Bisnis Boneka di Bekasi Masih Menjanjikan

Editor: Mahadeva

307

BEKASI — Bisnis boneka di Kota Bekasi masih menjanjikan. Meskipun, saat ini pasar boneka ditanah air diakui sejumlah pengusaha boneka di Kota Bekasi dalam kondisi lesu.


Owner Boneka, Hayashi Toya Mart, Nana Anang Sudjana – Foto M Amin

Nana Anang Sudjana, owner Hayashi Toys Mart menyebut, loyonya pasar boneka tersebut berdasarkan pengakuan dari para pengusaha boneka. Tapi baginya, di tengah kelesuan tersebut usaha boneka masih menjanjikan keuntungan luar biasa.

Menurutnya, keperluan pasar boneka di Bekasi, sekarang bisa mencapai 9 juta pic perbulan. Dari kebutuhan tersebut, baru terpenuhi sekira 6 juta pic. Artinya, masih terjadi kekosongan sekira 3 juta pic. Hal tersebut, sesuai riset yang telah dilakukannya. “Saya dikenal, sebagai orang anti mainstream, karena saat dolar naik, tarif listrik naik, saya malah melakukan sebaliknya menurunkan harga boneka. Dan itu sukses mecapai keuntungan,” ujarnya Anang Sudjana, kepada Cendana News, Selasa (12/2/2019).

Apa yang dilakukan tersebut, sebenarnya bisa ditiru pengusaha lain. menurutnya, ketika harga bahan baku boneka melambung naik, hukumnya harga produk harus ikut naik, maka semua pihak menahan diri untuk berbelanja karena adanya harga baru. Ketika harga bahan baku naik, Anang malah menurunkan harga jual. Hal itu menjadi strategi, supaya buyer tetap membeli dengan harga yang sama.

“Yang saya tambahkan hanya volume penjualan, biasa menjual boneka 1.000 pic, maka bisa dinaikkan sampai 3.000 pic. Pertanyaannya yang 2.000, pasar dari mana, itu, yang disebut pasar baru, yang ditinggalkan karena pengusahan boneka menaikkan harga, pasti akan mengambil boneka saya,” jelasnya.

Begitupun ketika pasar boneka diserbu barang impor, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Anang mengakali kejadian tersebut, dengan memproduksi sesuatu yang berbeda. Seperti saat ini tengah memproduksi bantal motivasi, bantal valentine, yang belum ada di pasaran. Terkadang juga, dibuat karpet sajadah, atau apapun sehingga produksi bisa terus berjalan.

Dalam usaha boneka, inovasi menjadi kunci sukses bisnis. Tidak terpaku pada satu produk, karena Dia belajar dari pengusaha property. Begitu banyak pengusaha property yang terus membangun, meskipun pasarnya dibilang lesu.  “Saya tidak ingin dari 100 orang yang mengatakan pasar boneka lesu. Sehingga saya terus melakukan modifikasi, inovasi produk, untuk menghindari kejenuhan pasar boneka,” tegasnya.

Inovasi yang terus dikembangkan Anang adalah dwifungsi. Artinya, boneka tidak hanya berfungsi sebagai boneka, tetapi memiliki manfaat lain. Dan dengan cara tersebut, produksi boneka milik Anang, saat ini mengisi pasar seluruh Indonesia. “Istilah germonya, saya ini melacurkan diri dalam bisnis. Kenapa demikian, karena saya sebagai owner juga ikut menjual, baik secara langsung ataupun melalui jejaring sosial,” tukasnya.

Anang mengaku, saat ini kapasitas boneka yang diproduksinya masih kurang. Setiap hari, Dia selalu membuat item berbeda. “Dulu saya pabrik besar, tapi saat ini, pabrik besar sangat riskan, dari sisi biaya, dolar naik terus sekarang memakai home made, tidak terlalu besar mengurusnya lebih mudah ada beberapa tempat. Dengan mengkaryakan sekitar 70 karyawan. Untuk jumlah produksi sehari tergantung kerumitan, terkadang bisa 1.000 pic perhari jika tidak terlalu rumit,” ujarnya.

Adapun peran pemerintah memajukan Usaha Kecil Menengah (UKM), disebutnya tidak maksimal selama lima tahun terakhir. Ketika SBY menjadi presiden, UKM benar benar mendapat perhatian. Itu ditunjukkan dengan kegiatan Asean Game, yang melibatkan UKM Boneka. Tetapi Asean Game tahun lalu, tidak ada sama sekali melibatkan UKM Boneka di Kota Bekasi.

“Saya tidak mengeciilkan peran Pemerintah saat ini, tetapi memang dulu sering ada lomba. Dan perlu diketahui dulu Kota Bekasi, menjadi UKM terbaik se-Jawa Barat di bidang boneka ketika itu,” ucapnya.

Ia berharap kepada pemerintah saat ini, jika ingin serius memajukan UKM boneka tanah air, jangan telalu banyak Impor dari luar negeri. Menurutnya, pengusaha boneka tidak perlu permodalan yang besar dari Pemerintah. Mereka hanya perlu kebijakan yang mendukung pengusaha kecil, dengan tidak mempermudah impor boneka.

“Bersaing dengan produk import tentu kita kalah, karena mereka dari segala hal mendukung, dari tenaga kerja, bahan baku juga dukungan negaranya dalam memajukan usaha kecil mendapat dukungan baik. Tidak seperti di sini, pengusaha boneka yang masih bertahan harus diacungi jempol,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...