Adenium di Mekarsari, Tanaman Hias Cantik Saudara Kamboja

Editor: Satmoko Budi Santoso

442

BOGOR – Daya tarik adenium adalah bunganya lebat dan bonggol batang yang besar. Sehingga sangat bagus untuk dijadikan bonsai dan tanaman hias. Bagi masyarakat Tionghoa, warna merah bunga adenium memiliki makna keberuntungan dan kesejahteraan.

Adenium merupakan tanaman yang berasal dari daerah gurun. Habitat aslinya tersebar dari Afrika Selatan, pantai timur Afrika hingga negara Timur Tengah.

Staf Agro Taman Buah Mekarsari, Sodikin, memaparkan, akar Adenium memiliki fungsi sebagai penyimpan cadangan makanan, sehingga ukuran akarnya dapat membesar dan membentuk bonggol.

“Dengan kelebihannya ini, Adenium merupakan salah satu tanaman yang bagus untuk dijadikan bonsai. Pemakaian pot yang ceper akan semakin menunjukkan kecantikan bonggol Adenium,” kata Sodikin, Sabtu (9/2/2019).

Batang adenium sendiri, mampu menyimpan cadangan air. Seperti layaknya tanaman lainnya yang berasal dari daerah gurun.

Adenium obesum L. yang ada di Taman Buah Mekarsari – Foto: Ranny Supusepa

“Batangnya mampu bertumbuh banyak. Ada yang lentur dan ada juga yang kekar,” ujar Sodikin.

Bentuk daun adenium memiliki banyak variasi tergantung pada varietasnya. Ada yang memiliki lanset ujung bulat dan runcing, ada yang panjang dan runcing. Sementara daunnya ada yang berbulu halus dan ada yang mengkilap licin tanpa bulu.

“Bunga adenium mirip terompet. Dengan ukuran bervariasi antara 2-8 cm. Mahkotanya ada yang berbentuk bintang, bergerigi, ujung terpotong atau peta membulat. Warnanya juga bervariasi. Ada yang putih polos, putih kekuningan, loreng, merah tua, merah muda, hingga semburat warna warni,” kata Sodikin.

Adenium pun memiliki buah. Bentuknya pipih panjang yang terletak di ujung tunas.

“Biasanya buah adenium berpasangan. Saat muda berwarna hijau dan berubah menjadi hitam saat tua. Kalau sudah matang, buahnya akan pecah dan mengeluarkan biji yang berbulu, berkulit tipis dan berongga,” ucap Sodikin lebih lanjut.

Tampilan fisik ini membuat biji adenium mudah diterbangkan oleh angin dan tumbuh berkembang biak di lokasi lainnya.

Sodikin memaparkan bahwa adenium ini walaupun memiliki nama lain Kamboja Jepang, tapi bukan termasuk ke dalam tanaman Kamboja.

“Adenium ini termasuk genus Adenium, sementara Kamboja masuk ke dalam genus Plumeria. Memang keduanya berada dalam famili yang sama, yaitu Apocynaceae. Tapi tampilan mereka berbeda. Adenium memiliki batang dan umbi gemuk dengan penampakan tumbuh yang pendek. Sementara Kamboja merupakan tanaman perdu yang mampu tumbuh tinggi dengan batang kecil dan tidak memiliki umbi pada akar,” papar Sodikin.

Karena tipikal Adenium sebagai tanaman gurun, Sodikin menyatakan, media tanam Adenium tidak boleh terlalu basah. Karena jika terlalu basah akan berpotensi menyebabkan kebusukan pada akar.

“Adenium ini cocok untuk orang sibuk tapi ingin punya tanaman hias. Penyiramannya hanya butuh seminggu sekali saja,” kata Sodikin lebih lanjut.

Untuk perkembanganbiakannya, digunakan sistem vegetatif stek batang.

“Batang yang kita gunakan itu sekitar 25 cm, yang sudah disiapkan daun 2 halal saja untuk mengurangi penguapan. Kita kasih ZPT lalu dibiarkan kering selama kurang lebih 8 hari. Baru ditanam di media tanam campuran sekam dan arang bakar,” ucap Sodikin.

Untuk mencegah tanaman menjadi busuk, Sodikin menyatakan jangan diberikan pupuk hingga akar tumbuh sempurna dan luka menutup.

“Ini sekitar 2 minggu. Penyiramannya tanaman hanya cukup sekali setiap tiga hari saja,” ujarnya.

Saat berbunga, akan ada banyak hama dan penyakit yang menyerang Adenium.

“Ada kutu daun dan kutu putih yang bisa menyerang pucuk muda, cacing tanah, fungus gnat yang menyebabkan kebusukan bunga, kutu akar dan semut. Selain itu, ada juga beberapa jenis bakteri, infeksi jamur dan virus,” kata Sodikin lebih lanjut.

Untuk menghindari semua serangan ini, Sodikin mengatakan, sangat penting untuk memelihara kebersihan lingkungan tumbuh, melakukan perawatan yang baik dan membuang serangga pengganggu sebelum banyak.

Lihat juga...