Bali Miliki Pabrik Penetasan Ayam Lokal di Bangli

251
Ilustrasi [Dok. CDN

JAKARTA — Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mengapresiasi pembangunan pabrik penetasan (hatchery) ayam lokal terbesar di luar Pulau Jawa, yakni di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

“Ini adalah satu-satunya pabrik penetasan ayam lokal terbesar di Indonesia Timur,” kata Kasubdit Unggas dan Aneka Ternak, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Makmun dalam keterangan tertulis Kementan yang diterima di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Apresiasi itu disampaikan Makmun pada peresmian hatchery unggas lokal milik PT Sumber Unggas Indonesia di Desa Penglumbaran Kecamatan Susut Kabupaten Bangli Provinsi Bali, Senin.

Dalam sambutan pada acara iti, Makmun mengapresiasi PT Sumber Unggas yang telah membangun cabang usahanya di Bali dan pabrik penetasan ini adalah yang pertama dan terbesar berada di luar Pulau Jawa.

Berdasarkan data Statistik Peternakan, saat ini produksi dan populasi ayam lokal terus bertambah dari tahun ke tahun. Populasi selama 4 tahun terakhir yaitu pada 2014 sebanyak 275 juta ekor, 2015 sebanyak 285 juta ekor, 2016 sebanyak 294 juta ekor, 2017 sebanyak 299 juta ekor dan data sementara populasi tahun 2018 sebanyak 310 juta ekor.

Produksi ini sangat jauh jika dibandingkan dengan produksi ayam broiler yang tahun 2018 mencapai angka 3,2 miliar ekor.

Sementara itu, populasi ayam lokal di Bali dalam 5 tahun terakhir sebagai berikut tahun 2014 sebanyak 4,11 juta ekor, 2015 sebanyak 4 juta ekor, tahun 2016 sebanyak 3,94 juta ekor, tahun 2017 sebanyak 3,26 juta ekor dan tahun 2018 sebanyak 3,28 juta ekor.

Makmun mengatakan bahwa usaha ayam lokal ini tidak hanya berhenti pada pabrik penetasan, tetapi juga harus menghadirkan pembibitan (breeding) ayam lokal di Bali untuk dapat memasok kebutuhan ayam DOC (ayam berumur 10-14 hari) di Provinsi Bali, NTB dan NTT.

Sementara itu di tempat terpisah, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, mengapreasiasi adanya pabrik penetasan ayam lokal ini.

Ia menyebutkan bahwa kebutuhan ayam lokal di Bali terus meningkat yaitu untuk kebutuhan kuliner dan upacara adat yang dapat berlangsung setiap hari, sedangkan produksi dan populasi ayam lokal di Bali tidak imbang dengan jumlah kebutuhan.

“Dengan hadirnya hatchery di Kabupaten Bangli ini, saya berharap dapat meningkatkan populasi, gairah beternak dan kesejahteran para peternak,” kata Ketut.

Direktur PT SUI, Naryanto, menyebutkan bahwa kapasitas hatchery saat ini sudah mampu memproduksi ayam DOC sebanyak 30.000 ekor per minggu atau 120.000 ekor per bulan.

“Kami bersyukur produksi selama Februari 2019 ini telah habis dipesan oleh para peternak di Bali dan NTB. Kami juga berencana akan membangun pabrik pembibitan di Bali sesuai saran Dirjen PKH,” kata Naryanto. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...