Warga Saling Bantu Bersihkan Kawasan Terdampak Tsunami di Lamsel

Editor: Koko Triarko

257

LAMPUNG – Dua pekan pascatsunami, sejumlah warga di desa terdampak tsunami di Lampung Selatan mulai berbenah. Warga dari desa lain yang tak terdampak tsunami, pun turut memberikan dukungan dengan membantu melakukan bersih-bersih, seperti yang terlihat di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa.

Warga asal Desa Sukabaru, di antaranya didominasi oleh kaum wanita, terlihat membersihkan perumahan warga yang rusak akibat tsunami.

Abid Yusuf, relawan yang membantu proses pembersihan di Desa Kunjir -Foto: Henk Widi

Abid Yusuf, salah satu warga Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, bersama warga lainnya, mengaku tergerak membantu warga terdampak tsunami. Hal tersebut karena sejak tsunami melanda pada Sabtu (22/12/2018), warga terpaksa mengungsi. Saat ini, bahkan 34 jiwa warga Desa Kunjir, bahkan sebagian masih mengungsi di Desa Sukabaru, akibat rumah yang ditempati hancur.

“Pembersihan tahap awal telah dilakukan oleh sejumlah instansi. Namun pembersihan di dalam rumah yang rusak ringan masih belum selesai, sehingga kami langsung terjun ke Desa Kunjir,” terang Abid Yusuf, saat ditemui Cendana News, Minggu (13/1/2019).

Abid Yusuf mengungkapkan, sebagian relawan yang merupakan kaum ibu membersihkan rumah warga yang rusak ringan. Sebagian rumah yang rusak ringan tersebut, digunakan sebagai lokasi berteduh sementara, menunggu proses perbaikan.

Bantuan tersebut dilakukan untuk meringankan beban warga yang sebagian harus kehilangan anggota keluarga serta harta benda. Selain membersihkan bagian rumah dengan sapu, sejumlah warga juga membersihkan puing-puing rumah yang hancur.

Menurut Abid Yusuf, pembersihan tersebut juga dibantu oleh komunitas Jalan Inovasi Sosial (Janis). Pembersihan rumah-rumah warga Desa Kunjir sebelumnya menggunakan alat berat.

Setelah sejumlah alat berat meninggalkan lokasi, proses pembersihan secara manual dilakukan. Pembersihan areal sekitar rumah warga yang terdampak tsunami juga dilakukan untuk meminimalisir gangguan penyakit pascatsunami.

“Segala jenis sampah kami bersihkan, sehingga meskipun puing-puing rumah masih berserakan, lingkungan menjadi bersih,” beber Abid Yusuf.

Pelaksana Tugas Kepala Desa Kunjir, Arlizon, menyebut hingga Minggu (13/1/2019) jumlah korban meninggal akibat tsunami di Lamsel sebanyak 119 orang, dan 25 orang di antaranya merupakan warga Desa Kunjir.

Selain korban meninggal, 845 warga luka-luka, warga mengungsi sebanyak 280 orang, rumah rusak berat 137 unit. Sebagian warga yang mengalami rumah rusak berat dan tidak bisa ditinggali akan dibuatkan hunian sementara (Huntara) berjumlah 83 unit, di area SMAN 1 Rajabasa Lamsel.

Arlizon, Plt Kepala Desa Kunjir, -Foto: Henk Widi

Arlizon menyebut, pada masa tanggap darurat penanganan bencana tsunami, sejumlah pembenahan terus dilakukan. Selain huntara, proses renovasi masjid Nurul Iman yang diterjang tsunami terus dilakukan oleh warga, relawan Front Pembela Islam (FPI) serta anggota TNI dari Korem 043 Garuda Hitam. Sebagian warga secara mandiri mulai melakukan pembenahan pada sejumlah rumah yang masih bisa ditempati.

Arlizon menyebut, sebagian warga di desanya mulai berusaha untuk melakukan aktivitas dengan normal. Kawasan pesisir Kunjir yang dikenal sebagai destinasi wisata bahari, pun mulai berbenah.

Meski sebagian kawasan ditetapkan tidak boleh didirikan bangunan, namun warga yang tinggal di dekat pantai berharap kawasan tersebut bisa bangkit kembali sebagai kawasan wisata.

Salah satu warga bernama Iyung, dibantu warga lain, mendirikan warung sementara di bekas reruntuhan rumahnya. Warung yang dibangun akan dipergunakan untuk berjualan kebutuhan warga, karena di kawasan tersebut warung yang ada sudah rusak.

Ia mengungkapkan, warga tidak ingin larut dalam kesedihan dan tetap ingin melakukan aktivitas perekonomian seperti sediakala.

“Kami ingin bangkit dan melanjutkan aktivitas, salah satunya dengan membenahi warung, agar bisa berjualan,” terang Iyung.

Rencananya, warung yang dibangun atas gotong royong dengan warga akan dipergunakan untuk berjualan minuman serta keperluan lain.

Akibat tsunami, sejumlah konter untuk berjualan pulsa sebagai sarana komunikasi sulit diperoleh. Meski mulai melakukan aktivitas mandiri dengan memasak serta kegiatan lain, ia menyebut sejumlah bantuan terus mengalir.

Bantuan terakhir mengalir dari komunitas suster Fransiskanes dari Gergorius Martir (FSGM) dan Orang Muda Katolik (OMK) asal Metro, berupa seragam sekolah serta kebutuhan pokok, termasuk peralatan memasak.

Baca Juga
Lihat juga...