Warga Minang Rua Mencium Aroma Belerang GAK

Editor: Mahadeva

148

LAMPUNG – Sebagian warga yang tinggal di wilayah pesisir Lampung Selatan, mulai mencium aroma belerang atau sulfur. Aroma tersebut berasal dari asap Gunung Anak Krakatau (GAK).

Muhtarom, warga Dusun Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan menyebut, aroma belerang tercium di perairan dan udara. Kondisi tersebut mulai dirasakan sejak Kamis (3/1/2019), saat GAK mengalami erupsi dengan kolom abu cukup tinggi. Meski mencium aroma belerang, Muhtarom mengaku tidak khawatir. Asap GAK terbawa angin, sehinga sebagian debu mengandung belerang terjatuh di perairan. Aroma belerang cukup terasa sejak pagi hingga siang, dan lambat laut berkurang.

Angin yang bergerak ke timur, membuat aroma belerang tidak tercium meski aktivitas GAK masih terus terlihat, mengeluarkan asap. Meski GAK terlihat mengeluarkan asap, warga dalam beberapa hari terakhir, tidak terdengar suara dentuman. Kondisi perairan di Pantai Minang Rua, masih terlihat normal meski sebagian nelayan belum berani melaut.

Warga lainnya, Irwansyah, menyebut, aroma belerang terkadang tercium namun, terkadang tidak. Arah angin yang kerap berubah, yang menjadikan hal tersebut terjadi. Saat angin mengarah ke barat, asap yang mengandung aroma belerang akan tercium oleh warga. “Hingga Jumat siang ini, aroma belerang masih tercium, sebagian terbawa asap, namun sebagian aroma belerang berasal dari material batu, pasir apung yang terbawa oleh air laut dan terdampar di wilayah perairan pantai,” terang Irwansyah, Jumat (4/1/2019).

Irwansyah menyebut, warga pesisir Bakauheni belum berani beraktivitas. Asap vulkanik GAK yang mengarah ke perkampungan, membuat mata terasa pedih dan napas sesak. Hal itu membuat warga harus mengenakan masker.

Andi Suardi,kepala pos pengamatan gunungapi Gunung Anak Krakatau,Badan Geologi PVMBG Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam – Foto Henk Widi

Kepala pos pengamatan gunung berapi, GAK, Andi Suardi, menyebut, aroma belerang tidak tercium di pos pengamatan yang berada di Desa Hargo Pancuran. “Kalau erupsi dengan kolom abu membubung hingga ratusan meter memang iya, tapi kalau aroma belerang belum tercium, kalau ada masyarakat mencium aroma tersebut, karena terbawa angin,” beber Andi Suardi.

Data MAGMA, Volcanic Activity Report (VAR) melaporkan, aktivitas gunungapi diperoleh dari periode pengamatan  4 Januari 2019, pada pukul 06:00 hingga 12:00 WIB, terpantau GAK mengeluarkan kolom asap setinggi 800 meter mengarah ke timur. Kondisi meteorologi pada saat pemantauan cerah dan berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara, dan timur laut, dan timur. Suhu udara 28-31 derajat celcius dan kelembaban udara 80 hingga 87 persen.

Secara visual, pada Jumat, gunung terlihat jelas. Asap kawah bertekanan sedang hingga kuat, teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500 hingga 1,500 meter di atas puncak kawah. Erupsi GAK juga tidak mengeluarkan suara dentuman. Sementara itu kegempaan letusan tercatat berjumlah 19 kalli, dengan amplitudo 13 hingga 24 mm, berdurasi 40-134 detik.

Baca Juga
Lihat juga...