Didatangi Tutut Soeharto, Prabowo: Jangan-jangan Saya Mau Disidak

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

13.931

JAKARTA — Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mengaku terkejut atas kedatangan Siti Hardijanti Rukmana, putri sulung mantan Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto di kediamannya di lereng bukit Hambalang, Bojong Koneng, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/2/2019).

Karena menurut Prabowo, kedatangan Tutut Soeharto tidak diberitahukan oleh Titiek Soeharto. Titiek hanya mengatakan, bahwa relawan Rabu Biru Indonesia (RBI) akan datang ke kediamannya di Hambalang. RBI akan memberikan deklarasi dukungan dan siap mendengarkan arahan dari Prabowo.

“Hari ini saya disidak. Saya benar-benar kaget ada Mbak Tutut dan Mbak Mamiek,” ujar Prabowo dalam sambutannya disambut gelak tawa para relawan.

Prabowo mengatakan, biasanya kalau mantan prajurit Kopassus itu jarang didadak.

“Biasanya, kita yang dadak. Kali ini saya yang didadak. Saya kaget ada Mbak Tutut. Kalau dikasih tahu sebelumnya, penyambutan saya lebih ramai. Ini memang termasuk konspirasi, saya mau didadak. Jangan-jangan saya mau disidak,” selorohnya.

Prabowo juga mengucapkan terima kasih atas kedatangan relawan RBI ke Padepokan Garuda Yaksa, yang berada di lereng bukit Hambalang.

Prabowo mengaku sangat paham, bahwa tidak lazim acara sosial politik diadakan di tempat yang jauh dari keramaian.

“Saya menghargai kalau mereka mau ke Hambalang, itu berarti menghormati dan bersahabat dengan Prabowo,” ujarnya disambut histeris para relawan.

Prabowo mengibaratkan jika emak-emak sudah ikut turun ke politik, ada kesadaran dan keprihatinan terhadap kondisi negara, yang dirasakan sudah tidak nyaman, dan aman. Sehingga butuh penanganan khusus agar tidak lebih parah.

“Kalau emak-emak sudah turun gunung ke politik, ini berarti emak-emak melakukan revolusioner,” tukasnya.

Prabowo
Capres Prabowo Subianto memberikan sambutan pada silaturahmi relawan RBI ke Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bojong Koneng, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/2/2019). [Ist]
Meskipun pribadi yang dibesarkan di adat Jawa dan Sulawesi Utara, tapi Prabowo mengaku lebih kentara dengan adat Jawa. Dimana tabiat laki-laki sejak lahir hingga dewasa ialah dibesarkan untuk menjadi seorang ksatria. Sedangkan perempuan dididik agar kelak menjadi Ibu yang baik dari putra-putrinya.

Tapi menurutnya, dalam budaya Jawa juga banyak emak-emak yang menjadi pendekar. “Ada Srikandi, ada Cut Nyak Dien dan tokoh pejuang perempuan lainnya. Kita semua prihatin dengan kondisi bangsa ini. Tentu usaha dan ikhtiar yang kita lakukan adalah langkah-langkah menuju perubahan,” ujarnya.

Beliau menjelaskan, dalam filosofi Jawa, seseorang harus berbuat banyak untuk rakyat dan masyarakatnya. Sehingga kehadirannya sangat dirasakan dan dinantikan. Karena itu, sejak di masa terakhir dirinya aktif bertugas di TNI, Prabowo bertekad untuk menjadi guru. Untuk melahirkan ksatria-ksatria yang dapat berkontribusi banyak untuk kebaikan dan pembangunan Indonesia.

Prabowo pun mendirikan pendidikan Padepokan Garuda Yaksa di lereng bukit Hambalang, di area tempat tinggalnya.

“Disinilah kami mendidik ksatria-ksatria muda. Ke depan kami akan bangun di tempat ini Universitas Kebangsaan Indonesia,” jelasnya.

Dalam pepatah Jawa, sebut dia, yakni rame sing gawe, sepi sing pamrih. Bahwa seorang kesatria itu harus berani membela mereka yang lebih lemah dan miskin dari kita.

Namun demikian, jelas dia, dalam filosofi lainnya juga diajarkan. Yakni jika kondisi negara sedang genting, maka pendekar-pendekar tua harus turun untuk menyelamatkan kondisi bangsa Indonesia.

“Karena itu, saya terjun ke politik agar bangsa kita sejahtera, kekayaan kita tidak mengalir ke luar dan negara kita dalam keadaan tentram. Adil untuk semua dan makmur untuk semua,” ujarnya.

Dia juga menegaskan, bahwa Presiden pertama RI, Soekarno dalam membangun bangsa Indonesia mendapatkan goncangan. Begitu juga dengan Soeharto, presiden kedua, yang membawa bangsa ini hampir tinggal landas, di tengah jalan dikacaukan.

Negara dan pemerintah ini dibangun, jelas dia lagi, agar rakyat tidak lapar dan tidak takut. Sehingga keadilan dan kemakmuran tercipta.

“Keadilan berarti ada keamanan dan kemakmuran. Itulah kunci masalah bangsa ini adalah ingin rukun, damai dan aman serta sejahtera rakyatnya,” pungkasnya.

Lihat juga...