Belajar Musik Dol Khas Bengkulu di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

353

JAKARTA – Sekumpulan anak laki-laki tampak bersemangat memukul musik dol. Alunan tangan mereka berpadu gerakan badan, sekali-kali melemparkan pukulan dol berbahan rotan itu ke atas, sambil memutarkan badan.

Lalu dengan sigap mereka menangkap pukulan yang dilemparnya itu, dan kembali beraksi menabuh dol dengan semangat.

Wajah-wajah mungil mereka tidak terlihat lelah dalam setiap gerakan badan berbagai arah.

Aksi mereka menabuh musik dol yang begitu menggema ditampilkan di halaman Anjungan Bengkulu Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (9/2/2019) sore.

Para bocah enerjik itu memang bergabung di Sanggar Olah Seni Rafflesia Anjungan Bengkulu TMII, yang berlatih setiap Sabtu pukul 15.00-21.00 WIB. Jumlahnya ada 120 orang, dari berbagai sekolah dan daerah di seluruh Indonesia.

Mereka berlatih secara bergiliran di hari Sabtu itu. Untuk tingkat dasar berlatih mulai pukul 15.00-18.00 WIB, sedangkan tingkat profesional pukul 18.00-21.00 WIB.

Pelatih Sanggar Olah Seni Rafflesia Anjungan Bengkulu TMII, Oktarabia Yusuf Mu’amar. Foto: Sri Sugiarti

“Alhamdulilah anak-anak yang berlatih melestarikan budaya tradisi, yaitu musik dol ini sangat banyak. Antusias mereka bikin saya bangga,” kata pelatih Sanggar Olah Seni Rafflesia Anjungan Bengkulu TMII, Oktarabia Yusuf Mu’amar, kepada Cendana News, Sabtu (9/2/2019) sore.

Dol adalah alat musik tradisional khas Bengkulu. Alat musik ini berbahan bonggol kelapa yang diberi lubang bagian atasnya. Kemudian ditutup dengan kulit sapi.

Diameter musik memiliki ukuran mencapai 70-125 sentimeter dengan tinggi 80 sentimeter. Sementara alat pemukul dol memiliki diameter sekitar 5 sentimeter dan panjang sekitar 30 sentimeter.

“Anak-anak yang akan berlatih dol, dites terlebih dulu. Tujuannya agar kita tahu emosi dan karakter anak. Dol ini kan musik perkusi, bukan kaya melodi dan setiap anak kemampuannya berbeda,” ujarnya.

Setelah tes berlanjut ke latihan basic  atau dasar. Dimulai dengan latihan pemanasan dengan penguatan kuda-kuda dari kaki terlebih dulu, dan berlanjut ke tangan. Ini dilakukan dalam dua kali pertemuan.

Menurutnya, kekuatan fisik utamanya kaki dan tangan menjadi landasan bermusik dol. Karena selain mereka memukul dol juga ada gerakan tubuh atau badan yang harus disesuaikan saat tampil.

“Di satu sisi kita powernya, untuk memukul dol itu kulitnya cukup keras.  Alat memukul yang terbuat dari rotan itu lumayan berat, tidak seperti stik drum yang ringan. Kalau untuk dol memang butuh power dari tangan dan kaki,” tandasnya.

Pada Minggu ketiga, baru pengenalan alat musik dol dengan teknik-teknik memainkannya.

Musik Dol dapat dimainkan dengan tiga teknik. Yaitu teknik suwena, teknik tamatam, dan teknik suwari. “Teknik ketiga ini dimainkan mengikuti suasana pertunjukan di mana dol ini dimainkan,” kata Oki, demikian panggilan Oktarabia Yusup Mu’amar.

Dalam teknik Suwena, jelas dia, biasanya alat musik dol dimainkan dengan tempo yang lambat. Teknik ini biasanya dimainkan pada saat suasana berduka cita.

Sedangkan teknik tamatam, biasanya dimainkan dengan suasana riang. Pada teknik ini dol akan dimainkan dengan tempo cepat dan juga konstan. Yang terakhir adalah teknik suwari. Teknik ini dimainkan dengan menggunakan tempo pukulan satu-satu dan biasanya dimainkan pada saat perjalanan panjang.

“Teknik suweri, itu kalau kita ibaratkan pelepas lelah bekerja dan penyemangat kegembiraan. Biasanya, nelayan atau petani di Bengkulu bermain musik dol untuk melepas lelah,” ujarnya.

Dalam memainkan dol, biasanya akan disandingkan dengan alat musik lainnya. Seperti alat musik tassa, yakni sejenis rebana yang dipukul dengan memakai rotan.

Bermusik dol, menurutnya, bukan hanya pukulan, juga gerak badan dan kekompakan para pemainnya. “Dol ini bermainnya kelompok bukan individu. Jadi sinergi kesuruhan dari badan kita bergerak dan kekompakan memukul,” tukasnya.

Dalam pelestarian seni budaya Bengkulu, Oki merasa bangga melihat antusias anak didiknya. Mereka kerap tampil pada acara yang digelar TMII, seperti parade budaya daerah, gebyar Mozaik Nusantara, HUT TMII, dan lainnya.

Ada pun aksi musik dol yang paling berkesan, menurutnya, saat tampil di istana negara Bogor, Jawa Barat dalam acara menyambut Raja Salman dari Saudi Arabia.

Selain itu, tampil di istana negara menyambut para pejabat dari negara Brunai. Dan tampil pada pembukaan Asean Para Games 2018 di Gelora Bung Karno.

Musik dol binaan Diklat Seni Anjungan Bengkulu juga kerap pentas seni tampil di berbagai acara di luar negeri.

“Alhamdulillah pernah tampil di Jepang, Korea, Brunai, Malaysia dan Singapura. Kita mewakili Provinsi Bengkulu dan tentunya negara Indonesia. Sangat bangga sekali ya,” katanya.

Oki berharap musik tradisi dol ini lebih dikenal lagi ke depannya. Ia pun berusaha untuk terus melestarikan alat musik khas Bengkulu ini kepada masyarakat luas.

“Kita ingin kenalkan terus budaya tradisi Bengkulu, khususnya musik dol ini. Harapannya supaya bisa go internasional,” ujarnya.

Apalagi menurutnya, TMII sebagai miniatur Indonesia dengan keragaman tradisi, menjadi sangat penting untuk melestarikan budaya daerah melalui sarana edukasi di diklat seni setiap anjungan yang ada di TMII.

“Indonesia sangat kaya dengan ragam budaya Nusantara. Anjungan Bengkulu ini merupakan sarana edukasi bagi generasi milenial untuk kenal budaya bangsa,” tuturnya.

Ferdinand (6)  salah satu yang berlatih musik dol di Anjungan Bengkulu. Dia mengaku baru tiga bulan berlatih musik dol. Awalnya ia berlatih menari dan sudah menjiwai. Tapi kemudian ayahnya memindahkan dia untuk latihan musik dol ini.

“Awalnya sih menari, terus musik dol. Ya senang karena saya sering pentas beberapa kali. Seperti di Candi Bentar TMII, acara Gebyar Mozaik Budaya,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...