Di 2018, Angka Buta Aksara NTB Masih 1,8 Juta

Editor: Mahadeva

284

MATARAM – Semua elemen masyarakat di Nusa Tenggara Barat diminta terlibat langsung dalam upaya pengentasan buta aksara di daerah tersebut.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB) di 2018, angka buta aksara di daerah tersebut mencapai 1,8 juta. Data tersebut belum memenuhi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018, sebanyak 13 persen di 2014. Masalah buta aksara paling besar, terjadi di 2016 untuk usia antara 18 sampai 60 tahun.

Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Sitti Rohmi Djalilah – Foto Turmuzi

Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, mengatakan, program pengentasan buta aksara harus melibatkan semua kalangan. Upayanya, tidak hanya dibebankan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud). “Terkait penanganan masalah buta aksara, semua harus terlibat, termasuk masyarakat dan lembaga pendidikan tinggi,” kata Rohmi, Kamis (21/2/2019).

Perguruan tinggi, bisa mengambil bagian melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau Kuliah Kerja Partisipatif. Kegiatan tersebut bisa dilakukan mahasiswa di setiap desa yang ada di kabupaten dan kota di NTB. Sinergisitas pemerintah kabupaten dan kota, untuk menuntaskan masalah buta aksara juga harus lebih dimaksimalkan. “Masyarakat harus terlibat itu kata kuncinya,” tandas Wagub.

Sebelumnya, Gubernur NTB telah mencanangkan program angka buta aksara nol atau Absano. Program tersebut, tidak boleh berhenti. “Buta aksara harus diperjuangkan setiap saat, untuk memberantas Absano, jangan sampai lengah. Meski demikian, untuk buta aksara sebenarnya kalau bicara wajib belajar, kalau di NTB sudah sampai SMA, sekarang kita lihat yang buta aksara ini yang mana,” pungkas Rohmi.

Lihat juga...