hut

Warga Pulau Sukun Hidup Bertani Musiman

Editor: Mahadeva

Lahan perkebunan kacang hijau di pulau Sukun desa Semparong kecamatan Alok kabupaten Sikka.Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE – Saat musim hujan, warga Desa Semparong yang berada di Pulau Sukun menjalani aktivitas bertani. Mereka menanam padi, jagung dan juga kacang hijau.

Hal tersebut, biasa dilakukan oleh warga yang tinggal di perbukitan, di kepulauan yang memiliki panjang sekira 2 dua kilometer dan lebar sekira 1,5 kilometer tersebut. “Kalau musim hujan hampir sebagian besar penduduk pulai ini mulai bertani. Biasanya saat musim hujan kondisi laut juga bergelombang dan angin pun kencang sehingga kami harus bertani,” sebut salah satu warga setempat, Amirudin, Minggu (20/1/2019).

Lahan di kawasan pesisir biasa ditanami kacang hijau dan jagung. Penanaman dilakukan dengan sistim tumpang sari. Terkadang juga kalau jagung cepat panen, dan masih musim hujan, maka akhir Januari atau awal Februari warga menanam kacang hijau untuk dijual.

“Kacang hijau sangat cocok sekali ditanam disini, sebab tanah disini rata-rata berpasir. Kacang hijaunya tumbuh subur. Kalau hasil panen jagung dan padi, biasanya untuk dikonsumsi sendiri saat musim badai hasil tangkapan ikan tidak menentu,” tuturnya.

Penduduk di Pulau Sukun, hampir semuanya memiliki perahu nelayan. Perahu yang dimiliki berbobot dua hingga lima Gross Ton (GT). Ikan yang ditangkap, rata-rata jenis ikan karang seperti kerapu, cakalang atau tuna. “Ikan tuna memang sudah jarang ditangkap tetapi kalau dapat empat ekor saja sudah sangat lumayan. Dengan berat sekitar 100 kilogram per ekornya, bisa membuat kami bertahan hidup untuk beberapa bulan ke depan,” sebutnya.

Aminah, warga lain menjelaskan, ikan hasil tangkapan seperti layang dan anak tongkol serta tembang biasanya dikeringkan. Setelah banyak terkumpul, baru dibawa ke Kota Maumere untuk dijual ke pengepul. “Kami jarang ke Maumere sebab jaraknya sangat jauh dan bisa ditempuh antara tiga sampai empat jam perjalanan. Makanya kalau ke Maumere, kami selalu membawa ikan dalam jumlah banyak untuk dijual, dan uangnya untuk membeli keperluan rumah tangga,” ungkapnya.

Kepala desa Semparong kecamatan Alok kabupaten Sikka,Darman. Foto : Ebed de Rosary

Rata-rata, rumah di Pulau Sukun, merupakan rumah panggung berbahan kayu dan bambu belah. Saat musim hujan, air sering tergenang, sehingga menjadi tempat berkembangbiak nyamuk. “Disini ada Poliklinik Desa (Polindes) juga tetapi kalau memang sakit parah, maka kami akan membawa berobat ke Maumere dengan perahu nelayan. Hampir semua penduduk mempunyai perahu nelayan, sehingga kami tidak kesulitan kalau dalam keadaan darurat harus ke Maumere,” tuturnya.

Darman, Kepala Desa Semparong menyebut, dari  221 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami Pulau Sukun, 63 KK diantaranya masuk katagori miskin. Hal itu mengikuti pendataan yang dilakukan Desa dan Kecamatan Alok. Dari 226 rumah di desa tersebut, 22 diantaranya masih beratap ilalang. Kemudian sudah ada 25 rumah setengah tembok, tujuh rumah berdinding papan dan 89 rumah berdinding bambu belah (Halar).

“Rumah-rumah disini dibangun berdekatan dan masih belum tertata dengan baik. Lorong dan jalan belum di semen semuanya sehingga kami fokus menggunakan dana desa untuk terus memperbaiki fasilitas umum,” pungkasnya.

Lihat juga...