wisnubroto, kepada Cendana News, Rabu (23/1/2019).

Soekarno menyatakan, keinginannya untuk membentuk kemandirian bangsa dan mensejahterakan masyarakat dengan merintis instalasi pemanfaatan teknologi nuklir pertama, Triga Mark II.

Triga Mark II merupakan reaktor nuklir yang dibangun di Bandung dan diresmikan pada tahun 1965.

Visi yang sangat berorientasi pada kebutuhan masa mendatang ini, dilanjutkan oleh Pak Harto, yang juga memiliki visi tajam terkait kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Soeharto terus mendorong peningkatan dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk kepentingan rakyat.

Saat peresmian instalasi pengolahan limbah radioaktif di Batan Serpong pada 5 Desember 1988, Soeharto menyatakan bahwa kemajuan iptek nuklir akan disumbangkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

“Pak Harto menginginkan suatu saat Indonesia tinggal landas, termasuk teknologi nuklir. Sehingga beliau membangun kawasan nuklir Serpong sebagai contoh bahwa industri nuklir bisa dikembangkan untuk kepentingan damai,” ucap Djarot.

Hal ini kembali ditekankan oleh Soeharto saat peresmian Instalasi Radiometalurgi serta instalasi Keselamatan dan Keteknikan Reaktor.

“Pak Harto mengatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan sekitar 25 tahun yang akan datang, untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Jawa, sumber daya yang ada tidak akan mencukupi sehingga perlu memikirkan untuk membangun pusat listrik tenaga nuklir,” cerita Djarot.

Soeharto juga sangat mempercayai SDM Indonesia dalam hal teknologi nuklir. Hal ini disampaikannya pada peresmian Instalasi Spektometri Neutron dan Laboratorium Sumber Daya dan Energi pada 20 Agustus 1992 di Serpong.

Saat itu, Soeharto berkata, “Saya percaya bahwa bangsa Indonesia mampu menguasai teknologi canggih. Nenek moyang kita telah berhasil membangun candi-candi yang sangat indah arsitekturnya dan bertahan ratusan tahun.

Nenek moyang kita juga membangun armada laut yang telah mengarungi samudera luas. Penjajahlah yang telah membuat kita lemah dan kurang percaya diri. Karena itu, setelah menjadi bangsa yang merdeka kita harus dapat bangkit kembali untuk menyejajarkan diri dengan bangsa lain yang telah maju”.

Berbagai pernyataan Soeharto itu, dinilai sebagai suatu visi tajam yang memang akhirnya terbukti nyata. Kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini akan energi listrik yang bersih, terlihat belum terpenuhi oleh pemerintah.

“Kebijakan pemerintah, sejak energi nuklir dinyatakan sebagai opsi terakhir di era SBY, menjadikan secara otomatis PLTN bukan prioritas. Meskipun dari sisi nonenergi pemerintah memberikan cukup anggaran untuk berkiprah,” ungkap Djarot.

Lihat juga...