Belum Ada Bantuan, Nelayan Lamsel Perbaiki Perahu Secara Swadaya

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Ratusan nelayan dengan alat tangkap berupa bagan apung, bagan congkel, bagan mini, perahu di pesisir Lampung Selatan (Lamsel) memilih melakukan perbaikan secara swadaya.

Sapardin (50) salah satu pemilik perahu bagan mini di dermaga Bom Kalianda, Lamsel mengaku perahu miliknya rusak pada bagian katir atau sayap. Selain itu kerusakan terjadi pada instalasi penerangan listrik tenaga genset yang pecah akibat berbenturan dengan perahu lain.

Ia menyebut memperbaiki perahu secara swadaya karena bantuan tak kunjung turun. Sapardin menyebut pendataan terkait kerusakan peralatan tangkap nelayan berupa perahu, bagan apung sudah didata oleh instansi terkait.

Meski demikian sejak tsunami pada Sabtu (22/12/2018) silam nelayan belum mendapatkan informasi benderang terkait bantuan terutama untuk perbaikan perahu. Ia mengaku bantuan yang sudah diterima diantaranya berasal dari Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI). Bantuan tersebut berupa logistik meliputi air minum kemasan, mi instan, sarden, pakaian dan peralatan salat.

Meski cukup membantu dengan adanya bantuan tersebut, Sapardin berharap ada bantuan untuk perbaikan perahu dan alat tangkap. Sebagai langkah awal agar ia tetap bisa mencari nafkah upaya perbaikan diakuinya dilakukan secara swadaya.

Akibat tsunami ia menyebut kerusakan perahu membuat dirinya merugi sekitar belasan juta. Kerugian tersebut dihitung dari biaya perbaikan untuk merenovasi dinding perahu,membeli peralatan tangkap baru hingga perahu bisa kembali digunakan untuk melaut.

“Sebagian besar nelayan di dermaga Bom Kalianda belum melaut karena peralatan menangkap ikan rusak sebagian belum diperbaiki bahkan ada yang tenggelam belum diangkat dari dasar dermaga,”terang Sapardin salah satu nelayan saat ditemui Cendana News tengah memperbaiki perahu di dermaga Bom Kalianda, Senin (4/2/2019)

Sapardin menyebut tingkat kerusakan alat tangkap nelayan di wilayah tersebut bervariasi. Sebab diantaranya ada perahu yang tidak bisa diselamatkan sehingga nelayan terpaksa membuat atau membeli perahu baru.

Kerusakan sedang dan ringan seperti dialaminya langsung dilakukan langkah perbaikan. Perahu ukuran besar dengan kapasitas 5 gross ton (GT) sebagian diperbaiki di lokasi pengedokan (docking) atau bengkel perahu yang ada di dermaga Bom Kalianda. Perbaikan perahu miliknya diprediksi selesai akhir pekan ini sehingga perahu bisa digunakan kembali.

Suyanto (40) nelayan lain yang mengalami kerusakan perahu akibat tsunami menyebut tengah memperbaiki bagian kemudi. Perahu 5 GT dengan panjang 13 meter dan lebar 2 meter tersebut rusak akibat terbentur dinding dermaga. Beruntung perahu jaring ikan tersebut tidak tenggelam serta mulai dibawa ke lokasi pengedokan. Butuh biaya sekitar Rp10juta lebih disebutnya untuk memperbaiki kerusakan perahu.

“Perbaikan dilakukan pada bagian lambung atau dinding mengatasi kebocoran,pengecatan ulang serta perbaikan mesin agar bisa digunakan,“ terang Suyanto.

Puluhan perahu bagan mini milik nelayan yang selamat dari terjangan tsunami di dermaga Bom Kalianda – Foto: Henk Widi

Suyanto juga menyebut masih berharap ada bantuan peralatan dari instansi terkait atau biaya untuk perbaikan kerusakan perahu. Perbaikan secara swadaya disebutnya dilakukan agar kerusakan perahu segera diselesaikan dan ia bisa menangkap ikan lagi. Perahu perahu yang rusak akibat tsunami menurut Suyanto membuat nelayan tidak melaut hampir selama satu bulan. Imbasnya pasokan ikan di tempat pelelangan ikan dermaga Bom Kalianda berkurang.

Nelayan lain yang lebih beruntung bernama Firman menyebut perahu bagan mini miliknya aman dari terjangan tsunami. Tanggul penangkis yang berfungsi sebagai kolam untuk sejumlah perahu di wilayah tersebut diakuinya ikut menyelamatkan perahu miliknya.

Kerusakan kecil pada sejumlah peralatan seperti katir atau sayap dari pipa PVC sudah diperbaiki. Firman bahkan menyebut sepekan terakhir sudah mulai melakukan aktivitas melaut.

“Kerusakan perahu yang saya miliki masih bisa diperbaiki sehingga saya kembali bisa mencari nafkah dengan mencari ikan,” beber Firman.

Firman menyebut usai tsunami ia kembali beraktivitas mencari ikan teri di sekitar pulau Sebuku. Ikan teri yang diperoleh dengan hasil tangkapan satu malam disebutnya masih berkisar 20 hingga 30 cekeng atau keranjang perhari.

Mendapatkan hasil 20 cekeng saja ia menyebut dalam semalam bisa mendapatkan uang Rp4juta dengan harga percekeng ikan teri jengki saat ini mencapai Rp200ribu. Hasil tangkapan tersebut dipergunakan untuk membayar hutang modal pinjaman untuk perbaikan perahu.

Pemilik bagan apung yang rusak dan mulai diperbaiki secara swadaya bernama Marjaya menyebut beroperasinya bagan apung paska tsunami menjadi harapan bagi nelayan. Pasalnya nelayan tangkap dan bagan apung sudah lebih dari sebulan tidak memperoleh hasil dari laut.

Beruntung sejumlah nelayan setempat memiliki sumber penghasilan dari kebun kakao,kelapa serta pisang. Hasil penjualan panen komoditas pertanian tersebut sebagian dipergunakan sebagai modal perbaikan alat tangkap perahu dan bagan apung.

“Sebagai pemilik bagan apung otomatis kami harus memiliki perahu motor untuk mobilitas,sementara perahu rusak harus diperbaiki,”beber Marjaya.

Pada kondisi cuaca normal tanpa gelombang tinggi dan angin kencang,nelayan bagan disebut Marjaya kerap mendapatkan teri dan cumi cumi. Ikan teri bahan pembuatan teri rebus pada musim bulan gelap atau bulan mati bisa diperoleh sebanyak 10 hingga 20 cekeng atau keranjang.

Harga percekeng teri jenis jengki disebutnya saat ini berkisar Rp180ribu hingga Rp200ribu. Meski saat ini hasil tangkapan ikan teri memakai bagan apung belum maksimal dalam semalam hanya sekitar 5 cekeng,hasil tersebut bisa menjadi pengganti biaya operasional.

Biaya operasional bagan apung disebutnya dipergunakan untuk bahan bakar solar untuk menghidupkan genset. Genset untuk penerangan dipakai sebagai penarik hewan laut yang akan jatuh di sekitar bagan sebagai umpan untuk ikan ikan di wilayah tersebut.

Selain ikan teri sejumlah ikan yang kerap ditangkap saat malam hari diantaranya jenis layur, simba, kuniran, tengkurungan. Pada musim tertentu jenis cumi cumi bahkan dominan menjadi hasil tangkapan nelayan bagan di teluk Minang Rua tersebut.

Lihat juga...