BKP Bakauheni Perketat Lalulintas Hewan Ternak

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandarlampung memperketat pengawasan perlalulintasan ternak sapi dari pulau Sumatra ke pulau Jawa, dan sebaliknya. Drh. Herwintarti, Kepala Seksi Karantina Hewan,BKP Kelas I Bandarlampung, menyebut, temuan virus Jembrana terjadi di wilayah Kecamatan Bekri, Pubian, Padangratu, Lampung Tengah.

Virus retroviridae sub family lentiviranae tersebut menyebar dengan perantaraan lalat tabanus rubidius, yang menghisap darah pada sapi, berimbas sekitar 120 ekor sapi mati dan sebagian dipotong paksa.

Drh. Herwintarti, Kepala Seksi Karantina Hewan,Balai Katantina Pertanian Kelas I Bandarlampung -Foto: Henk Widi

Drh. Herwintarti menyebut, salah satu gejala penyakit Jembrana ditandai dengan suhu tubuh sapi meningkat hingga 42 derajat celcius.

Tanda yang terlihat kasat mata, di antaranya sapi mengalami diare berdarah, gelisah atau tidak tenang, pembengkakan pada kelenjar pertahanan tubuh dan keluar cairan pada hidung sapi.

Kondisi sapi yang terserang penyakit jembrana, bahkan bisa mengakibatkan kematian, berujung kerugian bagi peternak.

BKP Lampung, sebutnya, sebagai wilayah yang menjadi pintu masuk dan pengeluaran ternak, terus melakukan pengawasan lalu lintas ternak, khususnya sapi.

Drh. Herwintarti menyebut, pintu masuk dan pengeluaran yang menjadi kewenangan karantina terus melakukan pengawasan agar virus jembrana tidak menyebar. Pengawasan dilakukan oleh petugas, di antaranya oleh petugas balai veteriner Lampung dan petugas Karantina.

“Tugas karantina salah satunya untuk melindungi negeri dari penyebaran media pembawa hama penyakit hewan karantina, dan organisme pengganggu tumbuhan karantina. Dalam kasus penyakit jembrana, diharapkan pengawasan bisa mencegah penyebaran ke hewan ternak sejenis di wilayah lain,” terang Drh. Herwintarti, saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (16/2/2019).

Drh. Herwintarti juga menyebut, berbagai langkah dilakukan oleh pihak terkait, di antaranya pengobatan massal. Kepada sejumlah peternak, melalui petugas penyuluh peternakan melakukan proses penyuntikan antibiotik dan vitamin sebagai upaya menanggulangi penyebaran penyakit jembrana.

Ia menyebut, musim hujan yang berpengaruh pada kelembaban di sejumlah lokasi peternakan atau lokasi penggembalaan.

Pengawasan di pintu keluar di antaranya pelabuhan Bakauheni, pelabuhan Panjang, pelabuhan Way Jepara, diperketat agar ternak yang dilalulintaskan benar-benar sehat.

Keberadaan Instalasi Kesehatan Hewan (IKH) milik BKP Kelas I Lampung dan sejumlah peternakan, berguna untuk meminimalisir penyebaran penyakit jembrana. Drh. Herwintarti bahkan menyebut jika penyakit tersebut tidak dicegah, bisa mengancam populasi sapi Bali (Bos javanicus).

Pengawasan komoditas pertanian, hewan sebagai media pembawa diharapkan agar  komoditas tersebut benar-benar bebas penyakit. Pengawasan komoditas yang diperketat melalui pintu masuk dan keluar pelabuhan Bakauheni, melibatkan pihak terkait. Di antaranya kepolisian, dinas peternakan dan kesehatan untuk mengawasi komoditas yang keluar dan masuk pulau Sumatra.

Selain penyakit jembrana yang mengancam sapi,terutama sapi Bali, BKP Lampung juga memperketat media pembawa yang berpotensi membawa virus flu burung (Avian Influenza).

“Petugas selalu melakukan pengawasan ketat pengiriman unggas jenis ayam, burung yang dilalulintaskan, agar tehindar dari penyakit virus flu burung,” beber Drh. Herwintarti.

Bambang, salah satu peternak sapi di Desa Gandri, menyebut, meski penyakit jembrana menyerang sapi Bali, ia tetap menjaga kesehatan sapi jenis brahman cross miliknya.

Menurutnya, kebersihan kandang menjadi kunci untuk menjaga kesehatan ternak. Sebagai salah satu cara mengusir lalat penghisap darah di sekitar kandang, Bambang menyediakan bedian atau perapian dari arang dan sekam yang dibakar untuk membuat asap.

“Saat siang hari ,ternak sapi juga dijemur di lokasi yang terkena sinar matahari dan kandang selalu dibersihkan agar tidak lembab,” beber Bambang.

Jumino, peternak lainnya, mengaku kerap berkonsultasi dengan petugas kesehatan hewan. Sebulan sekali, petugas yang kerap disebut dengan mantri hewan akan melakukan pemeriksaan ternak sapi miliknya.

Selain melakukan pemeriksaan kesehatan ternak. sapi ia memastikan petugas juga melakukan inseminasi buatan (IB) untuk mendapatkan anakan sapi dengan sistem kawin suntik.

Sejauh ini, ia memastikan ternak sapi di wilayah Lamsel masih belum terindikasi terkena penyakit jembrana.

Lihat juga...