Warga Biromaru-Sigi Kesulitan Air Bersih Pascabencana

241

SIGI — Sebagian warga di Kecamatan Biromaru Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pascabencana gempa dan likuefaksi.

“Air, menjadi kebutuhan vital umat manusia. Krisis akan ketersediaan air bersih menjadi masalah mendasar bagi korban di pengungsian dimana pun di muka bumi,” kata Anggota DPRD Sulteng, Muhammad Masykur di Sigi, Jumat malam (11/1/2019).

Masykur menyebut, seperti warga Dusun Lompio Desa Maranata dan Dusun Tandau Desa Sidondo I Kecamatan Sigi Biromaru. Dua dusun ini, kata dia, berada dalam topografi yang sama meskipun terpisah secara administrasi wilayah pemerintahan desa.

Dua desa itu, kata dia, diapit kawasan persawahan di sisi baratnya, berada di punggung wilayah pegunungan dan diantaranya dibelah tanggul irigasi Gumbasa.

Dusun Lompio dihuni sebanyak 500 jiwa, sementara Dusun Tandau 200 jiwa. Berdasarkan penuturan warga, mereka menghuni daerah tersebut terhitung sejak tahun 1972 melalui program transmigrasi lokal ketika itu.

Ia mengatakan berdasarkan keterangan Lukas, tokoh muda Lompio mengenai kondisi yang selama ini dialami. Sejak tahun 1972 sampai saat ini kendala utama yang dihadapi adalah air bersih.

Menurut dia, sarana air bersih belum ada, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air setiap warga harus menempuh jarak sejauh 2 kilometer. Sumber air satu-satunya warga Lompio adalah diambil dari sumur suntik yang ada.

“Dahulu ada pihak yang bangunkan tapi jauh di bawah sana. Kami tidak tau juga kenapa dibangun di situ. Padahal mestinya lebih cocok dibangun di tengah kampung supaya memudahkan warga. Tidak jauh seperti yang ada saat ini,” ujarnya.

Dia mengatakan bagi warga yang memiliki motor agak mendingan karena diangkut pakai kendaraan. Namun bagi yang lain, mereka terpaksa jalan kaki sejauh 2 kilometer.

Kondisi itu juga diakui Simson, tokoh pemuda Dusun Tandau yang mengatakan untuk memperoleh air, warga harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer.

“Kalau kami lebih jauh lagi kalau mau ambil air. Jaraknya sekitar 3 kilometer kami harus turun ke dusun sebelah untuk ambil air bersih. Mau bagaimana lagi, sudah seperti ini kondisi kami di sini. Kami berharap pemerintah bangunkan sarana air bersih. Supaya warga tidak susah lagi,” ujar Simson. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...