DBD di Kupang 427 Kasus, Satu Meninggal

Editor: Mahadeva

268

KUPANG – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kupang mencapai 427 kasus. Satu orang dilaporkan meninggal dunia karena penyakit yang disebarkan nyamuk aedes aegypti tersebut.

“Untuk kota Kupang, hingga Jumat (22/2/2019) sudah terdapat 427 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, seorang pasien yang berdomisli di Maulapa meninggal dunia ketika dirujuk ke RSU Prof. WZ Johanes,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Ari Wijaya, Msi, Jumat (22/2/2019).

Ari menyebut, pasien meninggal pada 13 Februari 2019. Setelah dilakukan pengecekan dan penelusuran riwayat penyakitnya, baru disimpulkan pada 15 Februari pasien meninggal karena Demam Berdarah. Di Kupang kasus DBD berbagai upaya pencegahan terus dilakukan, namun jumlah kasusnya terus mengalami peningkatan. Selama Januari, jumlah penderita sudah melewati 400 kasus.

Jumlah tersebut menjadi yang sangat besar. “Dilihat dari tren harian, memang kasusnya semakin hari mengalami penurunan. Namun masyarakat harus tetap waspada, sebab masih terjadi hujan, dan jentik nyamuk masih berpeluang berkembang biak,” ungkapnya.

Meski kasus DBD cukup banyak, Ari mengklaim jumlahnya terus mengalami penurunan. Terutama sejak penetapan status Kondisi Luar Biasa (KLB) pada  23 Janurai 2019 lalu. Status KLB terjadi, apabila maskimal kasus per hari 27 kasus, atau minimal 20 kasus.

Kepala dinas Kesehatan provinsi NTT drg.Dominikus Minggu Mere,Mkes.Foto : Ebed de Rosary

Saat ini maksimal kasus per harinya 11, dan minimal empat kasus. “Banyak pasien yang ketika mengalami demam langsung dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit sehingga bisa langsung tertangani. Jumlah pasien yang termasuk great satu ini yang paling banyak terjadi,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan NTT, Dominikus Minggu Mere, mengatakan, selama kurun waktu sembilan tahun, persentase kasus DBD di NTT mengalami kenaikan yang tinggi. “Di 2010 hanya ada 13 kabupaten yang terdapat DBD, tapi di 2019 ini hampir semua daerah, dari 21 kabupaten dan kota di NTT terserang DBD. Peprindahan penduduk yang tinggi juga bisa menjadi salah satu penyebab,” ungkapnya.

Di 2019, terdapat tiga kabupaten yang mengalami KLB DBD, yakni Kabupaten Manggarai Barat, Sumba Timur dan Kota Kupang. Penyakit DBD, biasanya kasusnya akan menurun, namun di beberapa daerah jumlahnya masih tetap fluktuatif. “Penetapan KLB tentunya akan berdampak terhadap pembiayaan, dimana BPJS Kesehatan tidak menanggung pembiayaan perawatan pasien. Makanya pemerintah daerah harus menyediakan anggaran yang memadai,” tuturnya.

Lihat juga...