Dapat Penolakan, Satpol PP Bekasi Gusur Bangunan Liar

Editor: Satmoko Budi Santoso

317

BEKASI – Penggusuran bangunan liar (bangli) di atas lahan irigasi di RT/RW 003/001 Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat, sempat mendapat penolakan warga penghuni. Mereka mengklaim penertiban dilakukan secara dadakan dan mereka belum memindahkan barang-barang yang ada di dalam bangunan.

Meskipun sempat terjadi dialog, warga meminta ditunda tetapi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP Kota Bekasi, tetap melakukan penggusuran.

Satpol PP mengklaim sudah berkali-kali diingatkan untuk pindah tetapi tidak diindahkan. Bahkan terakhir seminggu lalu Pemerintah Kota Bekasi sudah memberikan surat resmi agar segera mengosongkan lahan irigasi.

Satpol PP Kota Bekasi melakukan penggusuran terhadap 15 unit bangunan liar atau rumah yang dihuni sepuluh Kepala Keluarga (KK). Dalam penertiban ini, Satpol PP hanya menurunkan 20 anggota untuk melakukan pengamanan.

“Ini lahan irigasi, jadi warga tidak berhak untuk menempati lahan itu. Dan sudah diberi peringatan sebelumnya,” ujar Cecep Suherlan, Kepala Satpol PP Kota Bekasi, Kamis (21/2/2019).

Kepala Satpol PP Kota Bekasi, Cecep Suherlan – Foto: Muhammad Amin

Dikatakan, bahwa sebelumnya sudah memberikan surat pemberitahuan untuk dilakukan penggusuran dengan meminta warga yang mendirilan bangunan liar di atas lahan irigasi segera pindah. Tetapi tidak ditindaklanjuti, artinya penertiban yang dilaksanakan sudah sesuai SOP.

Cecep mengaku dalam melakukan penertiban hanya menurunkan 20 anggota untuk melakukan pengamanan dari kecamatan dan kelurahan untuk dilibatkan.

Terpisah, salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, juga sebagai penghuni bangunan liar mengaku, sudah mendapat surat pemberitahuan pembongkaran bangunan.

“Sejak tahun 2017, sudah sering menerima surat peringatan. Menyatakan bahwa akan dilakukan pembongkaran tetapi, biasanya tidak terjadi. Maka kami santai. Ternyata kali ini benar dilakukan pembongkaran,”ujarnya.

Lebih lanjut, soal aksi penghadangan yang dilakukan tersebut hanya meminta ditunda. Agar tidak langsung diratakan dengan tanah menggunakan alat berat, dan bisa mengeluarkan barang-barang dulu.

“Kalau kami tahu akan dilaksanakan beneran, kami bisa bongkar sendiri. Agar material yang bisa digunakan diambil untuk dijual atau lainnya,” pungkas dia.

Lihat juga...