Warga Terdampak Tsunami di Lamsel Mulai Beraktivitas

Editor: Koko Triarko

157

LAMPUNG – Pascabecana tsunami Selat Sunda, masyarakat di Dusun Minang Rua, Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, kembali melanjutkan pengerjaan akses jalan lingkungan, sepanjang lebih dari 1.500 meter.

Muhamad Yunus, ketua tim pelaksana pengerjaan akses jalan, menyebut, pekerjaan sempat terhenti akibat kejadian tsunami pada Sabtu (22/12/2018) silam.

Muhamad Yusuf, ketua tim pelaksana kegiatan pembangunan jalan rigid beton di Dusun Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Menurutnya, pada malam terjadinya peristiwa tsunami, sebagian besar warga pesisir pantai mengungsi ke dataran tinggi. Selain mengungsi di balai Desa Kelawi, sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat lain yang lebih aman.

“Sudah hampir beberapa hari setelah warga kembali dari pengungsian, aktivitas mulai normal kembali, seperti berkebun, bertani, meski untuk melaut belum bisa, karena alat tangkap perahu rusak,p ekerjaan pembuatan jalan rigid beton dilakukan dengan sistem padat karya,” terang Muhamad Yusuf, saat ditemui Cendana News pada proses pekerjaan pembuatan jalan rigid beton di Dusun Minang Ruah, Sabtu (5/1/2019).

Muhamad Yusuf menyebut, pada 2018 fokus pengerjaan infrastruktur jalan dilakukan pada jalan penghubung Dusun Minang Ruah dan Kelawi Dalam.

Akses jalan tersebut, sebagian dikerjakan pada tahap pertama sepanjang 800 meter, dan tahap kedua mencapai 747 meter. Pengerjaan jalan dengan sistem padat karya, memberdayakan masyarakat di wilayah tersebut. Sistem pengerjaan tersebut sakaligus memberi sumber penghasilan sementara bagi warga yang kehilangan pekerjaan.

Menurut Muhamad Yusuf, dua pekan setelah bencana tsunami, sektor pariwisata lumpuh. Imbasnya, warga tidak memiliki sumber penghasilan, dari bekerja sebagai pedagang, penyedia jasa penginapan serta jasa ojek perahu.

Bagan apung milik warga Dusun Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan masih dibiarkan rusak akibat tsunami pada Sabtu 22 Desember 2018 silam -Foto: Henk Widi

Pada proses pembangunan jalan rabat beton, Muhammad Yusuf mengaku membutuhkan 30 orang dari sejumlah dusun. Sesuai rencana anggaran biaya (RAB) jalan menggunakan dana desa tersebut, dibuat sepanjang 1.500 meter dengan lebar sekitar 3 meter.

“Pekerjaan membangun jalan setidaknya bisa menjadi pekerjaan sementara, agar warga bisa mendapatkan penghasilan setelah tsunami,” beber Muhamad Yusuf.

Melalui kegiatan pengerjaan akses jalan dengan sistem rabat beton, ia berharap perekonomian warga bisa cepat pulih. Pemulihan perekonomian warga bisa dilakukan dengan membuat akses jalan menuju ke wilayah pantai Minang Rua.

Meski sebagian fasilitas wisata rusak, warga juga mulai bangkit melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis), untuk membersihkan fasilitas wisata.

Selama ini, katanya, akses jalan dipergunakan sebagai fasilitas untuk pendistribusian hasil panen kebun warga, hasil ikan tangkapan nelayan, akses wisata serta jalur transportasi bagi warga.

Selama proses pengerjaan jalan, kendaraan roda empat masih belum bisa melintas, sehingga hasil kebun, seperti kelapa, pisang harus diangkut mempergunakan motor.

Salimin, salah satu nelayan, menyebut mulai memperbaiki perahu serta bagan apung yang rusak akibat tsunami. Menurutnya, sebagian besar nelayan masih belum bisa mencari ikan, sehingga hanya mengandalkan hasil perkebunan, seperti kelapa, pisang dan jagung.

Supadi, Kepala Dusun Minang Rua,Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

“Sebagian usaha warga dari sektor pertanian masih bisa jadi penolong, untuk menyokong ekonomi meski sementara waktu. Setelah perbaikan alat tangkap, warga bisa kembali mencari ikan,” beber Salimin.

Sementara itu, Supadi, Kepala Dusun Minang Rua, menyebut, dusunnya menjadi wilayah yang ikut diterjang tsunami dan mengalami kerusakan pada sejumlah fasilitas.

Meski tidak ada korban jiwa dan luka-luka, namun di wilayah tersebut terdapat dua rumah, serta 40 perahu dan sembilan bagan, rusak.

Selain itu, kerusakan pada amenitas pariwisata meliputi tempat Ibadah  1 unit, toilet 9 unit, kios kuliner  1 unit, kios souvenir  1 unit, kios warung 8 unit, cottage 2 unit, homestay 1 unit, gudang pelelangan ikan  3 unit, gudang Peralatan, gazebo Pantai 25 unit, landmark “Pantai Minangrua”  1 unit, Kano  3 unit.

Kerusakan tersebut hingga kini belum diperbaiki, menunggu anggota kelompok melakukan gotong royong.

“Warga yang belum memiliki usaha setelah tsunami, sebagian beralih profesi sebagai tukang ojek, atau bekerja pada proyek padat karya pembuatan jalan,” terang Supadi.

Supadi juga menyebut, bangkitnya masyarakat Dusun Minang Rua pascatsunami, sekaligus menjadi upaya warga, agar tidak larut dalam kesedihan.

Sejumlah warga melakukan aktivitas di kebun, sedangkan sebagian besar perahu milik nelayan masih dibiarkan rusak. Nelayan yang belum bisa memperbaiki perahu, sebagian mencari pekerjaan sebagai tukang bangunan pada proyek pembangunan rumah, untuk modal perbaikan perahu dan kebutuhan harian.

Baca Juga
Lihat juga...