Weden Sawah

CERPEN M. FAIZUL KAMAL

368

WEDEN sawah adalah alat pengusir hama sawah tercanggih di Kampung Sukodu. Benda itu menjadi hantu ngeri saat malam hari, menakut-nakuti mereka yang tak salat jamaah Magrib dan mengaji di surau Eyang Kusnadi.

Begitulah cerita Kiai Suhairi, guru madrasah di kampung ini, agar para muridnya takut jika tidak berangkat ke surau.

Jika dilihat, weden sawah memang mengerikan. Terbuat dari bambu yang dipotong silang, dibentuk menyerupai manusia. Di bagian badannya dipasang baju lusuh kedodoran. Di kakinya, celana sobek tak beraturan.

Batok kelapa bercaping yang digambar hidung, mata, mulut, dan telinga ditaruh paling atas. Beberapa botol kaleng bekas dikalungkan di leher dengan satu kalar panjang sampai dangau. Meski aneh, seram, dan terkesan wagu (norak), weden sawah menjadi representasi manusia penjaga yang mengusir hama-hama nakal di persawahan.

Sore ini, ketika beberapa petani mulai pulang seusai berkubang di lumpur bersama padi-padinya, dan matahari akan segera tergelincir, di saat itulah anak-anak udik, sepulang dari mengaji di madrasah Kiai Suhairi, berangkat ke surau Eyang Kusnadi.

Sukibi, komandan anak-anak udik yang biasa ngaji di Kiai Suhairi dan Eyang Kusnadi, berjalan paling depan diikuti tujuh prajuritnya. Bukannya ke surau, mereka malah ke sawah, mencari weden sawah. Mereka penasaran dengan benda itu. Mereka merencanakan sesuatu.

Di sebuah jembatan kayu penghubung sawah dan jalan kampung, Sukibi memandang kanan-kiri, utara-selatan, mencari-cari keberadaan weden sawah. Setelah celingak-celinguk, Sukibi menemukannya di tengah-tengah lahan sawah yang luas.

Benda tersebut berada di satu petak sawah. Berdiri sendirian. Satu saja. Sejenak Sukibi berpikir tentang cerita weden sawah dari Kiai Suhairi. Alangkah ngeri weden sawah itu.

Sukibi menunjukkan benda tersebut kepada teman-temannya. Mereka terbelalak. Bukan menjadi hal aneh bagi mereka melihatnya, tetapi karena cerita dari Kiai Suhairi, mereka jadi was-was.

Mereka menuju tempat weden sawah, berjalan melintasi jalan setapak, dari petak-petak sawah yang luas, melewati padi-padi yang masak. Berjalan mengendap-endap, khawatir terpeleset, dan jatuh ke sawah yang becek, hingga membuat mereka bakal belepotan.

Sampai di sebuah dangau kecil beratapkan jerami bersanggakan bambu, sesuai rencana, mereka akan menunggu azan Magrib tiba, dan menunggu weden sawah itu berubah wujud menjadi hantu. Menunggu di dangau itu.

“Beneran kita akan menunggu sampai berubah jadi hantu?” Sukibi bertanya. Entah kenapa, dia yang mempunyai ide ini malah ragu.

“Iyalah, kamu kan yang punya rencana ini. Kok malah tanya ke kita.” Celoteh Rohmadi diiyakan enam temannya.

“Ya sudah. Kita tunggu sampai Manggreb,” kata Sukibi tak fasih bilang Magrib.
***
DI surau, Eyang Kusnadi menanti kedatangan kedelapan muridnya. Seusai menjadi imam salat Magrib di surau, ia menanti mereka di beranda sambil duduk dengan rokok yang disulutnya sedari tadi.

Setelah di beranda cukup lama, eyang merasa aneh karena tak ada satu pun di antara mereka yang datang. Ia berdiri. Melempar pandangannya ke jalan, sambil membatin, di mana anak-anak itu?! Mulai resah, eyang pun melangkah ke jalan.

Di sawah, anak-anak itu berdempet-dempetan di dangau kecil yang sewaktu-waktu bisa ambruk, terlalu banyak beban. Si Ali yang duduk paling kiri, nangis. Ia ingin pulang, tapi tak berani. Begitu juga teman-temannya, termasuk Komandan Sukibi.

Angin mengelebatkan padi-padi, dan atap dangau dari jerami. Sedangkan weden sawah itu, tampak semakin menakutkan. Gambar dua lingkaran membentuk bola mata, tampak mendelik-delik.

