Dinas Pariwisata Sikka Tata Tanjung Kajuwulu

Editor: Satmoko Budi Santoso

270

MAUMERE – Pesona pariwisata di Tanjung Kajuwulu, Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, mulai digarap secara serius oleh dinas pariwisata Kabupaten Sikka dengan membangun beberapa lopo atau gubuk sebagai tempat beristirahat bagi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

“Pantai ini kami tata sejak tahun 2017 hingga 2018. Kami membangun lopo dan jalan menuju ke tebing terjal di dekat pantai sekalian dengan memasang pengaman,” sebut Kensius Didimus, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, Minggu (3/2/2019).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka Kensius Didimus. Foto: Ebed de Rosary

Setelah ditata, kata Kensius, pihaknya membicarakan dengan pemerintah desa Magepanda dan tokoh adat serta kaum muda di desa tersebut. Dinas Pariwisata menginginkan agar pemerintah desa menjaga destinasi wisata ini dan mengelolanya.

“Pemerintah desa diberikan kesempatan untuk mengelola tempat wisata ini. Intinya harus ramah, menjaga kebersihan lokasi pariwisata ini. Kami ingin terus membenahi tempat wisata ini,” ungkapnya.

Veronika Sare, salah seorang wisatawan yang ditemui Cendana News mengakui, memang ada perubahan dengan pembangunan lopo atau gubuk tempat beristirahat dan perbaikan jalan menuju ke tebing di dekat pantai.

“Memang ada perbaikan dan sudah mulai bagus. Namun pemerintah perlu menyediakan kamar mandi dan WC disertai air bersih yang cukup. Banyak pengunjung yang bersantai di pantai dan mandi air laut kesulitan untuk bilas karena ketiadaan air,” kritiknya.

Yang paling utama, kata Vero, sapaannya, pemerintah harus melarang masyarakat untuk membakar padang di perbukitan hingga ke areal Tanjung Kajuwulu. Hampir setiap tahun terjadi kebakaran lahan di tempat ini.

“Harus ada petugas yang mengontrol agar masyarakat tidak membuang puntung rokok di padang ilalang dan menyebabkan kebakaran. Setiap tahun selalu ada penanaman pohon, tetapi selalu saja areal wisata ini terbakar,” sesalnya.

Bukit di Tanjung Kajuwulu yang selalu jadi tempat wisata favorit dengan seribu anak tangga yang dikelilingi padang savana. Foto: Ebed de Rosary

Selain itu, pintu masuk ke puncak bukit yang dijaga masyarakat pun harus dibangun pos sehingga petugas yang menarik retribusi tidak menggunakan terpal dan tenda darurat yang terkesan tidak resmi.

“Petugas desa pun harus sering mengontrol dan mengajak masyarakat untuk membersihkan lokasi wisata ini. Siapkan tempat-tempat sampah agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan,” tuturnya.

Vero juga berpesan agar pemerintah menata lokasi untuk para pedagang yang berjualan di tempat wisata  agar tidak terkesan semrawut. Pengaturan parkir pun harus teratur dan disiapkan arealnya.

Lihat juga...