Bersih-Bersih Pantai Kunjir untuk Trauma “Healing”

Editor: Mahadeva

239

LAMPUNG – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan menggelar kegiatan bersih sampah dan trauma healing di Pantai Wisata Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kamis (21/2/2019).

Yuda Sukmarina, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan (Dinparbud Lamsel) menyebut, pembersihan pantai dilakukan dari sampah pascatsunami. Pembersihan tersebut juga menjadi bagian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional.

Kegiatan tersebut, melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pegiat wisata, pegiat kebudayaan dan masyarakat. Kegiatan bersih pantai tersebut mendapatkan bantuan alat seperti, sapu lidi, serok sampah, kotak sampah, dari perwakilan Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata.

Kegiatan bersih pantai Kunjir tersebut, dinilai Yuda Sukmarina, bisa menjadi ajang memulai kembali gerakan sadar wisata sekaligus trauma healing. Kegiatan trauma healing, dilakukan kepada pelaku usaha wisata bahari, yang terdampak langsung tsunami Selat Sunda.

“Kegiatan gerakan sadar wisata melalui trauma healing pascatsunami dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum di sekitar destinasi patiwisata, agar segera mengaktualisasikan nilai nilai Sapta Pesona, salah satunya menjaga kebersihan,” terang Yuda Sukmarina.

Saat ini, di Lampung Selatan sudah ada 45 Pokdarwis yang mengantongi izin dari Pemkab Lamsel. Mereka tersebar di kecamatan Kalianda, Bakauheni, Penengahan, Sidomulyo, Rajabasa. Rata-rata, sudah terbentuk sejak 2012 silam.

Syahlani, Staf Ahli Bupati Lampung Selatan Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kemasyarakatan menyebut, tsunami 22 Desember 2018 silam dampaknya dirasakan langsung oleh dunia pariwisata di daerahnya. Informasi erupsi anak Gunung Krakatau, potensi gempa tektonik dan vulkanik, memicu terjadinya kekhawatiran baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Tsunami memicu menurunnya animo wisatawan datang ke Lamsel.

Syahlani menyebut, perlu langkah cepat untuk memulihkan sektor pariwisata. Dibutuhkan rencana aksi pemulihan dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) atau kelembagaan. “Pemulihan destinasi wisata yang mengalami kerusakan akibat bencana perlu dilakukan rehabilitasi yang membutuhkan pendanaan, dorongan kepada pihak terkait, untuk memberikan relaksasi di bidang keuangan,” beber Syahlani.

Kegiatan trauma healing, dilakukan bagi pelaku usaha wisata melalui pendekatan spritual. Kehadiran tokoh agama dan psikolog, membantu para korban bisa menerima dengan ikhlas apa yang dialami dan mau segera bangkit kembali.

Arum Damarintyas,Kasubbid Sadar Wisata,Deputi Bidang Pengembangan dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata RI – Foto Henk Widi

Kepala Sub Bidang Sadar Wisata Deputi Bidang Pengembangan dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata RI, Arum Damarintyas, menyebut, Gerakan Sadar Wisata diisi dengan trauma healing. Kegiatan tersebut sudah dilakukan di sejumlah destinasi wisata terdampak tsunami seperti di Nusa Tenggara Barat dan Banten.

Trauma healing bertujuan membuat pelaku usaha wisata kembali percaya diri, dan tidak ragu-ragu berjualan. Upaya pemulihan korban, menyesuaikan kondisi masyarakat terdampak. Di beberapa wilayah yang pernah mendapat program trauma healing, memiliki waktu penanganan berbeda-beda.

Lihat juga...