Bungo Lado, Film Dokumenter Antara Agama dan Tatanan Sosial

Editor: Mahadeva

302
Bunga Lado - Foto M Noli Hendra

PADANG – Karya film dokumenter mahasiswa pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Andri Maijar, memiliki pesan yang begitu berarti. Film sebagai prasyarat Ujian Pascasarjana minat penciptaan televisi dan film tersebut berdurasi 20 menit, dan diberi judul Bungo Lado.

Film tersebut diklaim, menjadi salah satu penanda, bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang mapan dalam tatanan sosial.  “Jadi dalam film dokumenter ini, berbagai aspek dalam peningkatan kualitas hidup dan kebersamaan, yang menjadi identitas masyarakat dalam memaknai kehidupan, terutama bagi masyarakat Minangkabau,” kata Andri, Jumat (8/2/2019).

Andri menyebut, berbagai tradisi kebudayaan yang bersentuhan langsung dengan pola hidup masyarakat, telah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Aspek sosial, spritual, nasionalisme, dan budaya, menyatu dan terpola secara sistematis.  Film, Bungo Lado, diputar di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padangpanjang. Karya Mahasiswa Pascasarjana tersebut, memiliki cerita yang bersinggungan langsung dengan budaya di Sumatera Barat.

Film dokumenter tersebut, memceritakan sebuah tradisi masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman, yakni tradisi Bungo Lado. Sebuah tradisi dalam perayaan maulid nabi. Dalam tradisi tersebut, berbagai aspek dan nilai-nilai menjadi landasan masyarakat, yang dikemas menjadi sebuah film yang cukup apik, dalam subjektifitas masyarakat.

Tradisi bungo lado, merupakan salah satu representasi masyarakat terhadap kebudayaan Islam. Bungo Lado atau yang berarti bunga cabai, merupakan pohon hias yang berdaunkan uang, atau yang biasa disebut juga pohon uang. Hal itu merupakan salah satu euforia masyarakat, dalam menyambut hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW.

Mahasiswa Pascasarjana ISI Padang Panjang, Andri Maijar/Foto: M. Noli Hendra

“Jadi di film dokumenter ini, menayangkan, bahwa setiap kelompok masyarakat saling berlomba untuk menyumbangkan sebagian dari penghasilanya, untuk disumbangkan dengan cara menghiaskan uang sumbangan tersebut ke sebuah ranting sebagai wujud kegembiraan,” sebutnya.

Dari segi naratif, peristiwa demi peristiwa menjadi alur atau plot yang disajikan secara linear. Tradisi bungo lado, digambarkan secara detail, mulai dari prosesi pencarian ranting, pengumpulan uang di lapau (warung), arak-arakan dan pemajangan di depan masjid.

Di film tersebut, dicoba untuk dideskripsikan bagaimana sebuah tatanan sosial masyarakat, tentang bagaimana pengikut tarekat syatariyyah. Mereka meleburkan pemahaman agama dengan kebudayaan setempat, yang kemudian menjadi sebuah tradisi dan tatanan sosial yang mapan. Baik itu dari aspek sosial masyarakat, agama, dan rasa nasionalisme masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, karya film dokumenter yang ditayangkan tidak hanya Bungo Lado. Tetapi juga ditayangkan film Hutan Adat, karya Elfit Fahriansyah, dan film pendek fiksi Kawa, karya Ella Angel. Film-film tersebut, masih seputar tradisi dan budaya, yang dimiliki masyarakat Sumatera Barat.

Lihat juga...