Banyak Warga Yogyakarta Masih Buang Limbah ke Sungai

202
Sampah di sungai, ilustrasi -Dok: CDN

YOGYAKARTA – Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, menemukan banyak warga yang belum memiliki kesadaran lingkungan, karena masih membuang limbah rumah tangga secara langsung ke sungai.

“Limbah yang dibuang ini bahkan berasal dari toilet. Mereka membuang melalui pipa-pipa yang langsung menuju sungai. Kami istilahkan pipa-pipa itu sebagai ‘meriam’,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Pemantuan Lingkungan dan Limbah B3 DLH Kota Yogyakarta, Peter Lawoasal, di Yogyakarta, Minggu (24/2/2019).

Menurut dia, petugas kebersihan sungai kerap menjadi saksi mata atas masih banyaknya warga yang membuang limbah rumah tangga secara langsung ke sungai.

“Mereka melihat secara langsung, bahkan seringkali terkena kotoran dari limbah yang dibuang secara langsung ke sungai. Memang, risiko petugas kebersihan adalah bersinggungan dengan sampah, tetapi akan lebih baik jika masyarakat memiliki kesadaran untuk mengolah limbahnya sebelum dibuang ke sungai,” katanya.

DLH Kota Yogyakarta, lanjut Peter, sudah kerap memberikan sosialisasi dan menegur warga yang membuang limbah secara langsung ke sungai, agar membuat septic tank.

Namun, warga selalu beralasan tidak memiliki lahan yang cukup untuk membuat septic tank, sehingga memilih membuang limbahnya secara langsung ke sungai.

“Padahal, septic tank tersebut bisa dibangun di bawah ruang tamu atau di lokasi lain di rumah. Saya kira, alasan tidak memiliki lahan bukan alasan yang tepat,” katanya.

Peter mengatakan, petugas DLH Kota Yogyakarta sudah melakukan pendataan terhadap “meriam-meriam” di sepanjang sungai yang membuang limbah secara langsung.

“Ada ribuan di seluruh sungai di Kota Yogyakarta. Paling banyak, terdapat di Sungai Manunggal, karena di lokasi tersebut juga banyak pondokan,”ujarnya.

Selain menegur pemilik rumah yang masih membuang limbah secara langsung ke sungai, DLH Kota Yogyakarta juga melakukan kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Sekarang, sudah ada beberapa lokasi yang dilengkapi dengan biofil, agar limbah tidak langsung dibuang ke sungai,” katanya.

Jika pembuangan limbah secara langsung ke sungai tetap dilakukan, maka dikhawatirkan tingkat pencemaran sungai akan semakin tinggi, sehingga menurunkan kualitas lingkungan.

“Bakteri e-coli akan meningkat,” ujar Peter.

Selain dari limbah rumah tangga, pencemaran sungai juga terjadi dari limbah usaha kecil mikro (UKM) batik yang menggunakan pewarna kimia.

“Kami bekerja sama dengan Balai Kulit untuk membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk perajin batik. Jika limbah dibuang langsung, maka akan meningkatkan kandungan unsur kimia di air sungai,” katanya.

Peter berharap, Pemerintah Kota Yogyakarta dapat menyusun aturan terkait pembuangan limbah ke sungai, meskipun larangan tersebut sudah diatur melalui UU. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...