Betul memang, weden sawah itu berubah wujud. Berubah wujud semakin ngeri. Beberapa botol kaleng bekas yang dikalungkan di lehernya, berbunyi nyaring kerencang-kerencang, membuat takut anak-anak di dangau gelap tanpa penerangan.

Hanya sinar rembulan di atas sana yang kian terhalangi awan mendung. Angin berhembus semakin kencang, pantas jika mendung datang. Anak-anak itu menggigil, mendekap paha masing-masing; antara gigil dan ketakutan, berbaur dalam diri mereka.
***
“EYANG Kusnadi! Monggo duduk,” kata Harun, bapak Sukibi.

“Nggak usah repot-repot. Kedatangan saya ke mari untuk menanyakan keberadaan Sukibi, apakah ia sakit atau ada urusan lain sehingga tidak ngaji ke surau?” tanya Eyang Kusnadi sedikit sungkan.

Baca Juga

“Loh!” Bu Sini terkaget. “Tadi Sukibi pamit ngaji ke surau.”

“Iya, dia tadi pamit ngaji ke surau,” timpal Harun.

“Dia tidak mengaji bersama saya. Teman-temannya juga tidak datang ke surau. Ke mana ya mereka.”

“Ke mana ya mereka?” tanya Harun. Istrinya terlihat sangat khawatir.
***
MALAM pukul dua belas. Kedelapan anak itu tidak kunjung pulang. Hujan semakin deras. Orangtua mereka berkumpul di surau Eyang Kusnadi, ada yang menangis, meraung-raung. Ada juga yang menyalahkan Eyang, entah apa alasannya.

“Jangan-jangan mereka diculik,” kata Rumini, istri Eyang Kusnadi yang terkenal ceplas-ceplos.

Mendengar perkataan itu, orangtua mereka semakin khawatir.

“Jangan bilang gitu, Mbah!” kata Eyang Kusnadi seidikit gusar.

Sampai malam lewat larut, anak-anak itu tidak kunjung pulang. Eyang Kusnadi dengan sikap bijaknya, berkata, “Lebih baik, ibu-ibu dan bapak-bapak pulang saja sekarang. Besok, kita minta tolong warga lainnya untuk mencari keberadaan anak-anak kalian.”
***
KEESOKAN  hari, hampir semua warga berkumpul di pos ronda, merencanakan sesuatu; ekspedisi pencarian orang hilang. Dipimpin ketua RW, warga mendengarkan arahan, sebelum kemudian mencari anak-anak yang hilang.

Hampir semua warga mengikuti ekspedisi itu. Namun, ada beberapa warga yang tidak ikut ekspedisi, mereka adalah Sumenten dan Kardikun, sepasang suami-istri pemilik weden sawah.

Kardikun dan Sumenten dikenal pendiam. Sumenten bahkan dianggap gila oleh sebagian warga, tapi tidak sepenuhnya gila. Ia seperti punya beban berat dalam hidup hingga ketika ada orang yang memandangnya, wajah Sumenten selalu masam, merengut.

Dengan cangkul, arit, dan caping yang dipakai di kepala, mereka berjalan ke sawah. Berjalan menapaki jalan setapak yang begitu licin.

Sesampainya di dekat dangau, mereka kaget melihat anak-anak kampung berpakaian rapi seperti akan mengaji. Mereka tidur berselimut sarung. Berdesak-desakan di dangau miring yang hampir ambruk.

Di antara mereka, ada satu anak yang tidak tidur, matanya memerah, tampak ketakutan dan rasa lelah begitu lekat terlihat di rona wajahnya. Ia adalah Komandan Sukibi.

Sementara, di tengah-tengah sawah, weden sawah telah ambruk, entah siapa yang merusak benda pengusir hama tercanggih itu. Sementara Si Sukibi, setelah melihat keberadaan Sumenten dan Kardikun, rona wajahnya tampak terang. Sebentar kemudian, ia memandang ke weden sawah begitu geram.

“Kau apakan anakku?!” teriak Sumenten mengacungkan arit.

Anak-anak itu ada yang terbangun, ada juga yang masih terlelap. Mendengar perkataan nenek itu, Sukibi takut, ia merasa bersalah.

Ketika banyak yang terbangun, dangau menjadi semakin miring, tanahnya ambles. Tak lama lagi, dangau itu ambruk. ***

Catatan:
Weden: Bahasa Jawa berarti hantu.

M. Faizul Kamal, lahir di Kudus, Jawa Tengah, 4 September 2000. Belajar di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari, bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

Baca Juga
Lihat juga...