Bakso Krakatau, Dibelah Keluarkan Sambal Mirip Magma

Editor: Koko Triarko

436

LAMPUNG – Kuliner bakso yang terbuat dari tepung aci dan daging sapi, sudah tidak asing bagi sebagian besar masyarakat di banyak daerah. Namun di setiap daerah, bakso memiliki ciri khas tersendiri, misalnya, ‘Bakso Krakatau’, berikut ini.  

Nurkholim (39), pemilik usaha kuliner di Jalan Lintas Pantai Timur(Jalinpatim), Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, membuat kreasi bakso yang memiliki ciri khas agar mudah diingat, yaitu Bakso Krakatau.

Seperti bakso pada umumnya, Bakso Krakatau dibuat dari bahan daging sapi, aci, dan rempah-rempah. Namun, ia membuat dengan ukuran lebih besar dari ukuran bakso normal. Selain itu, di bagian dalam baksonya, diberi enam bakso ukuran kecil. Juga sambal cabai merah yang disebutnya sambal setan.

Nurkholim, pemilik usaha bakso Krakatau menyiapkan bakso yang sudah dibuat untuk direbus -Foto: Henk Widi

Nurkholim mengatakan, bakso buatannya diberi nama Krakatau, karena sebagai warga Lampung Selatan, nama gunung tersebut cukup dikenal.

Ia pun mengkreasikan bakso Krakatau tersebut dengan bentuk mengerucut seperti kepundan gunung Krakatau. Saat dibelah menjadi empat bagian, bakso akan mengeluarkan lelehan sambal cabai merah, bakso ukuran kecil menyerupai lelehan magma dan material vulkanik gunung berapi.

“Konsep membuat bakso Krakatau memang bermula dari nama gunung Krakatau atau sekarang Anak Gunung Krakatau yang sudah dikenal sejak lama, dan ternyata justru ciri khas tersebut membuat bakso buatan saya dikenal penikmat kuliner,” terang Nurkholim, saat ditemui Cendana News, Sabtu (23/2/2019).

Nurkholim menyebut, cara membuat bakso Krakatau terbilang sederhana, karena menyerupai pembuatan bakso pada umumnya. Hanya saja, ukuran bakso yang lebih besar membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat satu bulatan bakso. Bahan yang diperlukan berupa tepung aci atau tepung kanji, daging sapi giling, urat, bawang putih, telur, lada, dan penyedap rasa. Semua bahan dibuat menjadi adonan, selanjutnya dicetak secara manual dengan tangan beralas plastik.

Berbeda dengan adonan bakso ukuran kecil, setelah bakso berbentuk bulat, bagian tengah bakso Krakatau akan diberi isian. Isian yang diberikan merupakan sambal cabai merah yang sudah diblender, dan isian berupa bakso bulat ukuran kecil.

Saat bakso tersebut dipesan oleh pelanggan, Nurkholim akan merebus bakso Krakatau sekaligus menyiapkan kuah untuk penyajian. Kuah yang dibuat merupakan campuran tulang sapi yang sudah diberi bumbu bawang putih, merica, kemiri hingga menjadi kaldu.

“Saat ada pesanan bulatan bakso Krakatau direbus sebentar agar lebih lunak, diletakkan pada mangkuk lalu dibelah dan diberi siraman kaldu,” beber Nurkholim.

Bentuk bakso yang bulat mengerucut seperti gunung, sebut Nurkholim, membuat teknik penyajian harus pas. Posisi kerucut pada bagian atas bakso harus dibuat pas, karena saat dibelah bentuknya akan semakin terlihat seperti kepundan gunung dengan lelehan sambal cabai merah meleleh dari dalam bakso Krakatau.

Bakso yang disajikan di awal disajikan tanpa tambahan kecap, saos tomat, hanya diberi taburan kecambah kacang hijau, daun bawang cincang, bawang goreng, irisan tahu isi serta lemak.

Namun demikian, Nurkholim juga menyediakan bakso urat dengan ukuran standar. Sehari, bakso Krakatau yang dibuat juga hanya 20 buah, sehingga kerap pelanggan yang akan datang harus memastikan ketersediaan bakso Krakatau buatannya.

Pembuatan bakso dalam jumlah terbatas tersebut, agar bakso dalam kondisi segar, dan menghindari membuat bakso Krakatau dalam jumlah banyak dan menyimpannya dalam lemari pendingin.

“Saya menjaga kualitas rasa bakso Krakatau yang dibuat, sehingga membatasi porsi, sehari dipastikan habis karena terbatas,” beber Nurkholim.

Satu porsi bakso Krakatau yang disajikan ke pelanggan, dibandrol Rp25.000. Jumlah yang terbatas, hanya 20 porsi, membuat ia kerap mendapat pesanan melalui Facebook dan WhatsApp, sebelum pelanggan datang.

Sarana media sosial diakuinya ikut membuat bakso Krakatau semakin dikenal. Setiap hari, warung bakso Krakatau buka dari jam 09.00 pagi hingga 23.00 WIB.

Dibantu Muhidin (40) sang suami, penataan warung bakso Krakatau sebagai tempat yang nyaman untuk bersantai juga terus dilakukan.

Alina, warga Labuhan Ratu, Lampung Timur menikmati sajian bakso Krakatau -Foto: Henk Widi

Meski bakso Krakatau sudah habis, pelanggan masih bisa menikmati bakso urat, mie ayam serta soto ayam di warung miliknya. Sehari, pengunjung kerap datang perseorangan dan sebagian secara rombongan.

Pada saat acara-acara khusus seperti usai arisan, sejumlah ibu rumah tangga kerap mendatangi warung bakso Krakatau miliknya. Menu soto ayam, bakso urat, mi ayam dan sejumlah minuman segar juga disediakan.

Pelanggan yang mendominasi disebutnya dari wilayah Lampung Selatan, namun kerap di antaranya dari kabupaten Lampung Timur.

Alina, salah satu pelanggan bakso Krakatau asal Labuhan Ratu, Lampung Timur, mengaku kerap berburu kuliner unik. Ia mengaku semula penasaran dengan keberadaan bakso kuliner yang ada di kabupaten tetangga tempat ia tinggal, yakni di Lampung Timur.

Menurutnya, keunikan bakso Krakatau selain bentuknya menyerupai kepundan gunung, di dalamnya ada ”jebakan” sambal nan pedas. Meski mendapat jebakan sambal nan pedas, namun bonus bakso kecil di dalamnya membuatnya menyukai bakso Krakatau.

“Saya datang jauh-jauh dari Lampung Timur kerap hanya untuk menikmati bakso Krakatau, dan sudah sering menikmati di sini kadang dibawa untuk oleh oleh keluarga,” terang Alina.

Alina juga menyebut, selain bentuk yang unik, rasa daging sapi pada bakso terasa di lidah. Porsi adonan antara tepung, bumbu dan urat sapi juga sangat terasa, ditambah rasa dan aroma bumbu yang memikat.

Satu porsi bakso Krakatau, kata Alina, cocok dinikmati saat musim hujan, dengan bumbu rempah bisa menghangatkan tubuh. Keunikan dan kualitas rasa disebutnya cukup sebanding dengan harga sekaligus mengobati rasa lapar.

Baca Juga
Lihat juga...