Amankan Nyepi, Pemkot Denpasar Libatkan Semua Komponen

Editor: Satmoko Budi Santoso

396

DENPASAR – Mengamankan prosesi pelaksanaan peringatan hari raya Suci Nyepi, Pemerintah Kota Denpasar terus memaksimalkan persiapan dengan melibatkan seluruh komponen.

Satuan Polisi Pamong Praja Kota Denpasar telah mematangkan persiapan agar prosesi perayaan hari Raya Suci Nyepi berjalan dengan aman dan damai.

“Melalui pertemuan ini kita lebih mematangkan persiapan pengamanan untuk prosesi perayaan hari Suci Nyepi. Terutama dalam prosesi pengarakan ogoh-ogoh,” ujar Kasatpol PP Kota Denpasar, I Dewa Sayoga, saat memimpin pertemuan yang melibatkan kepolisian, TNI, tokoh masyarakat serta kepala desa/lurah, Kamis (21/2/2019).

Menurutnya, pengarakan ogoh-ogoh menjadi rawan karena saat mengarak sering bertemu antara ogoh-ogoh satu dengan lainnya. Terlebih lagi musik yang digunakan adalah sound system. Dengan adanya keputusan wali kota melarang penggunaan sound system dan pengeras suara saat pengarakan ogoh-ogoh, sangat membantu mewujudkan suasana damai.

Untuk itu pihaknya juga berharap, semua komponen masyarakat dan tokoh masyarakat, turut menyosialisasikan kesepakatan bersama tentang pelarangan penggunaan sound system dan pengeras suara saat pengarakan ogoh-ogoh. Mengingat ogoh-ogoh merupakan kearifan lokal, maka sepatutnya dalam pengarakan ogoh-ogoh juga harus diiringi dengan gamelan tradisional.

“Bila saat pengarakan ogoh-ogoh masih ada yang menggunakan sound system dan alat pengeras suara pihaknya bersama aparat kepolisian dan TNI serta tokoh masyarakat akan melaksanakan tindakan tegas, menyita sound system dan alat pengeras suara. Hal itu melanggar Perda No.1 tahun 2015 tentang ketertiban umum,” Dewa Sayoga.

Terlebih lagi, kata Sayoga, diperkirakan di Kota Denpasar terdapat ribuan ogoh-ogoh yang akan keliling di masing-masing wilayah. Tentunya juga menjadi potensi sangat besar menimbulkan gesekan.

Disamping itu menurut Sayoga tahun ini merupakan tahun politik, tentu diharapkan jangan sampai terjadi hal-hal tidak diinginkan. Pihaknya juga sudah memetakan beberapa titik rawan yang menjadi atensi dalam pengarakan ogoh-ogoh mulai dari kemacetan hingga pada menimbulkan bentrokan antara pengarak ogoh-ogoh.

“Semua itu bisa dihindari bila kita sama-sama bergandeng tangan untuk menjaga keamanan,” ujarnya.

Kasi Pelestarian Adat Tradisi Masyarakat, Ngurah Jalanjana, menyampaikan, ogoh-ogoh yang telah terdaftar di Dinas Kebudayaan yang mengikuti lomba sebanyak 163 ogoh-ogoh dari empat kecamatan.

Dari jumlah tersebut, hanya dipilih 8 besar ogoh-ogoh yang akan mendapat penghargaan. Untuk prosesi pengarakan ogoh-ogoh, pihaknya menyerahkan sepenuhnya di lingkungan masing-masing.

“Selain saat pawai ogoh-ogoh juga saat pelaksanaan pemelastian menjadi perhatian pihak keamanan. Mengingat pelaksanaan pemelastian melibatkan masyarakat yang sangat besar,” pungkas Jalanjana.

Baca Juga
Lihat juga...