Bios 44 Ampuh Selesaikan Persoalan Danau Maninjau

Editor: Mahadeva

208

AGAM – Teknologi mikroba Bios 44, dinilai ampuh untuk menyelesaikan persoalan di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Bios 44, yang ditemukan oleh TNI, bisa dikatakan sebagai upaya untuk perbaikan lingkungan di Danau Maninjau. 

Danrem 032 Wirabraja, Brigjen Kunto Arief Wibowo, mengatakan, Bios 44 telah memberikan solusi di beberapa tempat di Sumatera Selatan. Dan kali ini, upaya pengaplikasian di Danau Maninjau, juga diharapkan dapat berhasil maksimal.

Penemuan Bios 44, berawal dari adanya permasalahan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Sebelum 2006, kerap terjadi kabut asap. Hal itu mengganggu persiapan Asian Games 2018. TNI kemudian bekerja sama dengan Prof. Muhammad Tamim Pardede, pakar biokimia molekular, dan menemukan Bios 44.

“Bios 44, merupakan paduan mikroorganisme akan memperkecil hingga menutup rongga-rongga lahan gambut. Karena itu, lahan tersebut tidak akan mudah terbakar. Ternyata dapat digunakan berbagai hal, termasuk untuk penyelamatan Danau Maninjau,” katanya, Selasa (19/2/2019).

Bios 44 berfungsi menormalisasi lahan, agar kembali seperti semula. Inovasi yang dilakukan sebenarnya sangat sederhana. Bahan-bahan yang dipakai mudah didapat, air, ragi, susu bubuk, cornet beef, dan gula pasir. Proses pembuatan membutuhkan waktu sekira sebulan.

Biaya penemuan tersebut juga tidak besar. Semua diupayakan dari satuan Korem, yang ada dan saling membantu, bahkan tidak ada kendala signifikan dalam penelitian Bios 44. ’’Saya menanamkan prinsip dalam menjalankan sesuai itu ialah jika ada niat baik, semuanya akan berjalan lancar,’’ ujar Brigjen Kunto Arief Wibowo.

Komandan Kodim 0304/Agam, Letkol Kav. Salim Kurniawan Dewantara, menyampaikan, Danau Maninjau merupakan danau vukanik. Danau tersebut memiliki potensi kekayaan alam. Pesona Danau Maninjau, telah mengundang kekaguman para wisatawan mancanegara yang datang.  Artinya, masyarakat di sekitar danau secara turun temurun telah mendapat manfaat dari keberadaan Danau Maninjau. Baik dari ikan maupun air untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Untuk meningkatkan produksi ikan karamba, Korem 032 Wirabraja telah memberikan terobosan melalui program Bios 44. Dari uji coba yang dilakukan, sampel air sebelum diberi Bios 44 setelah di uji UPTD Laboratorium kesehatan Padang menunjukan, kandungan nitrogen dalam bentuk amoniak dan nitrit sangat tinggi.

Bahkan kandungan amoniak tersebut, melebihi standar yang ditetapkan Kementrian Lingkungan Hidup. “Jadi kandungan toleransi amoniak hanya dibawah 0,02 miligram perliter, terindentifikasi di Danau Maninjau 0,037 miligram perliter. Sedangkan nitrit yang dibolehkan 0,06 miligram perliter. Tingginya kandungan nitrogen ini mengakibatkan ikan keracunan dan mati mendadak. Nitrogen merupakan unsur pembentukan penting dalam pakan ikan,” urainya.

Sampel kualitas air setelah diberi bios 44, menunjukan penurunan kadar nitrit dari 0,037 miligram perliter menjadi 0,02 miligram perliter. Kesadaran Cs Co, setelah diberi Bios matrik menyambung, dan ph berubah dari sebelumnya 6,99 menjadi 7,05.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, Danau Maninjau dalam kondisi tercemar. “Kita selama ini tahu, kondisi Danau Maninjau yang telah tercemar karena tumpukan makanan ikan, karena begitu banyak karamba yang mencemari danau,” sebutnya.

Berbagai upaya yang dilakukan terkendala, jumlah karamba. Pemerintah pusat merekomendasikan karamba untuk dikurang menjadi 6.000 unit. Jumlah karamba telah mencapai 17.000 unit.

Baca Juga
Lihat juga...