“Backlog” Rumah di balikpapan Capai 12.000 Unit

Editor: Mahadeva

303

BALIKPAPAN – Kebutuhan rumah atau backlog di Balikpapan mencapai 12.000 unit. Di 2018, pengembang telah membangun 3.000 unit.

Rumah yang terbangun tersebut mayoritas rumah subsidi atau rumah yang masuk dalam program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), atau program subsidi pembiayaan kepemilikan rumah tinggal bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Balikpapan Ketut Astana – Foto Ferry Cahyanti

“Kebutuhan rumah itu setiap tahun dipenuhi secara bertahap. Tapi berdasarkan backlog, tercatat ada 12 ribu unit, dan di 2018 telah terbangun 3.000 unit,” terang Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Balikpapan, Ketut Astana, Senin (12/2/2019).

Menurutnya, realisasi pembangunan rumah di 2018 tidak mencapai target sebanyak 5.000 unit. Namun upaya yang dilakukan, untuk memenuhi kebutuhan rumah akan terus dipenuhi hingga 2024 mendatang. “Dipenuhi itu kalau developernya tetap komitmen, karena konsumen juga masih lesu untuk permintaan menengah ke atas. Sehingga permintaan yang tinggi adalah rumah subsidi,” tandasnya.

Sepinya peminat perumahan dengan harga di atas Rp500 juta, dikarenakan kondisi ekonomi yang tengah menurun. Dirinya berharap, setelah adanya pengembangan kilang atau RDMP, nantinya dapat mendorong perekonomian Balikpapan. “Sejak pada 2016 lalu memang turun drastis. Kemudian 2017 juga turun. Nah pada 2018 ini mulai naik tapi tidak signifikan,” sebutnya.

Tercatat, jumlah developer di Balikpapan ada 200-an. Namun, yang aktif hanya 20-an saja. “Itu pun yang aktif kebanyakan yang besar-besar. Seperti developer Balikpapan Baru, Regency, Wika, dan perumahan subsidi di kawasan kilometer enam,” ucapnya.

Ketut menargetkan, pembangunan rumah di 2019 juga mencapai 3.000 unit. “Secara bertahap kita penuhi terus sesuai dengan backlog,” tutupnya.

Lihat juga...