hut

DBD di Sumbar Capai 236 Kasus, Satu Pasien Meninggal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Merry Yuliesday/Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Demam berdarah di Provinsi Sumatera Barat selama Januari 2019 mencapai angka 236 kasus dan satu orang di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesday mengatakan, yang paling banyak terkena DBD berada di Kota Padang, dengan jumlah penderita 56 orang. Di urutan kedua  Kabupaten Pasaman Barat dengan jumlah 33 kasus.

Sementara daerah yang memiliki kasus DBD paling sedikit yakni Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Solok, Padang Panjang, dan Kabupaten Dharmasaraya, dengan angka mulai dari 0 (nol) hingga 4 kasus DBD.

“Kalau dihitung secara keseluruhan di Sumatera Barat jika dibandingkan dari bulan ke bulan, angkanya meningkat. Seperti di Desember 2018, kasus DBD ada 189 dan naik di Januari 2019 menjadi 236 kasus. Tapi jika dibandingkan pada beberapa kabupaten dan kota cukup banyak angka yang mengalami penurunan,” katanya, Jumat (8/2/2019).

Seperti yang terlihat di Kota Padang, pada desember 2018 lalu ada sebanyak 68 kasus dan mengalami penurunan pada Januari 2019 ke angka 56 kasus. Dari tahun ke tahun, Kota Padang memang merupakan jadi daerah yang terbesar, hal ini dikarenakan wilayah tersebut merupakan salah satu daerah yang memiliki penduduk terbilang cukup banyak di antara daerah lainnya di Sumatera Barat.

“Padang sebuah kota yang besar di Sumatera Barat, jadi perkotaan itu resiko terserang DBD lebih besar, ketimbang di pedesaan,” ujarnya.

Merry menyebutkan ada satu daerah di Sumatera Barat angka DBD nya mengalami peningkatan yang cukup drastis, yakni di Kabupaten Pasaman Barat. Pada Januari 2019 kemarin kasus DBD berada di angka 33 kasus, sementara pada Desember 2018 lalu hanya 6 kasus. \. Beruntung di Pasaman Barat, tidak ada pasien DBD yang meninggal.

“Pasien yang meninggal berasal dari Kabupaten Tanah Datar. Di  daerah tersebut terjadi 24 kasus, angka itu naik jumlahnya jika dibandingkan dengan Desember 2018 lalu yang hanya 14 kasus,” jelasnya.

Menurutnya, cukup tingginya kasus DBD di Sumatera Barat pada awal tahun 2019 ini, disebabkan terjadinya perubahan iklim. Hal itu perlu diwaspadai kemungkinan akan terjadinya wabah DBD.

Merry berharap masyarakat juga ikut memperhatikan lingkungan dimana kira-kira tempat bersembunyinya jentik-jentik nyamuk. Begitu juga pada air yang bersih, seperti tempat air yang tergenang lama, termasuk bekas botol, merupakan tempat berkembangbiaknya.

Sementara sebagai antisipasi seperti yang telah dilakukan yakni fogging, dinilai bukanlah solusi yang tepat. Karena hal itu hanya bisa membunuh nyamuk-nyamuk biasa.

“Intinya mari sama-sama membersihkan lingkungan. Kalau lingkungan kotor, jangankan DBD jadi ancaman, penyakit lainnya juga bisa turut mengancam kondisi kesehatan,” tegasnya.

Lihat juga...