Di Samiran, Tutut Soeharto Kenalkan Teknologi Biogas 

Editor: Koko Triarko

542

BOYOLALI – Siti Hardijanti Rukmana mengenalkan proses pembuatan biogas dari kotoran sapi, kepada petani di Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2019).

“Kotoran sapi itu bisa diproses jadi biogas, yang  bisa digunakan untuk penerangan dan memasak. Air kencing sapi juga bisa dijadikan pestisida dan ampasnya untuk pupuk. Jadi, semuanya bermanfaat, tidak terbuang,” kata Putri Cendana yang karib disapa Tutut Soeharto.

Jika peternak sapi di Desa Samiran bisa mengembangkan proses biogas dari kotoran sapi, menurutnya, akan sangat bermanfaat, tidak hanya untuk penerangan di rumah, tapi juga untuk memasak.

“Samiran kan cuacanya dingin, biogas bisa untuk masak air. Air panasnya bisa untuk mandi. Kalau sukses, biogasnya diharapkan bisa diikuti daerah lain,” ujarnya.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) memperkenalkan pupuk organik berteknologi Nano saat kunjungan di Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2019). -Fot : Ist/ Thowaf Z

Tutut Soeharto pun memperkenalkan Sri Wahyudi, ahli pertanian dan peternakan lulusan IPB. “Ibu Sri akan menjelaskan bagaimana beternak sapi, agar banyak susunya. Kotoran sapinya bisa diproses jadi biogas dan pupuk. Petani di Desa Samiran bisa semangat untuk belajar, agar ternaknya berlimpah,” ujarnya.

Pengelola Saung Berkarya, Sri Wahyuni mengatakan, untuk membantu sejahterakan warga Desa Samiran, pihaknya akan mengembangkan program pertanian terpadu ramah lingkungan berkelanjutan.

“Desa Samiran ini sudah menjadi Desa Mandiri Lestari. Nah, nanti ke depan kita jadikan Desa Mandiri pangan dan energi ramah lingkungan berkelanjutan,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, ia juga mengenalkan produk pertanian yang dihasilkan Saung Berkarya, berupa pupuk organik berteknologi nano kepada para petani.

Menurutnya, kelebihan pupuk organik yang dibuat dengan teknologi terbaru ini. Yakni, pupuk ini adalah pemakaiannya yang tidak membutuhkan jumlah banyak. Sehingga mampu menekan kebutuhan pupuk dan biaya produksi para petani.

“Pupuk organik ini sudah diperkecil ukurannya. Hanya 12 botol bisa digunakan untuk pemupukan lahan seluas 1 hektare, hasil panen pun bagus,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Sri bertanya kepada salah seorang peternak sapi tentang susu yang dihasilkan per harinya.

“Susu sapi yang dihasilkan 22 liter per harinya. Tapi kendalanya, kami menjual dengan harga murah, Rp3.800 per liter,” keluh seorang peternak sapi.

Sri pun memberikan tips, agar tarap hidup masyarakat Desa Samiran lebih sejahtera. Para peternak sapi disarankan, agar punya penghasilan lain, tidak hanya mengandalkan susu saja.

Yakni, mereka bisa mengolah susu tersebut menjadi makanan yang bisa dikonsumsi. “Kalau harga susu Rp3.8000 per liter, kasihan banget. Gimana mau jadi desa mandiri pangan dan energi? Ke depan, desa ini harus berkembang supaya tidak produksi susu murni saja. Bisa bikin keju, yogurt dan produk lainnya yang bisa dibawa ke Jakarta,” beber Sri.

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Samiran, Yayasan Damandiri  akan memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas produksi susu sapi. Juga pelatihan membuat usaha sampingan berbahan susu yang berkualitas untuk dikonsumsi.

“Jangan takut. Insyaallah Yayasan Damandiri akan membantu dengan pelatihan agar kehidupan masyarakat Desa Samiran lebih sejahtera. Insyaallah kita juga bantu pasarkan susunya hingga ke luar negeri,” pungkasnya.

Lihat juga...