Wanita Asal Malang Sukses Bisnis Kerajinan Klobot Jagung

Editor: Koko Triarko

MALANG – Pada umumnya, kulit jagung atau klobot jagung hanya dianggap limbah oleh sebagian besar masyarakat. Namun di tangan  kreatif Susilowati, warga Desa Urek-urek, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, bisa dijadikan sebuah kerajinan bunga bernilai jutaan rupiah.

“Beberapa tahun yang lalu, saya mengikuti pelatihan membuat bunga berbahan dasar klobot jagung, yang difasilitasi Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI. Dari situ, sudah empat tahun ini saya menjalankan usaha kerajinan bunga dari klobot jagung,” akunya.

Menurutnya, untuk mendapatkan bahan klobot jagung tidak sulit. Karena kebanyakan dari masyarakat, termasuk petani, menganggapnya sebagai limbah yang tidak dapat dimanfaatkan.

“Untuk memperoleh klobot jagung cukup mudah, langsung dari petani. Dari pada dibuang sia-sia dan tidak dimanfaatkan, kita pergunakan sebagai kerajinan yang bisa menghasilkan uang untuk membantu perekonomian keluarga,” katanya.

Lebih lanjut, Susi menyampaikan, dalam proses pembuatan bunga klobot jagung, sebenarnya cukup mudah, tapi membutuhkan ketekunan dan ketelatenan dalam membuatnya.

Cara membuatnya, klobot jagung yang baru dipanen dibersihkan terlebih dahulu, untuk kemudian dikeringkan. Setelah itu, klobot  dipilah mana yang bagus dan bisa digunakan, mana yang tidak bisa dipakai.

“Selanjutnya masuk pada proses pewarnaan, yakni klobot kita rendam dulu mengunakan pewarna tekstil selama satu hari, atau kita rebus selama satu jam, tergantung keinginan kita,” terangnya.

Jika ingin warna yang gelap, klobot harus direndam sehari semalam. Setelah direndam, klobot diangkat dan ditiriskan, kemudian dijemur. Selesai dijemur dan kering, klobot jagung bisa dibentuk menyerupai berbagai jenis bunga yang diinginkan.

“Memang kalau masih pemula, rasanya sulit untuk membuatnya, karena tidak terbiasa. Tapi kalau sudah terbiasa, ya mudah,” tuturnya.

Berkat keahliannya dalam membuat berbagai kerajinan dari klobot jagung, Susi kerap diundang untuk menjadi pembicara sekaligus pelatihan, khususnya kepada Ibu-ibu yang ingin membuat kerajinan dari klobot jagung.

“Saya sekarang sudah menjadi narasumber, dan binaan saya sudah banyak. Mulai dari Ibu-ibu PKK di Malang hingga ibu-ibu di Sulawesi,” sebutnya.

Terkait pemasaran kerajinannya, Susi mengaku sudah memasarkannya ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan telah diekspor ke luar negeri.

“Alhamdulillah, selama ini pemasarannya sudah sampai ke luar negeri, yakni ke Jepang. Meskipun memang ekspornya masih melalui reseller-nya yang ada di Bali,” akunya.

Mengenai harga, Susi menjual hasil dari kerajinannya tersebut mulai dari kisaran Rp500 sampai ratusan ribu rupiah.

“Tapi kalau sudah dirangkai, harganya bisa mencapai jutaan rupiah,” akunya.

Dari hasil penjualannya tersebut dan menjadi narasumber, Susi bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.

“Kalau untuk penjualan, omzet sekitar Rp10 juta. Tapi kalau digabung dengan pendapatan menjadi narasumber, bisa sampai Rp40 juta per bulan,” pungkasnya.

Lihat juga...