Akademisi Ingatkan Sosialisasi Upaya Migitasi Bencana, Berkelanjutan

303
Ilustrasi bencana, Dok: CDN

PURWOKERTO — Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah, Dr. Endang Hilmi, mengingatkankan pentingnya sosialisasi mengenai upaya pengurangan risiko bencana atau mitigasi bencana kepada masyarakat.

“Terus sosialisasikan mengenai upaya mitigasi bencana, secara berkelanjutan dan berkesinambungan guna mengurangi dampak risiko yang ditimbulkan akibat bencana,” katanya di Purwokerto, Minggu (3/2/2019).

Endang Hilmi yang merupakan Kepala Pusat Mitigasi Bencana Unsoed tersebut mengatakan, beberapa waktu belakangan telah terjadi bencana alam di sejumlah wilayah di Tanah Air dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit.

“Misalkan bencana tsunami Palu dan Selat Sunda, yang menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Perlu dikaji lagi apakah upaya mitigasi bencana sudah optimal,” ucapnya dengan nada bertanya.

Untuk itu di masa mendatang, kata dia, upaya mitigasi bencana harus terus dioptimalkan, sosialisasi kepada masyarakat harus terus dilakukan.

“Salah satu tujuannya agar masyarakat memahami tanda-tanda alam yang biasanya mengawali datangnya tsunami serta mengetahui jalur evakuasi, dan untuk itu diperlukan peran strategis dari seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Untuk mengoptimalkan upaya mitigasi bencana, perlu melibatkan sejumlah pihak terkait, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, hingga seluruh lapisan masyarakat.

Dia juga menambahkan upaya mitigasi bencana juga perlu didukung oleh sistem peringatan dini yang optimal.

Dengan sistem peringatan dini yang optimal di semua wilayah pesisir di Indonesia dan ditambah dengan adanya peta kerawanan bencana yang menyeluruh maka diharapkan dapat mendukung upaya pengurangan risiko bencana, katanya.

Sementara itu, dia juga mengingatkan bahwa fasilitas pariwisata yang berada di pesisir pantai harus memperhatikan pentingnya penghalang gelombang pasang.

“Jalur hijau untuk mengantisipasi gelombang pasang juga harus diperhatikan, pohon kelapa, pohon ketapang, hutan bakau dan lain sebagainya bisa menjadi waterbreak,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...