Warga Berharap Jembatan Dagemage Segera Diperbaiki

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Jembatan darurat Dagemage di Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, yang berada di satu-satunya jalur jalan Pantai Utara (Pantura) Flores yang menghubungkan kabupaten Sikka, Ende dan Negekeo, kembali bermasalah.

“Jembatannya sudah berlubang-lubang. Ada sepeda motor juga yang kemarin terperosok, tetapi untung saja tidak jatuh ke dalam kali dan pengemudinya hanya mengalami luka lecet saja,” sebut Kornelis Kare, warga Magepanda, Minggu (6/1/2019).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka, Tommy Lameng. -Foto: Ebed de Rosary

Menurut Nelis, sapaannya, lubang hampir berada di kedua sisi badan jembatan, terlebih di bekas sambungan gelagar jembatan. Tanah yang dipakai untuk menimbun jembatan darurat pun sudah terkikis semua.

“Kemarin Bupati Sikka sudah datang bersama kepala dinas PUPR, mengecek kondisi jembatan. Katanya jembatan ini sudah mau dikerjakan, bila musim hujan sudah selesai,” ungkapnya.

Nelis berharap, agar apa yang disampaikan bupati Sikka benar adanya. Pejabat pemerintah sering berjanji akan memperbaiki jembatan ini, bahkan sejak 3 tahun lalu, masyarakat minta diperbaiki, namun semua itu hanya janji semata.

“Mudah-mudahan bupati omong benar, sebab katanya jalan ini menjadi kewenangan provinsi, karena menghubungkan beberapa kabupaten. Pembangunannya katanya pun harus menggunakan dana provinsi juga,” tuturnya.

Langkah pemerintah dengan menempatkan alat berat di lokasi jembatan darurat Dagemage, tidak membuat para pengendara merasa nyaman saat menggunakan jembatan darurat sebagai akses transportasi di wilayah itu.

Rudolfus Paskhalis Dhika, warga desa Reroroja, kecamatan Magependa, mengatakan, keberadaan alat berat yang disiapkan pemerintah di pinggir jembatan tidak mampu berbuat banyak untuk memperlancar arus lalu lintas.

“Alat berat itu hanya bisa bekerja menggusur dan meratakan jalan ketika sedang tidak terjadi hujan dan banjir saja. Kalau terjadi banjir, jembatan darurat ini pasti ambruk dan terbawa banjir,” tegasnya.

Kalau malam hari, kata Dolfus, lokasi jembatan sangat gelap, sehingga kendaraan yang melintas harus berhati-hati agar tidak terperosok ke kali atau ke lubang di badan jembatan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kabupaten Sikka, Tommy Lameng, menjelaskan,  jembatan Dagaemage menjadi tanggung jawab provinsi NTT, sehingga pembangunannya menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

“Kami sudah diberi informasi, bahwa 2019 ini dapat anggaran Rp15 miliar untuk membangun jembatan permanen. Mudah-mudahan bisa segera terealisir segera,” harapnya.

Ditambahkan Tommy, proyek pengerjaan jembatan tersebut akan dilelang pada Januari 2019. Diperkirakan, Maret 2019 jembatan ini mulai dikerjakan. Sebelum jembatan dikerjakan, alat berat PU Sikka selalu disiagakan di tempat ini.

Lihat juga...