Warga Tinjon Sleman Keluhkan Pencemaran Limbah Pabrik

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah warga di Dusun Tinjon, Madurejo, Prambanan, Sleman, mengeluhkan dampak aktivitas pabrik penambangan batu alam di kawasan sekitar desa mereka.

Pasalnya, limbah pabrik pemotongan batu tersebut telah menyebabkan pencemaran Sungai Kaligawe yang keberadaannya cukup vital bagi warga.

Salah seorang warga Dusun Tinjon, sekaligus Ketua RT 03, Marno, menyebut, limbah berupa endapan halus hasil sisa potongan batu alam itu mengakibatkan Sungai Kaligawe tercemar. Selain merusak ekosistem sungai, adanya limbah itu juga mengakibatkan sungai tidak bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

“Sungai menjadi kotor, warnanya putih pekat. Dulu sungai ini banyak ikannya, tapi sekarang tidak ada. Selain itu sungai ini juga biasa digunakan untuk memandikan ternak sapi, tapi karena tercemar sekarang peternak tidak berani. Sapi juga takut melihat air sungai berwarna putih seperti itu,” katanya.

Dampak lain pencemaran itu dikatakan Marno, ialah rusaknya mata air (belik) di sepanjang sekitar aliran sungai. Mata air atau belik menjadi dangkal dan tersumbat, sehinggga tidak mengeluarkan air saat musim kemarau. Padahal oleh warga belik-belik tersebut biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi atau mencuci.

“Di sekitar sini saja ada 3 belik. Semuanya kini tidak lagi digunakan warga karena airnya kotor,” ujarnya.

Menurut Marno, pencemaran Sungai Kaligawe tersebut sudah berlangsung cukup lama. Pihak warga sebenarnya juga sudah meminta pabrik pemotongan/penggergajian batu agar tidak membuang limbah di sungai. Namun dikatakan Marno mereka secara sembunyi-sembunyi tetap melakukan hal tersebut.

“Di kawasan Prambanan ini ada sekitar 30 lebih pabrik pemotongan atau penggergajian batu alam. Baik itu yang batu putih atau batu hitam. Sebenarnya masing-masing pabrik itu sudah punya tempat penampungan limbah. Tapi sayangnya ada beberapa pabrik yang jika sudah penuh lantas membuangnya ke sungai. Sama saja,” ujarnya.

Warga sendiri berharap agar pihak pemerintah dalam hal ini Pemkab Sleman dapat melakukan tindakan. Pasalnya, mereka sudah tidak memiliki kepercayaan pada pemerintah tingkat desa maupun kecamatan yang membiarkan hal itu secara berlarut-larut tanpa ada tindakan. Terlebih mereka tengah berencana mengembangkan kawasan dusun sebagai lokasi wisata baru.

“Kita ingin buat semacam tempat wisata baru di sekitar sungai ini. Kalau sungainya tercemar nanti bagaimana. Padahal yang kita jual adalah suasana asri dan alami daerah pinggiran sungai di tengah desa,” pungkasnya.

Lihat juga...