Belajar Tari Khas Surakarta di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

396

JAKARTA – Lenggok gemulai para penari belia dengan selendang diikat di pinggang. Sekali-kali selendang itu dipegangnya melebar, dengan paduan gerakan tubuh mengikuti irama musik gamelan Jawa.

Mereka adalah peserta sanggar Diklat Seni Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang rutin berlatih tari klasik gaya Surakarta setiap Rabu dan Jumat pukul 15.30-18.00 WIB.

Mengawali latihannya pada Jumat (22/2/2019) sore, mereka belajar tari Rantoyo Putri, yang merupakan pola dasar menari Jawa gaya Surakarta.

Pelatih sanggar Diklat Seni Anjungan Jawa Tengah TMII, Fetty Fatimah, mengatakan, tari rantoyo putri adalah tarian dasar untuk mereka yang baru belajar tari klasik gaya Surakarta.

Pelatih Sanggar Diklat Seni Anjungan Jawa Tengah TMII, Fetty Fatimah. Foto: Sri Sugiarti

“Jadi sebelum mereka belajar ke materi, terlebih dulu belajar tari rantoyo putri, yang merupakan dasarnya. Jadi biar mereka mengetahui gerakan dasar tari khas Surakarta,” kata Fetty kepada Cendana News.

Gerakan dasarnya, misalnya, gerak kaki, tangan, jari, leher atau kepala, badan dan arah pandangan. “Jadi, rantoyo putri dimaksudkan untuk meluweskan gerak tari,” ujarnya.

Tari Rantoyo putri disamping untuk belajar gerak tari juga untuk melatih penari menyesuaikan gerak dengan iringan gending Jawa.

Dia menjelaskan, dalam tari rantoyo putri terdapat ragam gerakan dasar. Diantaranya, sembahan sila, lumaksono lembehan, lumaksono nayung, ridhong sampur, larasawit, keputren, gerak penghubung dan kilat srisig.

Sehingga ke depan dalam belajar menari klasik gaya Surakarta ke tingkat berikutnya, semua tarian menggunakan istilah gerakan itu.

“Jadi, kalau kita pengajarnya bilang ridhong sampur yaitu gerakan dengan memegang selendang. Atau larasawit yaitu gerakan tangan. Otomatis nanti mereka tahu sendiri. Jadi untuk hapalannya lebih gampang,” ujar Fetty.

Tari rantoyo putri ini, jelas dia, berlaku untuk semua penari putri pada awal dasar latihan. Dasar gerakan ini belum masuk ke materi.

Belajar tari klasik gaya Surakarta terbagi dua tingkatan dengan materi berbeda. Pertama tingkat A, adalah materi tari yang diajarkan Golek Seluntang, Golek Sri Rejeki, Golek Manis dan Golek Bondan. Ada pun tingkat B yakni Gamyong, Kukilo, Gambir Anom dan Merak.

Setiap enam bulan sekali diadakah ujian, sebagai penilaian layak tidaknya mereka naik kelas ke tingkat latihan berikutnya. “Saat ujian, mereka tampil dengan riasan dan busana Jawa Tengah, khususnya khas Surakarta,” ujarnya.

Selain tarian klasik gaya Surakarta, juga diajarkan tarian kreasi. Menurutnya, tari kreasi ini sudah garapan atau kolaborasi tapi tetap mengacu gerakan tradisi.

“Tidak hilang dari pakemnya, nilai budaya. Cuma mungkin perbedaannya dari iringan gamelan. Kalau tari tradisi itu lebih lembut, sedangkan kreasi lebih lincah. Kreasi itu sudah kolaborasi,” ungkapnya.

Fetty merasa bangga melihat anak didiknya sangat menjiwai setiap gerak tari yang diajarkannya. Mereka sering tampil di berbagai acara yang digelar TMII. Seperti HUT TMII, karnaval budaya , parade tari daerah dan lainnya.

Mereka juga kerap tampil di mal-mal di Jabodetabek. Pada Juli mendatang, mereka akan tampil menari di Thamrin City.

Fetty berharap, generasi milenial lebih mencintai budaya bangsa, dan turut melestarikan dengan berlatih menari di sanggar-sanggar yang ada di TMII.

Dalam melatih menari pun, ia berkomitmen untuk melahirkan penari- penari yang berkualitas. “Jadi tidak hanya hapal materi tarian dan senang tampil, tapi terpenting berkualitas bisa menjiwai tarian tersebut. Menanamkan cinta budaya,” ujarnya.

Menurutnya, berlatih menari itu sangat banyak manfaatnya bagi anak. Selain biayanya terjangkau, anak juga bisa tahu budaya daerahnya.

Adapun manfaat lainnya adalah daripada anak main telepon seluler tidak ingat waktu. Maka kalau mereka diaktifkan dengan mengikuti kesenian akan berdampak perkembangan anak yang lebih baik.

“HP itu kan merusak pikiran. Kalau menari ini sekalian olahraga. Dan saya rasakan selama ini belajar menari sejak kelas 5 SD, bisa mengasah otak dengan pola pikir lebih baik,” ujarnya.

Mengenal sosok Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Tien Soeharto, pemakarsa TMII, Fetty mengaku bangga dengan Ibu Tien Soeharto yang berpikir cemerlang membangun miniatur Indonesia yang dinamakan TMII.

“Ide Ibu Tien Soeharto membangun TMII itu sangat mulia sekali. Kalau nggak ada beliau, TMII tidak akan ada di tanah Indonesia ini,” kata Fetty.

Dengan hadirnya TMII sebagai wahana pelestarian dan pengembangan seni budaya bangsa, menurutnya, persatuan dan kesatuan bangsa sangat terasa di wahana rekreasi dan edukasi ini.

“TMII wahana pemersatu bangsa, buktinya ragam budaya daerah ada di sini, karena semua tarian ada di setiap anjungan. Semua ini tercipta berkat ide cemerlang Ibu Tien Soeharto,” pungkasnya.

Lihat juga...