hut

DKP Sebut Laut Bekasi Tercemar

Editor: Mahadeva

Zainal, Kasi Penglelolaan Sumber Daya Ikan DKP Kabupaten Bekasi - Foto M Amin

BEKASI — Laut di wilayah Kabupaten Bekasi tercemar oleh limbah dan sampah plastik. Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengatakan, pencemaran terjadi di wilayah laut Teluk Jakarta, Tarumajaya hingga laut Muaragembong.

Pencemaran tersebut, berdampak kepada penghasilan nelayan, dan budi daya di laut menurun drastis. “Kondisi tersebut sudah terjadi sejak 2018 lalu, dan sampai sekarang penghasilan nelayan turun drastis. Data ini didapat langsung dari laporan nelayan dan petani budi daya di wilayah Taruma Jaya, Muaragembong, termasuk di wilayah Kecamatan Babelan sendiri,” kata Zainal, Kasie Penglelolaan Sumber Daya Ikan DKP Kabupaten Bekasi, Rabu (6/2/2019).

Dampak lain akibat dari pencemaran lingkungan tersebut, petambak ikan di Kecamatan Babelan dan Tarumajaya, banyak yang melaporkan kejadian ikan mati. Namun, Dia tidak menyebut pencemaran tersebut berasal dari mana. KKP hanya melaporkan saja, bahwa sudah terjadi pencemaran kepada instansi terkait, agar segera ditindak.

Zainal menduga, pencemaran merupakan dampak dari Kali CBL (Cikarang, Bekasi, Laut). Dibantaran kali tersebut, banyak sampah menumpuk, seperti sampah plastik, yang diduga terbawa hingga ke laut. “Banyak nelayan saat menjaring, mendapatkan sampah plastik yang tersangkut ataupun sampah kain,” ujarnya.

Kondisi di aktivitas tambak saat ini, petani harus berhenti melakukan pembibitan. Hal itu dikarenakan, kualitas air baik dari laut ataupun dari Kali CBL buruk karena tercemar. “Kasihan nelayan, mencari ikan sekarang harus ke tengah agar mendapatkan tangkapan maksimal, hal itu tentu menambah cost seperti bensin dan lainnya. karena berharap mendapat tangkapan di pinggiran laut sudah tidak ada harapan, lagi saat ini,” jelas Zainal.

Data di 2018 lalu, pendapatan nelayan menurun dibanding 2017. Dulu, sekali turun melaut, nelayan bisa mendapatkan pendapatan Rp800 ribu. Sekarang, sekali melaut hanya mendapat Rp200 ribu. Dampak tersebut dikarenakan, aktivitas mereka berada di kawasan industri. “DKP, Kabupaten Bekasi tidak diam, dengan kondisi yang ada saat ini, sudah melakukan koordinasi dan melaporkan kepada pihak berwenangan soal limbah yang ada di laut dan Kali CBL,” tegasnya.

Masyarakat nelayan diminta bersabar. Semua ingin membersihkan air agar tidak ada limbah. “Tunggu tindakan nyata dari instansi terkait soal masalah limbah,” pungkasnya.

Lihat juga...