Beasiswa Supersemar Membantu Perekonomian Keluarga

Editor: Mahadeva

282
Endah Dianty Pratiwi, Scientist PT. Prodia Stemcell Indonesia, Penerima Beasiswa Unggulan Supersemar. Foto, M. Fahrizal

JAKARTA – Endah Dianty Pratiwi, Alumni Fakultas MIPA, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), adalah salah satu dari tiga penerima beasiswa Supersemar di kampusnya. Saat itu, UNJ hanya mendapatkan kuota tiga orang penerima beasiswa Supersemar.

Endang Dianty Pratiwi, menerima beasiswa supersemar pada 2010 dan 2011 atau dua tahun berturut-turut. Setiap tahun Dia mendapatkan beasiswa sebesar Rp10 juta. Endah, yang saat ini bekerja sebagai Scientist di PT. Prodia Stemcell Indonesia, mengatakan, beasiswa supersemar merupakan program dari Yayasan Supersemar. Yayasan yang didirikan oleh Presiden ke-dua Indonesia H.M. Soeharto.

Beasiswa tersebut diakuinya, sangat membantunya saat kuliah. Saat masih duduk dibangku kelas tiga SMA, Endah sudah ditinggal meninggaldunia bapak (meninggal di 2008). Hal itu membuatnya, hanya memiliki seorang ibu rumah tangga, yang harus berjuang menghidupi lima orang anak. Salah satu adik-nya, lulus SMK langsung bekerja selama dua tahun, kemudian bekerja sambil kuliah. Sementara adik bungsu, duduk di bangku SMP dibiayai oleh kerabat.

Ketika masuk kuliah, Dirinya sudah mendapatkan beasiswa dari yayasan yang ada di dekat rumah tinggalnya. Bantuan yang diterima, untuk biaya keperluan masuk kampus dan kebutuhan awal lainnya. Setelah masuk kuliah, mencari informasi seputar beasiswa di kampus. Beruntung, langsung mendapatkan beasiswa unggulan. Dengan beasiswa yang diterima, Endah dapat membayar uang kuliah, yang satu semester di kala itu sebesar Rp1,6 juta.

Dalam satu tahun, uang beasiswa yang diterima terpakai sekira Rp4 juta. Sisa-nya dapat membantu kehidupan keluarga, sehingga ibu tidak kesusahan memikirkan keseharian anak-anaknya.    Namun, perjuangan untuk mendapatkan beasiswa tersebut termasuk susah. Untuk bisa mendapatkannya, harus mempertahankan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,9.

Sementara, persaingan untuk mendapatkan Beasiswa Supersemar sangat berat. Sementara kehidupan di kampus, membawanya harus membagi waktu selain untuk belajar, juga aktif di organisasi kampus, menjadi pengajar guru private, dan juga berjualan. “Masuk kuliah 2009, mendapatkan beasiswa unggulan di 2010. Dan beasiswa yang saya terima sangat-sangat membantu untuk keperluan kuliah. Pertama kali punya notebook untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah ya, dari uang beasiswa. Mungkin jika tidak mendapatkan Beasiswa Supersemar, saya tidak akan kuliah,” tutur Endah kepada Cendana News, Kamis (14/02/2019).

Menurutnya, beasiswa supersemar berbeda dengan beasiswa biasa atau beasiswa non unggulan. Untuk mendapatkan beasiswa unggulan supersemar, proses seleksinya hingga sampai rektor. Ada proses wawancara yang dilakukan bertahap. Mulai dari jurusan, yang kemudian merekomendasi dan mendaftarkan ke fakultas. Setelah proses penyaringan atau pemilihan, barulah nama-nama terpilih diberikan ke universitas.

Semua fakultas mengirimkan calon penerima beasiswa, dan kemudian universitas hanya memilih tiga penerima yakni dirinya dari Fakultas MIPA, kemudian penerima lain dari Fakultas Bahasa Sastra (FBS), dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Tiga orang penerima beasiswa unggulan supersemar, selain harus mempertahankan IPK diatas 3,9. Syarat yang dinilai lainnya adalah, juga aktif dan berprestasi tidak hanya di akademik tetapi juga non akademik.

Kala itu, Endah aktif di BEM Jurusan dan fakultas. Pada 2011, Endah mewakili Fakultas MIPA maju dalam Mahasiswa Berprestasi (Mapres) yang diadakan Universitas. Mengikuti ajang olimpiade sains tingkat nasional 2012 di Surabaya mewakili UNJ, dan masuk ke final di ajang tersebut. “Ajang olimpiade diikuti oleh seluruh universitas di Indonesia dengan penyelenggaranya Dikti. Proses mengikuti ajang bergengsi tersebut melalui proses tahapan seleksi wilayah Jakarta, setelah lolos seleksi wilayah Jakarta, masuk 50 besar nasional yang kemudian dikirim ke Surabaya untuk mengikuti lomba,” jelasnya.

Setelah lulus di Oktober 2013, sebulan kemudian Endah bekerja di Solo. Selama tiga tahun bekerja di bidang yang sama seperti saat ini. Kemudian menikah, dan kembali ke Jakarta, dan mendapatkan pekerjaan di tempat yang sekarang ini.

Endah menyebut, Beasiswa Supersemar sangat penting dan sangat bermanfaat. Jika di 2009, uang kuliah sudah mencapai Rp1,6 juta. Saat ini biaya kuliah jauh lebih mahal lagi. Sehingga, banyak yang ingin kuliah namun keterbatasan ekonomi menjadi penghalang. Beasiswa supersemar sangat membantu dan menolong. Sangat disayangkan, jika Beasiswa Supersemar ditiadakan, karena sangat diperlukan, terutama oleh mereka yang tidak mampu.

Menurutnya, sosok Presiden H.M. Soeharto,  yang juga sebagai pendiri Yayasan Supersemar, adalah sosok pemimpin yang tegas, dan tidak bisa dihasut oleh pihak lain. Pada era kepemimpinan Pak Harto, keamanan negara lebih terjaga dibandingkan sekarang. Pak Harto terlihat apa adanya, dicintai rakyat. Sementara pemerintahan saat ini, dinilainya lebih banyak yang disembunyikan.

“Saya tidak merasakan langsung sepak terjang Pak Harto, namun yang saya dengar dari sebagian besar orang, keberhasilan Pak Harto, selalu diingatan kita semua, yakni keberhasilannya dalam swasembada pangan yang tidak bisa dilakukan oleh penerusnya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...